ISPA Anak Meningkat, DPR: Respons Karhutla Harus Bergeser
Ahmad zuhdi
Senin, 28 September 2026 - 21:47 WIB
ISPA Anak Meningkat, DPR: Respons Karhutla Harus Bergeser
Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah memperkuat respons kesehatan di tengah meningkatnya kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia pada anak di sejumlah wilayah terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026, termasuk 26.545 kasus pada balita. Kondisi tersebut, menurut Netty, menunjukkan bahwa dampak karhutla sudah nyata dirasakan masyarakat dan membutuhkan respons kesehatan yang lebih terukur.
“Ketika jumlah kasus ISPA pada anak meningkat, kita tidak bisa lagi melihat karhutla hanya sebagai persoalan lingkungan. Ini sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan kesiapan layanan dan pelindungan kelompok rentan,” ujar Netty dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan puskesmas dan rumah sakit di daerah terdampak memiliki kesiapan menghadapi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan. Pemantauan tren penyakit juga penting untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan intervensi lebih cepat.
“Jangan menunggu fasilitas kesehatan penuh baru bertindak. Pemerintah harus membaca data kasus secara berkala dan memastikan tenaga kesehatan, obat-obatan serta layanan rujukan siap,” katanya.
Netty meminta pelindungan khusus diberikan kepada balita, anak dengan asma dan penyakit pernapasan, anak dengan penyakit jantung tertentu, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya.
Selain layanan kesehatan, menurut Netty, pelindungan anak di lingkungan sekolah juga harus disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.
Kementerian Kesehatan mencatat 113.336 kasus ISPA akibat karhutla hingga 9 September 2026, termasuk 26.545 kasus pada balita. Kondisi tersebut, menurut Netty, menunjukkan bahwa dampak karhutla sudah nyata dirasakan masyarakat dan membutuhkan respons kesehatan yang lebih terukur.
“Ketika jumlah kasus ISPA pada anak meningkat, kita tidak bisa lagi melihat karhutla hanya sebagai persoalan lingkungan. Ini sudah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan kesiapan layanan dan pelindungan kelompok rentan,” ujar Netty dalam keterangannya, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, pemerintah perlu memastikan puskesmas dan rumah sakit di daerah terdampak memiliki kesiapan menghadapi peningkatan pasien dengan gangguan pernapasan. Pemantauan tren penyakit juga penting untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan intervensi lebih cepat.
“Jangan menunggu fasilitas kesehatan penuh baru bertindak. Pemerintah harus membaca data kasus secara berkala dan memastikan tenaga kesehatan, obat-obatan serta layanan rujukan siap,” katanya.
Netty meminta pelindungan khusus diberikan kepada balita, anak dengan asma dan penyakit pernapasan, anak dengan penyakit jantung tertentu, ibu hamil, serta kelompok rentan lainnya.
Selain layanan kesehatan, menurut Netty, pelindungan anak di lingkungan sekolah juga harus disesuaikan dengan kondisi kualitas udara.