Pelajaran Adab dan Akibat Bertanya Berlebihan dalam Al-Qur'an
Kisah perintah menyembelih sapi betina dalam Surat Al-Baqarah ayat 68 menyajikan pelajaran penting mengenai adab dan ketaatan terhadap perintah agama. Setelah merespons perintah Nabi Musa dengan nada sinis, Bani Israil kembali mengajukan pertanyaan dengan sikap yang oleh para mufasir disebut sebagai ta’annut atau sikap memberat-beratkan diri.
قَالُوا۟ ٱدْعُ لَنَا رَبَّكَ يُبَيِّن لَّنَا مَا هِىَ ۚ قَالَ إِنَّهُۥ يَقُولُ إِنَّهَا بَقَرَةٌۭ لَّا فَارِضٌۭ وَلَا بِكْرٌ عَوَانٌۢ بَيْنَ ذَٰلِكَ ۖ فَٱفْعَلُوا۟ مَا تُؤْمَرُونَ
Mereka menjawab: "Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami; sapi betina apakah itu". Musa menjawab: "Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu". (QS Al-Baqarah: 68).
Dalam kitab Jami’ al-Bayan, Imam at-Thabari menegaskan bahwa pertanyaan mereka tidak lahir dari kebutuhan akan kejelasan, melainkan dari kekasaran akhlak, kebekuan tabiat, serta buruknya pemahaman dalam menerima kemudahan yang telah Allah berikan.
Sikap kasar tersebut terlihat jelas dalam pemilihan redaksi kalimat mereka saat meminta Nabi Musa memohonkan penjelasan kepada Tuhan. Ibrahim bin Umar al-Biqa’i dalam Nazhm ad-Durar menggarisbawahi bahwa penyandaran kata "Tuhanmu" (Rabbaka) kepada Nabi Musa—dan bukan "Tuhan kami"—merupakan puncak kekasaran (ghayah fi al-jafa'). Mereka seolah menarik jarak spiritual dan enggan mengakui penghambaan diri secara tulus.
Ketika mereka menanyakan kriteria sapi yang dimaksud, Ibnu Abbas sebagaimana dikutip oleh Ibnu Katsir menjelaskan bahwa seandainya saat itu mereka mengambil sapi betina mana pun yang paling sederhana, hal tersebut sebenarnya sudah mencukupi perintah Allah. Namun, karena mereka mempersempit diri dengan pertanyaan yang tidak perlu, Allah pun mempersempit pilihan bagi mereka.
Baca Juga:Pengukir Jepara Terbang ke Bosnia, Restorasi Ornamen Masjid Istiklal Sarajevo