Langit7, Yogyakarta -
Push bike atau sepeda dorong, merupakan sepeda yang tidak memiliki kayuhan untuk digowes. Sesuai namanya,
push bike biasanya hanya didorong menggunakan kaki, dan banyak digunakan oleh anak-anak untuk melatih keseimbangan mereka.
Kebanyakan orang tua yang masih memiliki anak berusia lima tahun ke atas, seringkali menjadikan
push bike sebagai hadiah kepada anaknya. Selain membantu perkembangan motorik pada anak,
push bike juga dapat menjadi sarana olahraga yang baik.
Di luar itu semua, ada seorang muslim asal Yogyakarta yang berupaya menghadirkan terobosan, ialah Nugroho Sigit Riyadi. Kalau biasa
push bike berbahan
alloy dan semacamnya, Nugroho yang terampil ini menghadirkan produk
push bike dengan bahan kayu palet.
Baca juga: Prospek Bisnis Menjanjikan dari Khasiat Kunyit Hitam, Rp2 Juta per KilogramMemulai usaha secara tidak sengaja, Nugroho yang terdampak pandemi harus menjadi salah satu karyawan di tempatnya bekerja yang mengalami pemotongan jam kerja. Banyaknya waktu luang yang ada, ide isengnya muncul untuk membuah sebuah mainan untuk anaknya di rumah.
Dari sebuah produk itu ia pasarkan secara
online dan mendapatkan respon yang bagus. Sejak itu, ia mulai fokus untuk menjadi wirausaha.
“Memang hanya coba-coba, karena saya ingin membuatkan mainan untuk anak saya yang masih berusia 2,5 tahun. Ternyata ketika dipakai anak saya, respon tetangga cukup baik karena sepedanya unik, dari situ saya buat lagi dan pasarkan secara online,” ujarnya dikanal Youtube DNTrust.
Nugroho mengaku, ukuran dan model sepeda menjadi tantangan tersendiri saat mulai fokus menjalankan usahanya di sektor kerajinan pada Mei lalu. Dari terus mencoba dan melalui banyak tahap
trial and error, akhirnya Nugroho mampu menemukan ukuran ideal
push bike yang dikhususkan bagi anak-anak ini.
Baca juga: Produksi Buah Naga Sugiono Naik, 20 Petani Lain Ingin Meniru Pakai Listrik PLNSaat ini, lanjut Nugroho, ia mulai menemukan kesesuaian ukuran
push bike untuk anak balita. Walaupun agak sulit, tapi berkat kegigihannya ia berhasil mengembangkan usahanya hingga saat ini.
“Untuk omzet dalam satu bulannya itu berkisar antara Rp8-10 juta. Saya bisa memproduksi dua sampai tiga
push bike dari kayu mentah ini sampai jadi dalam sehari,” jelasnya.
Baginya, walaupun pandemi berdampak cukup buruk di seluruh tanah air, tapi ada berkah tersendiri yang ia rasakan. Di mana ia mampu mencoba untuk mandiri dalam usahanya, dan mampu menciptakan produk kerajinan yang unik dan bernilai.
“Jadi lebih santai dari sisi pekerjaannya. Saya juga lebih termotivasi untuk membuat berbagai kerajinan lain dari kayu, seperti cermin,
interior dapur, atau pun yang lainnya,” jelasnya.
(zul)