Musik Indonesia Dibawa ke 3 Kota Eropa, Fadli Zon Soroti Diplomasi Budaya
Tim langit 7
Kamis, 20 Agustus 2026 - 08:51 WIB
(Dok: Istimewa)
LANGIT7.ID-Jakarta; Sebagai upaya memperkuat diplomasi budaya dan memperluas jangkauan musik Indonesia di level internasional, Kementerian Kebudayaan mendukung penyelenggaraan “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia”.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya saat menghadiri acara Taklimat Media “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia” yang berlangsung di Music Lounge, Plaza Senayan, Jakarta, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan dalam mendorong pemajuan kebudayaan nasional, khususnya dalam memperkenalkan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Hal ini turut diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan seni, termasuk seni musik, sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
“Budaya kita yang mega cultural diversity, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, merupakan ekspresi kebudayaan kita yang luar biasa. Dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, salah satunya musik, patut kita apresiasi. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini akan ami terus dukung dengan sekemampuan kita tentu bersama,” ungkap Menbud Fadli Zon, Kamis (20/8/2026).
Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia adalah rangkaian pertunjukan musik yang menghadirkan Tantowi Yahya dan Thomshell Band di tiga kota di Eropa. Rangkaian pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan musik dan budaya Indonesia sekaligus membuka ruang kolaborasi dan jejaring bagi para pelaku musik Indonesia di tingkat global.
Rangkaian pertunjukan akan diselenggarakan di Oslo, Norwegia, pada 24 Agustus; Santa Susanna, Spanyol, pada 28 dan 31 Agustus serta 1 September; dan Den Haag, Belanda, pada 4 September 2026. Dalam pertunjukan ini, mereka akan membawakan lagu-lagu daerah Indonesia yang dipadukan dengan narasi cerita tentang kebudayaan Nusantara.Tantowi Yahya menyampaikan bahwa rangkaian tur ini menyasar masyarakat Eropa sebagai audiens utama, sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat internasional yang mengenal keberagaman budaya Indonesia melalui musik. Keberagaman karakter musik tersebut akan diperkenalkan melalui tiga lagu yang merepresentasikan kekayaan musikal Indonesia dari berbagai wilayah.
“Kekayaan musik daerah Indonesia dapat dilihat dari tiga wilayah berdasarkan zona waktu, yakni Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur, yang masing-masing memiliki karakter musikal berbeda akibat pertemuan dengan berbagai pengaruh budaya. Musik Indonesia bagian Barat banyak mendapat pengaruh budaya Islam dan Melayu yang terlihat dari penggunaan instrumen seperti gambus, mandolin, dan biola serta karakter vokal dengan cengkok yang khas. Sementara itu, wilayah Tengah kuat dipengaruhi tradisi Jawa dan keraton dengan penggunaan tangga nada pentatonis seperti slendro, sedangkan wilayah Timur memiliki karakter musik yang kuat dengan pengaruh budaya Pasifik dan kehidupan masyarakat pesisir. Itulah kehebatan Indonesia,” ujar Tantowi.
Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon berpendapat bahwa pertunjukan musik di tingkat internasional tidak hanya menjadi sarana diplomasi budaya, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penguatan ekosistem musik Indonesia. Eksposur di panggung dunia dinilai dapat meningkatkan daya saing musisi, memperluas akses terhadap pasar dan jejaring internasional, serta membuka peluang ekonomi dan kerja sama yang lebih luas bagi para pelaku musik.
Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, dalam sambutannya saat menghadiri acara Taklimat Media “Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia” yang berlangsung di Music Lounge, Plaza Senayan, Jakarta, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut sejalan dengan misi Kementerian Kebudayaan dalam mendorong pemajuan kebudayaan nasional, khususnya dalam memperkenalkan kekayaan dan keberagaman budaya Indonesia kepada masyarakat internasional. Hal ini turut diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan seni, termasuk seni musik, sebagai salah satu Objek Pemajuan Kebudayaan (OPK).
“Budaya kita yang mega cultural diversity, dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas sampai Pulau Rote, merupakan ekspresi kebudayaan kita yang luar biasa. Dari 10 Objek Pemajuan Kebudayaan, salah satunya musik, patut kita apresiasi. Oleh karena itu, kegiatan seperti ini akan ami terus dukung dengan sekemampuan kita tentu bersama,” ungkap Menbud Fadli Zon, Kamis (20/8/2026).
Strings of Equator: A Musical Journey to Indonesia adalah rangkaian pertunjukan musik yang menghadirkan Tantowi Yahya dan Thomshell Band di tiga kota di Eropa. Rangkaian pertunjukan ini menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kekayaan musik dan budaya Indonesia sekaligus membuka ruang kolaborasi dan jejaring bagi para pelaku musik Indonesia di tingkat global.
Rangkaian pertunjukan akan diselenggarakan di Oslo, Norwegia, pada 24 Agustus; Santa Susanna, Spanyol, pada 28 dan 31 Agustus serta 1 September; dan Den Haag, Belanda, pada 4 September 2026. Dalam pertunjukan ini, mereka akan membawakan lagu-lagu daerah Indonesia yang dipadukan dengan narasi cerita tentang kebudayaan Nusantara.Tantowi Yahya menyampaikan bahwa rangkaian tur ini menyasar masyarakat Eropa sebagai audiens utama, sehingga diharapkan semakin banyak masyarakat internasional yang mengenal keberagaman budaya Indonesia melalui musik. Keberagaman karakter musik tersebut akan diperkenalkan melalui tiga lagu yang merepresentasikan kekayaan musikal Indonesia dari berbagai wilayah.
“Kekayaan musik daerah Indonesia dapat dilihat dari tiga wilayah berdasarkan zona waktu, yakni Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur, yang masing-masing memiliki karakter musikal berbeda akibat pertemuan dengan berbagai pengaruh budaya. Musik Indonesia bagian Barat banyak mendapat pengaruh budaya Islam dan Melayu yang terlihat dari penggunaan instrumen seperti gambus, mandolin, dan biola serta karakter vokal dengan cengkok yang khas. Sementara itu, wilayah Tengah kuat dipengaruhi tradisi Jawa dan keraton dengan penggunaan tangga nada pentatonis seperti slendro, sedangkan wilayah Timur memiliki karakter musik yang kuat dengan pengaruh budaya Pasifik dan kehidupan masyarakat pesisir. Itulah kehebatan Indonesia,” ujar Tantowi.
Lebih lanjut, Menbud Fadli Zon berpendapat bahwa pertunjukan musik di tingkat internasional tidak hanya menjadi sarana diplomasi budaya, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap penguatan ekosistem musik Indonesia. Eksposur di panggung dunia dinilai dapat meningkatkan daya saing musisi, memperluas akses terhadap pasar dan jejaring internasional, serta membuka peluang ekonomi dan kerja sama yang lebih luas bagi para pelaku musik.