KH Yusuf Aman: NU Harus Jadi Lokomotif Peradaban Islam Abad Ke-21
Ahmad zuhdi
Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:33 WIB
KH Yusuf Aman: NU Harus Jadi Lokomotif Peradaban Islam Abad Ke-21
Nahdlatul Ulama (NU) merupakan organisasi keagamaan yang didirikan oleh para ulama kharismatik, di antaranya sosok yang warak, Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Setiap kali Muktamar digelar, perhelatan ini selalu membuahkan berbagai kemaslahatan, mulai dari evaluasi masa khidmat lima tahun terakhir, perumusan program strategis lima tahun mendatang, hingga penerbitan rekomendasi terkait isu keumatan.
Sementara itu, kemanfaatan utama dari Muktamar ke-35 NU bagi warga Nahdliyin adalah merumuskan peta jalan (roadmap) organisasi untuk 25 tahun ke depan, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta konsolidasi antar-warga Nahdliyin dari penjuru tanah air. Hal tersebut dipaparkan oleh Dr KH Yusuf Aman MA, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dilansir Nasional Pos Sabtu (29/8/2026).
"Muktamar ke-35 bukan sekadar forum suksesi kepemimpinan, melainkan ujian apakah organisasi kumpulan ulama ini mampu menjaga integritas moral di tengah dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat," ungkap kiai Yusuf Aman, yang juga mengemban amanah sebagai Mustasyar PCNU Jakarta Pusat.
Menurut pengamatannya, sejak bergulirnya era Reformasi hingga saat ini, NU dinilai konsisten dalam memelihara keseimbangan antara tradisi keislaman dengan dinamika politik modern.Oleh sebab itu, perhelatan Muktamar ke-35 NU tidak boleh dipandang sebatas agenda pergantian pimpinan organisasi semata. Forum ini menjadi pijakan krusial dalam menentukan arah peradaban umat dan bangsa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
"Tentunya, saya sebagai warga Nahdliyyin sangat berharap Muktamar NU ke-35 sudah semestinya melampaui agenda rutin organisasi. NU perlu melahirkan cetak biru (blueprint) besar menuju 2045," tutur mantan Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Atas dasar itulah, Yusuf Aman menambahkan, NU dituntut untuk secara serius menggarap agenda transformasi digital serta kecerdasan buatan (AI). Generasi Gen Z dan Alfa kini tumbuh dalam ruang algoritma yang memengaruhi pola otoritas keagamaan, sehingga NU harus hadir sebagai pelopor perumusan etika AI berbasis Islam Nusantara di lingkungan pesantren maupun perguruan tinggi.
"Saya juga berharap agar dalam Muktamar ke-35 ini menghasilkan keputusan strategis mengenai langkah NU masuk dalam percakapan global mengenai teknologi, etika digital, dan masa depan kemanusiaan," tuturnya.
Sementara itu, kemanfaatan utama dari Muktamar ke-35 NU bagi warga Nahdliyin adalah merumuskan peta jalan (roadmap) organisasi untuk 25 tahun ke depan, sekaligus mempererat tali silaturahmi serta konsolidasi antar-warga Nahdliyin dari penjuru tanah air. Hal tersebut dipaparkan oleh Dr KH Yusuf Aman MA, Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta, dilansir Nasional Pos Sabtu (29/8/2026).
"Muktamar ke-35 bukan sekadar forum suksesi kepemimpinan, melainkan ujian apakah organisasi kumpulan ulama ini mampu menjaga integritas moral di tengah dinamika kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat," ungkap kiai Yusuf Aman, yang juga mengemban amanah sebagai Mustasyar PCNU Jakarta Pusat.
Menurut pengamatannya, sejak bergulirnya era Reformasi hingga saat ini, NU dinilai konsisten dalam memelihara keseimbangan antara tradisi keislaman dengan dinamika politik modern.Oleh sebab itu, perhelatan Muktamar ke-35 NU tidak boleh dipandang sebatas agenda pergantian pimpinan organisasi semata. Forum ini menjadi pijakan krusial dalam menentukan arah peradaban umat dan bangsa menuju cita-cita Indonesia Emas 2045.
"Tentunya, saya sebagai warga Nahdliyyin sangat berharap Muktamar NU ke-35 sudah semestinya melampaui agenda rutin organisasi. NU perlu melahirkan cetak biru (blueprint) besar menuju 2045," tutur mantan Wakil Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta.
Atas dasar itulah, Yusuf Aman menambahkan, NU dituntut untuk secara serius menggarap agenda transformasi digital serta kecerdasan buatan (AI). Generasi Gen Z dan Alfa kini tumbuh dalam ruang algoritma yang memengaruhi pola otoritas keagamaan, sehingga NU harus hadir sebagai pelopor perumusan etika AI berbasis Islam Nusantara di lingkungan pesantren maupun perguruan tinggi.
"Saya juga berharap agar dalam Muktamar ke-35 ini menghasilkan keputusan strategis mengenai langkah NU masuk dalam percakapan global mengenai teknologi, etika digital, dan masa depan kemanusiaan," tuturnya.