LANGIT7.ID, Yogyakarta - Suatu sore yang tenang di Yogyakarta, puluhan pemuda-pemudi mendatangi sebuah rumah yang terletak di Jalan Nitikan UH/413. Kedatangan mereka bukan bertamu atau sekadar nongkrong di rumah kawan, melainkan hendak membedah sebuah buku setebal 550 halaman tentang pemberontakan komunisme di tanah air.
Meskipun dandanan mereka tampak digaul-gaulkan seperti pemuda pada umumnya, masyarakat pasti mengenali bahwa mereka adalah pemuda-pemudi Islami dengan wajah bersih dan tenang, jenggot tipis, dan busana rapih. Sementara pemudinya kebanyakan mengenakan jilbab lebar. Senyum, salam, sapa sudah menjadi ciri khas mereka saat bertemu satu sama lain.
Buku yang akan dibedah sore itu berjudul Dari Kata Menjadi Senjata: Konfrontasi Umat Islam dengan Umat Islam. Sebuah tema yang amat jarang sekali dibahas dalam kajian-kajian ‘konvensional’.
Di teras rumah, mereka mendengarkan pembicara dengan santai sambil menikmati cemilan yang disuguhkan. Pembicara yang juga penulis buku tersebut masih sangat muda. Namun mampu menghasilkan tulisan yang cukup komprehensif tentang gerakan komunisme di tanah air dan persinggungannya dengan masyarakat Islam.
Aku mendengarkan kajian sambil leyeh-leyeh di perosotan yang berada di samping teras. Perosotan untuk anak-anak bermain itu sudah nampak lusuh di bagian cat, tapi masih kuat. Bagian bawahnya diberi alas rumput sintetis agar empuk. Sesekali menatap layar proyektor yang menampilkan slide materi pembicara, mencatat, dan memotret.
“Kalau mau ngopi-ngopi, di samping ada kafe kita, Mas,” kata salah seorang pengurus sambil menunjuk sebuah kafe kecil di samping pintu masuk. Kafe itu beroperasi secara komersil dengan menjual kopi yang sedang hits di kalangan anak muda. Namun sewaktu-waktu, pengurus bisa menyajikan bergelas-gelas kopi secara gratis untuk menambah gairah pemuda-pemudi yang sedang mengaji.
Sudah tujuh tahun teras ini menjadi basis dakwah anak-anak muda Yogyakarta yang kelak ‘dinisbatkan’ sebagai nama lembaga “Teras Dakwah”. Hampir setiap pekan, pemuda-pemudi di Kota Pelajar berkumpul di teras ini untuk mendengarkan kajian atau merencanakan kegiatan sosial.
Meskipun disebut teras, tampilan berandanya justru sangat berkelas. Mengusung konsep industrial minimalis dua lantai, teras ini lebih terlihat seperti kafe di seputaran Malioboro daripada sekadar ruang untuk pemuda-pemudi mendengar ceramah agama.
Adalah Subiastuti BA, seorang pensiunan guru yang menghibahkan teras rumahnya untuk dijadikan pusat kegiatan dakwah anak muda di Yogya. Teras rumah Subiastuti sebenarnya tidak terlalu luas, tapi keberkahan selalu berkumpul di sini. Teras Dakwah dirintis putranya, Akhid Subiyanto pada 2014.
Akhid dikenal sebagai aktivis dakwah yang sangat militan dan selalu bergerak dengan mobilitas tinggi untuk kepentingan agama dan umat. Memulai dakwah sebagai aktivis masjid yang ‘hobi’ membuat sebuah acara atau event akbar untuk suatu kegiatan dakwah. Kiprah alumni UMY ini di dunia gerakan dakwah dirintis sejak 2005 dan terbilang sukses dalam menyelenggarakan event - event penting di Yogyakarta.
Awal-awal berdiri, nuansa Teras Dakwah sama seperti teras rumah pada umumnya, hanya ditambahi tikar sebagai tempat jamaah duduk. Pembangunan dome dakwah dua lantai dilakukan pada akhir 2016. Adapun nama Teras Dakwah dipilih karena kata Teras dirasa lebih fleksibel dan terbuka serta lebih sederhana dan tidak mengikat.
