home masjid

Rahasia Perumpamaan Nyamuk dalam Al-Qur'an dan Ujian Keimanan

Senin, 24 Agustus 2026 - 08:41 WIB
Rahasia Perumpamaan Nyamuk dalam Al-Qur'an dan Ujian Keimanan
Al-Qur'an kerap menggunakan makhluk kecil seperti nyamuk, lalat, hingga laba-laba sebagai perumpamaan (amtsāl). Penggunaan makhluk berskala kecil ini sempat memicu pertanyakan dari kaum Yahudi, musyrik, maupun munafik yang meragukan relevansi penyebutan makhluk tersebut dalam firman Allah ﷻ.

۞ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَسْتَحْىِۦٓ أَن يَضْرِبَ مَثَلًۭا مَّا بَعُوضَةًۭ فَمَا فَوْقَهَا ۚ فَأَمَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّهِمْ ۖ وَأَمَّا ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ فَيَقُولُونَ مَاذَآ أَرَادَ ٱللَّهُ بِهَٰذَا مَثَلًۭا ۘ يُضِلُّ بِهِۦ كَثِيرًۭا وَيَهْدِى بِهِۦ كَثِيرًۭا ۚ وَمَا يُضِلُّ بِهِۦٓ إِلَّا ٱلْفَٰسِقِينَ

Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. Adapun orang-orang yang beriman, maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan ini untuk perumpamaan?". Dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. Dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik, (QS Al-Baqarah: 26).

Melalui Surah Al-Baqarah ayat 26, Allah ﷻ menegaskan prinsip retorika ilahi bahwa kebenaran sebuah pesan tidak ditentukan oleh keagungan objek yang dijadikan perumpamaan, melainkan pada hikmah di baliknya.

Para mufasir memetakan sebab turunnya (asbāb an-nuzūl) ayat ini ke dalam dua riwayat utama. Imam Al-Baghawi mencatat riwayat dari Al-Suddi bahwa ketika Allah ﷻ membuat perumpamaan tentang lalat dalam Surah Al-Hajj ayat 73 dan sarang laba-laba dalam Surah Al-Ankabut ayat 41, kaum Yahudi dan musyrik mencibir dan mempertanyakan maksud penyebutan makhluk yang mereka anggap hina tersebut.

Sementara itu, Imam At-Tabari dan Ibnu Katsir merujuk pada keberatan kaum munafik atas perumpamaan nyala api dan hujan lebat yang tercantum pada ayat-ayat awal Surat Al-Baqarah.Secara kebahasaan, penggalan "Innahāllāha lā yastahyī an yaḍriba matsalan mā baʿūḍatan famā fawqahā" mengandung makna bahwa Allah ﷻ tidak enggan atau terhalang untuk membuat perumpamaan dari seekor nyamuk (baʿūḍah) maupun yang lebih kecil darinya (famā fawqahā).

Al-Baghawi menjelaskan bahwa baʿūḍah mengacu pada jenis serangga kecil. Adapun frasa famā fawqahā, sebagaimana ditafsirkan oleh Abu Ubaidah, dapat bermakna "yang lebih kecil atau rendah ukurannya", menegaskan bahwa makhluk sekecil apa pun memiliki nilai edukatif dalam penyampaian risalah.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya