Keluar Dari Jebakan Negara Berpendapatan Menengah
Tim langit 7
Senin, 31 Agustus 2026 - 05:23 WIB
(Dok: Istimewa)
Oleh: Prof Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Salah satu masalah kita adalah gejala atau tanda terjebak sebagai negara berpendapatan menengah atau gagal melaju menuju negara maju. Yaitu suatu negara yang memiliki income perkapita 14 000 USD per tahun. Sementara kita masih berada pada 5500 USD masih jauh untuk menuju kepada negara maju.
Angka 14000 USD ke depan juga makin tinggi sejalan dengan kenaikan harga, sementara angka pendapatan perkapita tentu juga naik dengan adanya pertumbuhan ekonomi di sekitar 5 dan 6 persen. Oleh sebab itu untuk menjadi negara maju diperlukan adanya lompatan pertumbuhan ekonomi di sekitar 10 persen dalam waktu yang panjang. Setelah pendapatan negara menjadi tinggi, industri industri sudah tertanam dengan teknologi, pertumbuhan tentu melandai tetapi standar hidup masyarakat sudah tinggi dan kemiskinan absolut sudah bisa dikatakan menghilang.
Wujud dari negara terjebak oleh pendapatan menengah adalah upah yang relatif tinggi untuk bersaing dengan negara miskin, tetapi produktivitas terlalu rendah untuk bersaian dengan negara maju. Akibatnya negara tersebut menjadi mandek atau stagnan pada posisinya. Dengan adanya sistem upah minimum regional atau kota yang meningkat setiap tahun, hanya sebagian kecil industri yang bisa memenuhi sementara mayoritas dunia usaha tidak bisa memenuhi UMR atau UMK tersebut. Akibatnya kemajuan di negara tersebut hanya terjadi pada ceruk kecil atau enclave. Sementara rakyat mayoritas menjadi penonton.
Upah terlalu tinggi tidak mungkin diturunkan, dunia perburuhan akan bergejolak dan demonstrasi besar besaran akan terjadi, pemerintah tidak mungkin berani menurunkan upah supaya daya tarik terhadap investasi meningkat. Satu satunya jalan adalah meningkatkan produktivitas. Dengan jalan apa meningkatkan produktivitas ? Tidak lain adalah meningkatkan teknologi.
Apakah teknologi itu - yang ternyata menjadi jalan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah? Teknologi adalah kemahiran tenaga kerja kita menggunakan alat. Bila seluruh tenaga kerja negara A dan negara B diberi laptop gratis, kedua negara akan menghasilkan produksi yang berbeda. Pada negara A laptop tersebut digunakan untuk pemrograman dan perancangan kerja berbasis kompetensinya dan di negara B katakanlah hanya untuk bermain game, mendengarkan musik, melihat video, dan paling tinggi berdagang yang prinsipnya hanya mengalihkan produk dan belum menciptakan produk.
Jadi setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan, apakah alat alat tersedia di negara itu untuk berproduksi yang tinggi? yaitu berupa prasarana yang menjadi tugas pemerintah, baik prasarana dasar seperti jalan raya dan sarana angkut, prasarana komunikasi terutama internet, dan prasarana pendidikan yaitu sekolah dan perguruan tinggi dan kursus kursus yang mampu mengubah SDM untuk menggunakan alat alat untuk berproduksi dan mampu bersaing. Kedua, adalah budaya kerja, diatas disebutkan negara A menggunakan laptopnya untuk berkarya dan negara B menggunakan laptopnya untuk konsumtif. Kita masih berbudaya sedikit kerja berkonsumsi tinggi. Dan malangnya hal ini masih merupakan budaya pemerintah sendiri. Dalam hal ini budaya kerja swasta masih lebih tinggi dan lebih baik. Sayangnya pemerintah lebih kuat mendikte swasta yang seharusnya pemerintah berguru kepada swasta. State drive economy atau kapitalisme negara seperti di China kelihatannya memberi inspirasi.
