home wirausaha syariah

Reaksi Pasar atas Konstelasi Politik

Senin, 05 Oktober 2026 - 07:02 WIB
Reaksi Pasar atas Konstelasi Politik
Oleh: Prof Dr Bambang Setiaji

LANGIT7.ID-Resuffle kabinet ke tujuh dan sidang atas persyaratan wapres tidak menjadi shock yang penting minggu ini, pasar tidak bereaksi. IHSG justrtu tururn 1,02 persen ke 6.0009 sehari setelah diumumkan dan segera kembali, rupiah sedikit melemah 0,4 persen, investor asing bahkan masih melakukan net sell, treasury bill T Bill pemerintah AS dengan bunga tinggi di atas 5 persen tentu menyedot uang panas yang bergentayangan di berbagai pasar global.Apakah pasar bisa menjadi bebal? Mungkin saja, karena pasar tidak melihat adanya tujuan ekonomi, melainkan shock politik kecil yang tidak akan mengguncang koalisi yang kuat dan besar. Sebelumnya menteri keuangan yang seharusnya berperan sangat besar diganti mendadak, pasar juga tidak terlihat beraksi berlebihan.

Seandainya mas wapres harus berganti tentu saja menjadi berita besar, dan hal ini merupakan peristiwa sejarah yang besar, akan dikenang sebagai hal pahit. Tetapi bagimanapun hal tersebut bukan perubahan besar, koalisi yang kuat akan bekerja dan berpusar sebagaimana biasa. Mas wapres belum merupakan simbol pemersatu pergerakan anak muda. Anomali ini terjadi karena kedatangannya dari atas.

Pasar menyadari pengaruh presiden yang sangat dominan dalam memberi arah program dan belanja pemerintah. Boleh dikatakan sebenarnya bahwa koalisi yang ada membuat stabil, tetapi sayangnya stabil pada putaran ekonomi yang kurang kencang. Para pelaku ekonomi terutama UMKM yang merupakan urat nadi mayoritas ekonomi bangsa mengatakan dalam tiga bulan ini semakin lesu.

Pasar yang riil untuk ekonomi Indonesia adalah pasar yang dihadapi oleh rakyat. Pasar saham dan pasar uang masih terlalu elitis dan kurang berdampak besar kepada ekonomi dalam di sektor aktifitas yang memberi pekerjaan umum. Rakyat tidak punya uang – belum berubah dan merupakan hal yang stabil, ekonomi tumbuh pada pusaran di atas, pada sektor sektor besar, pada pelaku pelaku oligopoli nasional, pertumbuhan kembali atau dinikmati oleh oligarki.

MBG di atas kertas akan meningkatkan permintaan berbagai bahan mestinya memberi harapan UMKM, tetapi kelihatannya pertambahan permintaan atas MBG merupakan kompensasi pengurangan permintaan agregat, sehingga bisa dibayangkan interaksi permintaan penawaran agregat tetap pada posisinya. Bagaimanapun ekonomi Indonesia masih tumbuh di atas 5 persen, tetapi pertumbuhan diduga di pusaran atas, tidak atau belum merupakan pusaran besar.

Pada kelompok terdidik misalnya lulusan perguruan tinggi, masih terasa lowongan untuk pekerjaan yang memberi upah tinggi sangat kurang dan pelamar membeludak. Problem utama ini tidak tersentuh, lowongan pekerjaan masih ada silih berganti tetapi pada sektor berupah rendah, mungkin berupa percobaan percobaan membuka lapangan usaha yang kemudian redup atau gagal. Sektor start up yang penting adalah percobaan membuka rumah makan, dan akhir akhir ini industri kimia misalnya berbagai kebutuhan kosmetik dan pembersih.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya