LANGIT7.ID-Sarajevo; - Tiga pengukir asal
Jepara, Jawa Tengah, dikirim ke Sarajevo,
Bosnia dan Herzegovina, untuk merestorasi ornamen kayu
Masjid Istiklal yang menjadi simbol persahabatan kedua negara.
Sutrisno, Jawawi Firnandes, dan Widodo berangkat pada Selasa (13/10/2026). Mereka akan memperbaiki sejumlah ornamen kayu jati yang mengalami kerusakan, termasuk enam pilar berukir, tangga, dan hiasan dinding masjid.
Baca juga: Tiga Penunggang Kuda dari Spanyol Tiba di Sarajevo dalam Perjalanan ke Mekkah untuk BerhajiUkiran tersebut merupakan hadiah Presiden ke-3 RI, BJ Habibie, untuk
Bosnia dan Herzegovina puluhan tahun lalu. Namun, hingga kini, identitas pengukir yang membuat karya aslinya belum diketahui.
Restorasi ini berawal dari kunjungan Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat ke
Bosnia pada Februari 2026. Saat itu, ia menemukan sejumlah ukiran
Jepara di
Masjid Istiklal mengalami kerusakan dan menawarkan bantuan perbaikan kepada pengelola masjid.
Menurut Lestari, yang akrab disapa Rerie, restorasi ini tidak hanya bertujuan menjaga bangunan bersejarah, tetapi juga memperkuat diplomasi budaya Indonesia sekaligus memperkenalkan seni ukir
Jepara ke dunia internasional.
“Diplomasi budaya bukan sekadar kerja sama antarpemerintah. Ketika pengukir Jepara diundang merestorasi karya bersejarah Indonesia di Sarajevo, kita sedang menunjukkan bahwa warisan bangsa memiliki nilai yang diakui lintas negara,” ujar Rerie dalam keterangan tertulis, dikutip Jumat(16/10/2026).
Ia berharap, keterlibatan langsung para pengukir
Jepara dapat menunjukkan bahwa keterampilan tradisional Indonesia tetap relevan dan memiliki nilai lintas negara.
"Fakta bahwa ukiran Jepara telah hadir di Sarajevo sejak puluhan tahun lalu menunjukkan bahwa keterampilan tradisional kita memiliki daya jangkau yang jauh lebih luas dari yang sering kita sadari. Ini adalah warisan bangsa yang harus kita rawat bersama," ujar Rerie.
Baca juga: Pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi Dipercepat, Mendikdasmen Tinjau Kesiapan Lahan di JeparaSelain melestarikan warisan budaya Indonesia di luar negeri, misi ini juga menjadi bagian dari upaya mendorong seni ukir Jepara memperoleh pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO.
"Warisan budaya bukan benda mati yang hanya dipajang. Ia adalah jejak peradaban yang harus terus dirawat agar generasi berikutnya mengenali akar identitasnya. Pengukir Jepara yang bekerja di Sarajevo hari ini sedang menjaga jejak itu," urainya.
Melalui restorasi tersebut, ukiran Jepara yang telah menghiasi Masjid Istiklal selama puluhan tahun diharapkan tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
"Jika ukir Jepara bisa hadir di Sarajevo, maka terbuka jalan untuk memperkenalkan warisan budaya kita yang lain ke dunia. Inilah diplomasi yang bekerja dari akar budaya kita sendiri," tutupnya.
(est)