LANGIT7.ID, Semarang - Perajin ukir kayu di Kabupaten
Jepara terancam hilang setelah regenerasi seni ukir di wilayah tersebut berjalan lambat. Para pemuda lebih memilih untuk bekerja di sektor lain yang lebih menjanjikan demi masa depannya.
Sekda Kabupaten Jepara Edy Sujatmiko berharap pengukir Jepara bisa tumbuh seperti di era tahun 1980-an. Pada masa sekarang, perusahaan-perusahaan mebel sudah kesulitan mencari tangan-tangan terampil untuk menciptakan karya seni ukir yang bernilai tinggi.
“Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga sudah memberikan beasiswa gratis untuk mereka yang berminat di bidang ukir, tapi peminatnya masih minim. Saya berharap juga ada klasifikasi pengukir,” ujarnya, dikutip di laman jepara.go.id.
Baca juga: 1.398 Ternak Terinfeksi, Jepara Tetapkan Status Tanggap Darurat PMKEdy meminta agar pengukir di Jepara yang masih bertahan saat ini mendapatkan masa depan yang lebih baik. Regenerasi dan pelestarian ukir harus terus dilakukan.
“Mereka (perusahaan) harus berani memberikan gaji yang tinggi bagi yang sudah ahli mengukir, ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka. Agar generasi muda tertarik, kerajinan ukir harus menjanjikan,” ucapnya.
Pemkab Jepara siap untuk memfasilitasi dan berkolaborasi dengan organisasi industri dan kerajinan di Jepara untuk mengembangkan furniture dan ukir. Salah satunya melalui gelaran pameran untuk menarik para buyer datang ke Jepara.
Pada bulan Agustus 2022, akan dilaksanakan festival banyak event Kemerdekaan Jepara Bangkit 2022. Akan ada banyak even yang nantinya bisa dikolaborasikan dengan para pengusaha termasuk pameran industri dan furniture.
“Kesempatan ini bisa dimanfaatkan pengusaha,” ujarnya.
Baca juga: 1 Jemaah Haji asal Jepara Wafat di MekkahDesa Mulyoharjo, Jepara, sebagai sentra kerajinan patung ornamen di Jepara, saat ini juga mengalami keterbatasan pengukir. Petinggi Desa Mulyoharjo Bayu Jupriyono mengakui minimnya ketertarikan kaum muda untuk terjun ke dalam dunia ukir. Kondisi itu membuat para pengukir lama menjadi khawatir akan kelangsungan kerjainan ukir untuk kebutuhan pasar Jateng hingga dunia.
“Mempertahankan tradisi lokal da menarik perhatian kaum muda untuk menggeluti bidang ukir menjadi tantangan tersendiri,” kata Bayu, saat menerima kunjungan Komisi B DPRD Jateng baru-baru ini.
Sementara itu, Ketua Himpunan Industri Mebel dan Kerjainan Indonesia (HIMKI) Jepara Raya, Agustinus Suhandoyo menilai perlu direalisasikan kompetisi-kompetisi terkait industri furnitur, termasuk menggelar lomba ukir dan desain.
“Terkait pelestarian dan perlindungan industri furnitur, perlu adanya penetapan zonasi industri secara ekplisit di wilayah tertentu sehingga industri furnitur tidak menjadi korban kehadiran industri besar,” ujarnya
(sof)