home masjid

Pelajaran Kerendahan Hati dan Kesempurnaan Ilmu Ilahi dalam Al-Baqarah Ayat 32

Rabu, 02 September 2026 - 15:31 WIB
Pelajaran Kerendahan Hati dan Kesempurnaan Ilmu Ilahi dalam Al-Baqarah Ayat 32
Surat Al-Baqarah ayat 32 mengabadikan dialog agung ketika para malaikat memberikan jawaban penuh kepatuhan setelah diuji oleh Allah mengenai nama-nama benda di alam semesta. Pengakuan jujur akan ketidakmampuan diri yang disampaikan para malaikat ini menjadi momen penting yang membedakan karakter ketundukan mereka dari sikap kesombongan dan pembangkangan Iblis.

قَالُوا۟ سُبْحَٰنَكَ لَا عِلْمَ لَنَآ إِلَّا مَا عَلَّمْتَنَآ ۖ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَلِيمُ ٱلْحَكِيمُ

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana". (QS. Al-Baqarah : 32).

Pernyataan diawali dengan pengucapan "Subḥānaka" yang berarti "Maha Suci Engkau" sebagai bentuk pensucian mutlak kepada Allah ﷻ dari segala bentuk kekurangan ilmu maupun perbuatan. Mengutip penjelasan Al-Biqāʿī, ungkapan pensucian tersebut menggambarkan pelepasan diri dari dugaan kepemilikan ilmu tanpa pengajaran dari-Nya, sekaligus menjadi permohonan maaf atas keliruan persepsi yang sempat terlintas sebelumnya.

Penafsiran mengenai kalimat ini juga diperkaya oleh pandangan Ibn ʿAbbās yang menyebutnya sebagai pensucian dari segala bentuk keburukan, serta penegasan ʿAlī bin Abī Ṭālib bahwa zikir tersebut merupakan ungkapan yang sangat dicintai dan diridhai Allah ﷻ. Sementara itu, ulama seperti Qatādah memaknai at-tasbīḥ dan at-taqdīs dalam konteks ini sebagai pelaksanaan ibadah salat.

Pada penggalan selanjutnya, pengakuan "Lā ʿilma lanā illā mā ʿallamtanā" menjadi penjelas bahwa makhluk sama sekali tidak memiliki jalan untuk mengetahui sesuatu melainkan atas pengajaran Allah ﷻ semata. Hakikat keterbatasan ilmu ini dipaparkan secara gamblang oleh Al-Shanqīṭī melalui kisah para nabi pilihan, seperti Nabi Yaʿqūb AS yang penglihatannya memutih akibat duka mendalam tanpa mengetahui keberadaan Yusuf di Mesir hingga Allah ﷻ menyingkapnya, serta Nabi Sulaymān AS yang tidak mengetahui kabar negeri Saba' sampai burung Hud-hud datang membawa berita tersebut.

Para malaikat menutup pengakuan mereka dengan mengagungkan dua nama Allah ﷻ yang maha agung, yaitu Al-ʿAlīm (Maha Mengetahui) dan Al-Ḥakīm (Maha Bijaksana). Abū Ḥayyān al-Gharnāṭī menjelaskan bahwa sifat ilmu Allah ﷻ berbeda secara mutlak dari ilmu hamba-Nya karena ilmu-Nya bersifat tunggal yang mencakup seluruh objek pengetahuan sekaligus, tidak berubah seiring perubahan objek, tidak bersumber dari pancaindra maupun pemikiran, tidak mungkin sirna, tidak terbatas, serta tidak pernah tersibukkan oleh satu pengetahuan dari pengetahuan lainnya. Penjelasan ini sekaligus menolak anggapan keliru yang menyatakan bahwa pengetahuan Allah ﷻ hanya berkaitan dengan hal-hal umum (kulliyāt) dan mengabaikan hal-hal terperinci (juzʾiyyāt).
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya