Peluang Investasi Data Center, Jangan Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali
Lusi mahgriefie
Ahad, 04 Oktober 2026 - 09:27 WIB
Peluang Investasi Data Center, Jangan Seperti Pelanduk Terperosok Dua Kali
Oleh: Prof Didik J.Rachbini
LANGIT7.ID-Indonesia dinilai layak sebagai negara tujuan investasi ketika tidak kurang dari investasi setara 360 trilyun rupiah berebut masuk ke Indonesia. Kawasan yang menjadi sasaran lokasi data center ini antar lain adalah Batam, Jawa Barat, Madura dan Bali. Perkembangan ini merupakan peluang emas, yang tidak boleh terperosok ke lubang yang sama pada tahun 1980-an kehilangan peluang emas investasi semi conductor.
Minat dan semangat investor sudah cukup jauh, pemerintah juga sudah dan mesti bersiap diri karena jumlah investasi ini sedemikian besar. Peluang ini akan menolong ketertinggalan Indonesia dalam menarik investasi dibadingkan dengan negara-negara sekitarnya. Pemerintah sudah mematok target investasi data center AI senilai Rp360 triliun untuk masuk ke Indonesia. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun ini menjadi pertimbangan investor karena setidaknya sudah ada 182 data center, yang berjalan di Indonesia. Iitu berarti Indonesia sudah layak menjalankan operasional teknologi canggih data center ini dimana mayoritas berada di Jakarta (94 unit) dan Batam (16 unit).
Khusus di Batam, rencana investasi data center diperkirakan bernilai US$15-20 miliar, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Batam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah 7 persen akan menjadi pusat pertumbuhan baru dengan pilar investasi data center ini.
Tetapi di Jawa Barat terjadi kisruh dimana pembangunan data center dihentikan sepihak oleh gubernur dengan berbagai alasan lingkungan hidup, pasokan air dan beragam alasan lainnya. Praktek kebijakan yang menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5 persen. Indonesia membutuhkan investasi yang besar dan peluang emas yang sedang hangat adalah kepercayaan investor untuk investasi data center di Indonesia. Di Jawa Barat peluang tersebut terganjal, yang kemungkinan bisa merusak iklim investasi.
Kita bisa menjadi pandir seperti pelanduk terperosok dua kali di lobang yang sama. Persis seperti yang dilakukan gubernur Jawa Barat pada saat ini, pemerintah pada tahun 1980-an membuat blunder “mengusir” peluang emas investasi semi conductor karena anti otomatisasi dengan alasan menyingkirkan tenaga kerja manusia. Blunder kebijakan tahun1980-an tersebut terjadi ketika raksasa teknologi dunia seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat mendirikan basis perakitan chip besar di Jakarta dan Bandung tetapi secara tidak langsung “diberangus” oleh pemerintah.
Pada pada tahun 1985, terjadi konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi, yang kemudian dimenangkan oleh aliran kuno ortodoks dengan membatasi otomatisasi dan memaksa penyerapan tenaga kerja manual kepada investor. Tentu saja kebijakan kuno seperti ini tidak cocok dengan ivestasi canggih mereka dan akhirnya hengkang ke Penang, Malaysia.
LANGIT7.ID-Indonesia dinilai layak sebagai negara tujuan investasi ketika tidak kurang dari investasi setara 360 trilyun rupiah berebut masuk ke Indonesia. Kawasan yang menjadi sasaran lokasi data center ini antar lain adalah Batam, Jawa Barat, Madura dan Bali. Perkembangan ini merupakan peluang emas, yang tidak boleh terperosok ke lubang yang sama pada tahun 1980-an kehilangan peluang emas investasi semi conductor.
Minat dan semangat investor sudah cukup jauh, pemerintah juga sudah dan mesti bersiap diri karena jumlah investasi ini sedemikian besar. Peluang ini akan menolong ketertinggalan Indonesia dalam menarik investasi dibadingkan dengan negara-negara sekitarnya. Pemerintah sudah mematok target investasi data center AI senilai Rp360 triliun untuk masuk ke Indonesia. Pengalaman Indonesia dalam beberapa tahun ini menjadi pertimbangan investor karena setidaknya sudah ada 182 data center, yang berjalan di Indonesia. Iitu berarti Indonesia sudah layak menjalankan operasional teknologi canggih data center ini dimana mayoritas berada di Jakarta (94 unit) dan Batam (16 unit).
Khusus di Batam, rencana investasi data center diperkirakan bernilai US$15-20 miliar, dengan target kapasitas nasional sekitar 1,3 gigawatt. Batam dengan tingkat pertumbuhan ekonomi daerah 7 persen akan menjadi pusat pertumbuhan baru dengan pilar investasi data center ini.
Tetapi di Jawa Barat terjadi kisruh dimana pembangunan data center dihentikan sepihak oleh gubernur dengan berbagai alasan lingkungan hidup, pasokan air dan beragam alasan lainnya. Praktek kebijakan yang menyebabkan iklim investasi rusak seperti ini menjadi kendala besar bagi masa depan perekonomian, yang sekarang terhenti bertumbuh moderat 5 persen. Indonesia membutuhkan investasi yang besar dan peluang emas yang sedang hangat adalah kepercayaan investor untuk investasi data center di Indonesia. Di Jawa Barat peluang tersebut terganjal, yang kemungkinan bisa merusak iklim investasi.
Kita bisa menjadi pandir seperti pelanduk terperosok dua kali di lobang yang sama. Persis seperti yang dilakukan gubernur Jawa Barat pada saat ini, pemerintah pada tahun 1980-an membuat blunder “mengusir” peluang emas investasi semi conductor karena anti otomatisasi dengan alasan menyingkirkan tenaga kerja manusia. Blunder kebijakan tahun1980-an tersebut terjadi ketika raksasa teknologi dunia seperti Fairchild Semiconductor, National Semiconductor, dan Monsanto sempat mendirikan basis perakitan chip besar di Jakarta dan Bandung tetapi secara tidak langsung “diberangus” oleh pemerintah.
Pada pada tahun 1985, terjadi konflik kebijakan mengenai otomatisasi produksi, yang kemudian dimenangkan oleh aliran kuno ortodoks dengan membatasi otomatisasi dan memaksa penyerapan tenaga kerja manual kepada investor. Tentu saja kebijakan kuno seperti ini tidak cocok dengan ivestasi canggih mereka dan akhirnya hengkang ke Penang, Malaysia.