LANGIT7.ID-Salah satu masalah kita adalah gejala atau tanda terjebak sebagai negara berpendapatan menengah atau gagal melaju menuju negara maju. Yaitu suatu negara yang memiliki income perkapita 14 000 USD per tahun. Sementara kita masih berada pada 5500 USD masih jauh untuk menuju kepada negara maju.
Angka 14000 USD ke depan juga makin tinggi sejalan dengan kenaikan harga, sementara angka pendapatan perkapita tentu juga naik dengan adanya pertumbuhan ekonomi di sekitar 5 dan 6 persen. Oleh sebab itu untuk menjadi negara maju diperlukan adanya lompatan pertumbuhan ekonomi di sekitar 10 persen dalam waktu yang panjang. Setelah pendapatan negara menjadi tinggi, industri industri sudah tertanam dengan teknologi, pertumbuhan tentu melandai tetapi standar hidup masyarakat sudah tinggi dan kemiskinan absolut sudah bisa dikatakan menghilang.
Wujud dari negara terjebak oleh pendapatan menengah adalah upah yang relatif tinggi untuk bersaing dengan negara miskin, tetapi produktivitas terlalu rendah untuk bersaian dengan negara maju. Akibatnya negara tersebut menjadi mandek atau stagnan pada posisinya. Dengan adanya sistem upah minimum regional atau kota yang meningkat setiap tahun, hanya sebagian kecil industri yang bisa memenuhi sementara mayoritas dunia usaha tidak bisa memenuhi UMR atau UMK tersebut. Akibatnya kemajuan di negara tersebut hanya terjadi pada ceruk kecil atau enclave. Sementara rakyat mayoritas menjadi penonton.
Upah terlalu tinggi tidak mungkin diturunkan, dunia perburuhan akan bergejolak dan demonstrasi besar besaran akan terjadi, pemerintah tidak mungkin berani menurunkan upah supaya daya tarik terhadap investasi meningkat. Satu satunya jalan adalah meningkatkan produktivitas. Dengan jalan apa meningkatkan produktivitas ? Tidak lain adalah meningkatkan teknologi.
Apakah teknologi itu - yang ternyata menjadi jalan keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah? Teknologi adalah kemahiran tenaga kerja kita menggunakan alat. Bila seluruh tenaga kerja negara A dan negara B diberi laptop gratis, kedua negara akan menghasilkan produksi yang berbeda. Pada negara A laptop tersebut digunakan untuk pemrograman dan perancangan kerja berbasis kompetensinya dan di negara B katakanlah hanya untuk bermain game, mendengarkan musik, melihat video, dan paling tinggi berdagang yang prinsipnya hanya mengalihkan produk dan belum menciptakan produk.
Jadi setidaknya ada tiga hal yang perlu diperhatikan, apakah alat alat tersedia di negara itu untuk berproduksi yang tinggi? yaitu berupa prasarana yang menjadi tugas pemerintah, baik prasarana dasar seperti jalan raya dan sarana angkut, prasarana komunikasi terutama internet, dan prasarana pendidikan yaitu sekolah dan perguruan tinggi dan kursus kursus yang mampu mengubah SDM untuk menggunakan alat alat untuk berproduksi dan mampu bersaing. Kedua, adalah budaya kerja, diatas disebutkan negara A menggunakan laptopnya untuk berkarya dan negara B menggunakan laptopnya untuk konsumtif. Kita masih berbudaya sedikit kerja berkonsumsi tinggi. Dan malangnya hal ini masih merupakan budaya pemerintah sendiri. Dalam hal ini budaya kerja swasta masih lebih tinggi dan lebih baik. Sayangnya pemerintah lebih kuat mendikte swasta yang seharusnya pemerintah berguru kepada swasta. State drive economy atau kapitalisme negara seperti di China kelihatannya memberi inspirasi.