home masjid

Kajian Al-Baqarah Ayat 44: Bahaya Kontradiksi Ucapan dan Perbuatan

Rabu, 16 September 2026 - 06:15 WIB
Kajian Al-Baqarah Ayat 44: Bahaya Kontradiksi Ucapan dan Perbuatan
Ayat ke-44 dari Surat al-Baqarah merupakan bagian dari rangkaian seruan Allah ﷻ kepada Bani Israil yang dimulai sejak ayat 40, ketika Allah mengingatkan mereka akan nikmat-nikmat-Nya dan menuntut mereka memenuhi perjanjian. Dalam ayat ini, Allah mencela sikap kontradiktif para ulama Yahudi yang memerintahkan kebaikan kepada orang lain namun melupakan diri mereka sendiri, padahal mereka membaca kitab suci mereka.

۞ أَتَأْمُرُونَ ٱلنَّاسَ بِٱلْبِرِّ وَتَنسَوْنَ أَنفُسَكُمْ وَأَنتُمْ تَتْلُونَ ٱلْكِتَٰبَ ۚ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir? (QS. Al-Baqarah: 44).

Ayat ini penting karena menegaskan prinsip fundamental dalam dakwah: seorang yang menyeru kebaikan harus menjadi orang pertama yang mengamalkannya. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ayat ini datang setelah Allah memerintahkan mereka beriman kepada al-Qur'an, dan kemudian Allah mengingkari perbuatan mereka yang menyuruh orang lain melakukan apa yang mereka sendiri tinggalkan.

Pembahasan penggalan أَتَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبِرِّ diawali dengan bentuk istifhām (pertanyaan) yang bermakna inkārī (pengingkaran) dan tawbīkhī (pencelaan). Al-Ṭabarī menegaskan bahwa para ulama tafsir sepakat bahwa al-birr mencakup seluruh bentuk ketaatan kepada Allah, meskipun terdapat ikhtilaf mengenai makna spesifiknya dalam konteks ayat ini.

Riwayat dari Ibnu ʿAbbās menafsirkannya sebagai perintah untuk masuk ke dalam agama Nabi Muhammad ﷺ. Sementara itu, al-Baghawī menyebutkan bahwa ayat ini turun berkenaan dengan ulama Yahudi yang menyuruh kerabat serta sekutu Muslim mereka untuk tetap teguh mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ karena ajarannya benar, tetapi para ulama Yahudi itu sendiri tidak mau ikut beriman.

Ibnu Katsīr merangkum pendapat Qatādah dan Ibn Juraij yang menyatakan bahwa Ahli Kitab dan orang munafik biasa memerintahkan manusia untuk bertakwa, berpuasa, dan shalat, namun mereka sendiri menyelisihinya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya