home edukasi & pesantren

Hebat, Tim Hydromodelling dan Arkana ITS Sabet Juara Internasional Desain Kapal

Rabu, 26 Agustus 2026 - 06:20 WIB
Tim riset gabungan Hydromodelling dan Arkana ITS yang berhasil membawa pulang Juara 2 pada kompetisi Dr James A Lisnyk Student Ship Design Competition 2026. (Dok: ITS)
LANGIT7.ID-Surabaya; Kolaborasi tim riset Hydromodelling dan Arkana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) berhasil membawa pulang gelar Juara 2 di ajang Dr James A Lisnyk Student Ship Design Competition 2026. Dalam kompetisi bertaraf internasional yang diselenggarakan oleh The Society of Naval Architects & Marine Engineers (SNAME) yang bermarkas di Amerika Serikat (AS) ini, tim riset ITS tersebut membawakan inovasi desain kapal ramah lingkungan.

Staf Ahli Divisi Desain Tim Hydromodelling ITS Farizha Habibie menyampaikan bahwa perlombaan yang dihelat secara daring ini berlangsung sejak Maret hingga Juni 2026. Sedangkan pengumuman pemenangnya yang juga secara daring dilaksanakan pada 15 Agustus 2026 lalu. Setelah pengumuman, nantinya para pemenang diundang untuk melakukan presentasi langsung sekaligus penyerahan penghargaan (awarding) di SNAME Maritime Conference (SMC), AS pada 28-30 Oktober 2026 mendatang.

Dalam kompetisi ini, menurut Farizha, peserta tidak hanya diminta untuk membuat desain kapal yang inovatif secara teori. Tetapi juga harus tetap praktis dan feasible agar peserta benar-benar menerapkan ilmu naval architecture yang dipelajari di bangku kuliah. “Inovasi yang diusulkan juga harus bisa diterapkan pada desain kapal dan dibuktikan lewat perhitungan,” paparnya.

Kapal yang didesain untuk mendukung operasi lepas pantai dan laut dalam ini memiliki length of perpendicular 90 meter, lebar 20 meter, tinggi 8 meter, dan sarat air 6,4 meter. Lebih lanjut, kapal dengan kecepatan dinas (saat bertugas membawa beban) 14 knot ini memiliki total bobot mati 4.000 ton dan kapasitas muatan mencapai 3.600 metrik ton. Dengan area berlayar yang disimulasikan di perairan Natuna, kapal ini dapat membawa modul struktur bawah laut, logistik rig, peralatan inspeksi dan perbaikan pipa, serta fluida pengeboran.

Meskipun masih sulit diterapkan pada kapal, inovasi utama pada Kapal Flying Dutchman adalah hybrid fuel engine dengan hidrogen. Hidrogen bertekanan tinggi dialirkan langsung ke mesin dual-fuel untuk dibakar dan memutar generator listrik. Listrik yang dihasilkan menjadi sumber tenaga bagi motor propulsi azimuth thruster dan seluruh peralatan misi bawah kapal. “Melalui integrasi hidrogen ini, kapal dapat beroperasi 12-20 hari di Natuna dan emisi karbon mendekati nol,” ungkapnya.

Tak hanya itu, guna meminimalkan hambatan kapal dan menambahkan stabilitas, kapal ini menggunakan bentuk lambung kapal X-bow. Kapal ini juga memakai material komposit Carbon Fiber Reinforced Polymer (CFRP) pada struktur atas untuk memangkas bobot di bagian atas kapal, agar stabilitasnya jauh lebih baik dan tahan terhadap korosi air laut. “Inovasi ini menjawab owner requirements karena sesuai standar resmi dan data perhitungan yang valid,” ucapnya.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya