home community

Peace, Love, and Gaul ala Teras Dakwah: Kajian Sambil Leyeh-Leyeh

Kamis, 15 Juli 2021 - 23:11 WIB
Sudah tujuh tahun teras ini menjadi basis dakwah anak-anak muda Yogyakarta yang kelak dinisbatkan sebagai nama lembaga Teras Dakwah. Foto: Dok. Teras Dakwah
Suatu sore yang tenang di Yogyakarta, puluhan pemuda-pemudi mendatangi sebuah rumah yang terletak di Jalan Nitikan UH/413. Kedatangan mereka bukan bertamu atau sekadar nongkrong di rumah kawan, melainkan hendak membedah sebuah buku setebal 550 halaman tentang pemberontakan komunisme di tanah air.

Meskipun dandanan mereka tampak digaul-gaulkan seperti pemuda pada umumnya, masyarakat pasti mengenali bahwa mereka adalah pemuda-pemudi Islami dengan wajah bersih dan tenang, jenggot tipis, dan busana rapih. Sementara pemudinya kebanyakan mengenakan jilbab lebar. Senyum, salam, sapa sudah menjadi ciri khas mereka saat bertemu satu sama lain.

Buku yang akan dibedah sore itu berjudul Dari Kata Menjadi Senjata: Konfrontasi Umat Islam dengan Umat Islam. Sebuah tema yang amat jarang sekali dibahas dalam kajian-kajian ‘konvensional’.

Di teras rumah, mereka mendengarkan pembicara dengan santai sambil menikmati cemilan yang disuguhkan. Pembicara yang juga penulis buku tersebut masih sangat muda. Namun mampu menghasilkan tulisan yang cukup komprehensif tentang gerakan komunisme di tanah air dan persinggungannya dengan masyarakat Islam.

Aku mendengarkan kajian sambil leyeh-leyeh di perosotan yang berada di samping teras. Perosotan untuk anak-anak bermain itu sudah nampak lusuh di bagian cat, tapi masih kuat. Bagian bawahnya diberi alas rumput sintetis agar empuk. Sesekali menatap layar proyektor yang menampilkan slide materi pembicara, mencatat, dan memotret.

“Kalau mau ngopi-ngopi, di samping ada kafe kita, Mas,” kata salah seorang pengurus sambil menunjuk sebuah kafe kecil di samping pintu masuk. Kafe itu beroperasi secara komersil dengan menjual kopi yang sedang hits di kalangan anak muda. Namun sewaktu-waktu, pengurus bisa menyajikan bergelas-gelas kopi secara gratis untuk menambah gairah pemuda-pemudi yang sedang mengaji.

Sudah tujuh tahun teras ini menjadi basis dakwah anak-anak muda Yogyakarta yang kelak ‘dinisbatkan’ sebagai nama lembaga “Teras Dakwah”. Hampir setiap pekan, pemuda-pemudi di Kota Pelajar berkumpul di teras ini untuk mendengarkan kajian atau merencanakan kegiatan sosial.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Topik Terkait :
community yogyakarta teras dakwah majelis taklim mengaji
Berita Terkait
Berita Lainnya
berita lainnya