Ilusi Gelar dan Runtuhnya Adab Intelektual Kita
Tim langit 7
Selasa, 13 Oktober 2026 - 20:25 WIB
Gelar akademik bukan ukuran utama kecerdasan. Pendidikan sejati harus disertai kompetensi, kerendahan hati, dan adab agar ilmu memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Oleh: Ichwan A, Basri
LANGIT7.ID-Empat puluh tahun lalu, tepatnya di pertengahan dekade 1980-an, sebuah fondasi besar sedang diletakkan di negeri ini. Pemerintah gencar menggalakkan program wajib belajar, mendirikan sekolah-sekolah dasar hingga ke pelosok, dan membebaskan biaya SPP, kalua tidak bebas, ya hamper hamper besar SPP. Logika sederhana kita saat itu membayangkan sebuah masa depan yang cerah: dalam waktu 20 tahun, gelombang sarjana akan lahir hingga ke desa-desa.
Efek dominonya jelas, segmen masyarakat terdidik (educated people) akan meluas, kaum cendekiawan menjamur, dan bangsa Indonesia secara mekanis akan bergeser menjadi masyarakat yang jauh lebih rasional.
Prediksi logika itu tidak meleset. Hari ini, kita menyaksikan demokratisasi pengetahuan yang luar biasa. Institusi pendidikan tinggi tidak lagi memonopoli kebenaran. Didorong oleh arus informasi digital, portal berita independen, dan penerbitan partikelir (indie), sumber pengetahuan kini relatif lebih mudah diakses oleh siapa saja. Ilmu tidak lagi terkurung di dalam menara gading kampus.
Namun, di tengah banjirnya manusia berpendidikan hari ini, kita justru membentur dinding paradoks yang sangat pahit. Alih-alih melahirkan masyarakat yang matang, kita justru sedang menyaksikan lahirnya sebuah generasi yang "mabuk gelar". Gelar akademik dipandang secara sempit sebagai berhala baru—sebuah kunci mutlak untuk merengkuh jabatan, status sosial, dan rezeki administratif. Terjadilah inflasi gelar yang masif, namun ironisnya, mereka kosong dari expertise, miskin keterampilan, gersang kompetensi, dan nihil pengetahuan murni. Ijazah dikejar lewat jalur instan, sekadar menjadi kosmetik sosial untuk membungkus ego luar akibat kekosongan spiritual di dalam diri.
Generasi pemburu gelar ini seharusnya merasa malu dan tahu diri jika berkaca pada para begawan kebudayaan kita yang bergerak di jalur intelektual organik yang merdeka.
Mari kita hadapkan cermin realitas ini ke muka mereka. Kita belajar sosiologi ekonomi, hukum struktural, dan kriminologi dari seribu "artikel musikal" milik Rhoma Irama lewat lagu Rupiah, Haram, atau Judi. Kita mengunyah filsafat ekologi, spiritualitas, dan humanisme lewat bait-bait kontemplatif Ebiet G. Ade. Kita bahkan menyaksikan bagaimana para profesor, doktor, hingga pejabat negara rela meluluhkan ego akademis mereka untuk duduk berlesehan di lantai, "ngaji" membedah carut-marut dunia bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).
LANGIT7.ID-Empat puluh tahun lalu, tepatnya di pertengahan dekade 1980-an, sebuah fondasi besar sedang diletakkan di negeri ini. Pemerintah gencar menggalakkan program wajib belajar, mendirikan sekolah-sekolah dasar hingga ke pelosok, dan membebaskan biaya SPP, kalua tidak bebas, ya hamper hamper besar SPP. Logika sederhana kita saat itu membayangkan sebuah masa depan yang cerah: dalam waktu 20 tahun, gelombang sarjana akan lahir hingga ke desa-desa.
Efek dominonya jelas, segmen masyarakat terdidik (educated people) akan meluas, kaum cendekiawan menjamur, dan bangsa Indonesia secara mekanis akan bergeser menjadi masyarakat yang jauh lebih rasional.
Prediksi logika itu tidak meleset. Hari ini, kita menyaksikan demokratisasi pengetahuan yang luar biasa. Institusi pendidikan tinggi tidak lagi memonopoli kebenaran. Didorong oleh arus informasi digital, portal berita independen, dan penerbitan partikelir (indie), sumber pengetahuan kini relatif lebih mudah diakses oleh siapa saja. Ilmu tidak lagi terkurung di dalam menara gading kampus.
Namun, di tengah banjirnya manusia berpendidikan hari ini, kita justru membentur dinding paradoks yang sangat pahit. Alih-alih melahirkan masyarakat yang matang, kita justru sedang menyaksikan lahirnya sebuah generasi yang "mabuk gelar". Gelar akademik dipandang secara sempit sebagai berhala baru—sebuah kunci mutlak untuk merengkuh jabatan, status sosial, dan rezeki administratif. Terjadilah inflasi gelar yang masif, namun ironisnya, mereka kosong dari expertise, miskin keterampilan, gersang kompetensi, dan nihil pengetahuan murni. Ijazah dikejar lewat jalur instan, sekadar menjadi kosmetik sosial untuk membungkus ego luar akibat kekosongan spiritual di dalam diri.
Generasi pemburu gelar ini seharusnya merasa malu dan tahu diri jika berkaca pada para begawan kebudayaan kita yang bergerak di jalur intelektual organik yang merdeka.
Mari kita hadapkan cermin realitas ini ke muka mereka. Kita belajar sosiologi ekonomi, hukum struktural, dan kriminologi dari seribu "artikel musikal" milik Rhoma Irama lewat lagu Rupiah, Haram, atau Judi. Kita mengunyah filsafat ekologi, spiritualitas, dan humanisme lewat bait-bait kontemplatif Ebiet G. Ade. Kita bahkan menyaksikan bagaimana para profesor, doktor, hingga pejabat negara rela meluluhkan ego akademis mereka untuk duduk berlesehan di lantai, "ngaji" membedah carut-marut dunia bersama Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).