Filosofinya, berdakwah atau menghadiri sebuah kajian tidak harus di masjid, tapi dimana pun bisa berdakwah bahkan di teras rumah sekalipun. Menurut Akhid, dome dakwah yang dibangun layaknya kafe memberikan ruang keterbukaan kepada siapa saja yang ingin mengikuti kajian keagamaan.
“Di antara tujuan didirikannya Teras Dakwah adalah untuk menampung jamaah kaula muda Muslim yang belum banyak mengenal Islam agar mereka tidak malu datang ke kajian dakwah," kata Akhid dikutip Mengelola Hibridasi Identitas Anak Muda Islam: Studi Pada Lembaga Teras Dakwah di Yogyakarta.
Ia mengatakan, seandainya Teras Dakwah menggunakan konsep seperti masjid, yakni menyelenggarakan kajian keagamaan di masjid, maka TD tidak akan ramai seperti sekarang ini. Tentu bagi anak muda Islam yang masih sedikit ilmu agamanya, jauh dari taat akan merasa malu untuk datang ke masjid.
"Karena mereka sadar diri mereka belum bersih. Apalagi para preman yang tidak tau agama, mereka banyak menggunakan tato," katanya. Dai kondang yang pernah mengisi kajian di Teras Dakwah di antaranya Ustadz Abdul Somad, Salim A Fillah, Haikal Hassan.
Bila ramai sekali, para pemuda akan memenuhi jalan dan gang di sekitar rumah. Kajian umum yang dirancang mengangkat tema-tema yang bersentuhan dengan minat pemuda masa kini, contohnya percintaan dan hijrah.
Kegiatan rutin oleh Teras Dakwah di antaranya Teras Ngaji, khusus kajian dan ta’lim. Mulai kajian Rabu, kajian Jum’at sore khusus muslimah bersama Amida Teras Dakwah (divisi khusus muslimah), Kajian Sabtu dan tabligh akbar.
Kemudian Teras Tahfidz, khusus pengajaran alquran untuk anak-anak di sekitar Teras Dakwah dan masyarakat sekitar. Lalu Teras Sedekah sebagai institusi pengelolaan zakat, infaq, sedekah, dan qurban.
Awal mula Teras Dakwah dikerjakan tiga orang dengan pembagian bidang konsep, publikasi dan acara. Pemanfaatan media sosial yang lihai membuat Teras Dakwah semakin dikenal publik, khususnya di kalangan anak muda.
Teras Dakwah memiliki akun Instagram, Youtube, Facebook dan Twitter yang sangat aktif. Akun-akun ini dikelola oleh tim media yang dipimpin Ilyas, adik Akhid. Bila melayari media sosial tersebut, kita bisa mendapati poster-poster yang didesain secara fun dan “anak muda banget”. Lincah bermain warna dan kata-kata. Foto, poster, hingga video kajian diunggah dengan sangat rapih.
Kepiawaian mengelola media sosial inilah yang membuat anggota dan jamaah Teras Dakwah terus bertambah. Pada awal-awal berdiri, jumlah pengurusnya saja sudah berjumlah lebih dari 40 orang. Sementara pemuda yang hadir pun terus meningkat, jamaah kajian rutin bisa mencapai sekitar 100 sampai 300 orang, Tabligh Akbar 500 hingga 1.500 orang.
Tak hanya kajian, Teras Dakwah juga memiliki desa binaan di daerah Muntilan yaitu di Dusun Juwono, Jawa Tengah dan Nanggulan Kulonprogo. Saat pandemi Covid-19 melanda Indonesia, Teras Dakwah rutin mengadakan penyemprotan desinfektan ke rumah-rumah penduduk dan juga masjid-masjid. Program lainnya ialah Teras Warung yang diniatkan untuk memberdayakan masyarakat sekitar melalui basis ekonomi kerakyatan.
(asf)