Percikan Permenungan: Jalan Suluh Muktamar Tambakberas
Tim langit 7
Senin, 24 Agustus 2026 - 07:55 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Wahyu Muryadi
LANGIT7.ID-Sarung berkelebat, aroma tembakau kretek mengasapi obrolan remeh nan jenaka di warung kopi darurat. Ada luapan kegembiraan pada ribuan orang dari pelosok terjauh yang datang berbus-bus. Mereka tidur di emperan masjid, dan mencari apa yang mereka sebut ngalap berkah, ikhtiar mendapatkan keberkahan dari Sang Maha Pencipta.
Sejatinya merekalah kaum nahdliyin yang otentik. Di bawah tenda muktamar, kita temukan komunitas kultural yang cair, intim dan boleh jadi jujur, dan tak punya tuntutan muluk-muluk kepada dunia yang fana ini. Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau, bergambar temali dan bola dunia berkibar di tengah pasar malam yang hangat.
Pasar malam diramaikan para pedagang kitab, penjual kopiah, reuni alumni pesantren, serta canda tawa kaum santri yang datang dari pelosok terjauh republik. Bagi mereka, muktamar adalah ruang silaturahmi, tempat ingatan kolektif dirawat dengan tawa dan doa yang tulus.
Setelah seabad lebih waktu bergulir sejak dilahirkan, NU bagaikan sebuah mata air yang mengalir tenang dari hulu tradisi santri. Membasahi retakan tanah Jawa yang kerontang akibat kolonialisme. Menyediakan ruang berteduh bagi apa saja yang lokal, jelata, dan berpijak di bumi Nusantara.
Mata air itu kini telah menjelma menjadi telaga raksasa yang menampung jutaan kepala. Di tepian telaga yang mahaluas itulah, orang berkumpul kembali dalam sebuah ritus berkala yang sakral namun mendebarkan bernama muktamar.
Sejarah tak selalu berjalan di atas garis lempeng. Muktamar ternyata bisa berubah menjadi mata air yang tegang. Di kamar hotel yang dingin dan berjarak dari debu jalanan, sebuah wajah yang lain muncul ke permukaan. Wajah jamâiyah sebagai sebuah mesin birokrasi dan organisasi yang luar biasa raksasa.
LANGIT7.ID-Sarung berkelebat, aroma tembakau kretek mengasapi obrolan remeh nan jenaka di warung kopi darurat. Ada luapan kegembiraan pada ribuan orang dari pelosok terjauh yang datang berbus-bus. Mereka tidur di emperan masjid, dan mencari apa yang mereka sebut ngalap berkah, ikhtiar mendapatkan keberkahan dari Sang Maha Pencipta.
Sejatinya merekalah kaum nahdliyin yang otentik. Di bawah tenda muktamar, kita temukan komunitas kultural yang cair, intim dan boleh jadi jujur, dan tak punya tuntutan muluk-muluk kepada dunia yang fana ini. Bendera Nahdlatul Ulama berwarna hijau, bergambar temali dan bola dunia berkibar di tengah pasar malam yang hangat.
Pasar malam diramaikan para pedagang kitab, penjual kopiah, reuni alumni pesantren, serta canda tawa kaum santri yang datang dari pelosok terjauh republik. Bagi mereka, muktamar adalah ruang silaturahmi, tempat ingatan kolektif dirawat dengan tawa dan doa yang tulus.
Setelah seabad lebih waktu bergulir sejak dilahirkan, NU bagaikan sebuah mata air yang mengalir tenang dari hulu tradisi santri. Membasahi retakan tanah Jawa yang kerontang akibat kolonialisme. Menyediakan ruang berteduh bagi apa saja yang lokal, jelata, dan berpijak di bumi Nusantara.
Mata air itu kini telah menjelma menjadi telaga raksasa yang menampung jutaan kepala. Di tepian telaga yang mahaluas itulah, orang berkumpul kembali dalam sebuah ritus berkala yang sakral namun mendebarkan bernama muktamar.
Sejarah tak selalu berjalan di atas garis lempeng. Muktamar ternyata bisa berubah menjadi mata air yang tegang. Di kamar hotel yang dingin dan berjarak dari debu jalanan, sebuah wajah yang lain muncul ke permukaan. Wajah jamâiyah sebagai sebuah mesin birokrasi dan organisasi yang luar biasa raksasa.