home masjid

Makna Terbelahnya Laut Merah dan Kehancuran Firaun

Kamis, 24 September 2026 - 10:59 WIB
Makna Terbelahnya Laut Merah dan Kehancuran Firaun

Ayat ke-50 dari Surat Al-Baqarah merupakan kelanjutan dari deretan pengingat nikmat Allah ﷻ kepada Bani Israil.Jika ayat sebelumnya membahas penyelamatan dari kekejaman dan penindasan Firaun, ayat ini menyajikan peristiwa penyelamatan yang jauh lebih dahsyat melalui terbelahnya laut.

Kehadiran ayat inimenegaskan kekuasaan mutlak Allah ﷻ terhadap hukum alam, tetapi juga menjadi bukti otentik atas kerasulan Nabi Musa ﷺ. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa ayat ini berfungsi sebagai perincian (tafṣīl) dari bentuk keselamatan yang sebelumnya disampaikan secara umum, yaitu memperjelas mekanisme penyelamatan itu sendiri sebagai penghitungan nikmat.



Al-Ālūsī pun mengonfirmasi bahwa frasa pembelahan laut ini tersambung ('aṭaf) secara langsung dengan uraian pada ayat 49
. Di sisi lain, meskipun para mufasir seperti al-Rāzī dan Ibn Abī Ḥātim menyinggung latar belakang asbabun nuzul terkait mimpi Fir'aun tentang api dari Baitul Maqdis yang membakar Mesir, perincian peristiwa tersebut dikaji dalam pembahasan tersendiri.

Pembahasan ayat dimulai dengan penggalan yang berarti "Dan ingatlah ketika Kami belah laut untukmu". Menurut al-Ṭabarī, frasa ini merupakan sambungan dari ayat 49 yang mengandung perintah untuk senantiasa mengingat nikmat Allah ﷻ. Al-Ālūsī memberikan analisis kebahasaan yang mendalam mengenai kata farraqnā, di mana pemisahan dua hal dalam frasa ini dipadukan dengan makna al-syaqq atau membelah. Dengan demikian, pemisahan tersebut terjadi secara fisik dan nyata hingga membentuk lajur kering yang dapat dilintasi oleh Bani Israil, bukan sekadar air yang bergelombang atau terpisah secara semu.

Baca Juga:
Masjid-Masjid Inggris Buka Pintu untuk Publik, Warga Bisa Tanya Langsung soal Islam

Uraian dilanjutkan dengan penyelamatan Bani Israil serta penenggelaman Fir'aun beserta bala tentaranya. Sebagaimana ditafsirkan oleh al-Saʿdī, bagian ini menegaskan kembali karunia Allah ﷻ yang diberikan secara beriringan.Al-Biqāʿī melihat hikmah di balik rangkaian peristiwa ini, yaitu penghancuran kaum pria yang menjadi musuh dan pelestarian kaum wanita.Hal ini memperlihatkan dua sisi dari satu keadilan ilahi: pemberian keselamatan bagi hamba-Nya yang beriman dan penjatuhan hukuman bagi mereka yang berbuat zalim.

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya