Prof.Dr.Bambang Setiaji LANGIT7.ID-Krisis ekonomi adalah masalah siklikal yang selalu terjadi dan berulang. Terdapat masa masa tumbuh yang ada batas puncaknya kemudian akan terjadi penurunan atau masa masa resesi dan pada titik terendah terjadi stagnasi atau kemandekan dan krisis.
Penurunan ekonomi terjadi ketika permintaan agregat menurun, atau ketika biaya modal meningkat mungkin oleh otoritas atau karena pasar, sehingga investasi akan menurun, dan pertambahan produksi mulai berkurang.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Rangkullah Para AghniyaBisa jadi karena terjadi kelatahan di mana beberapa sektor over investasi. Disebabkan oleh missinformasi, miss ekpektasi, terjadi sektor sektor yang berdesakan. Di Indonesia terjadi kebuntuan kebuntuan vertikal, SDM yang mulai memiliki kualifikasi Perguruan Tinggi meningkat, tetapi lapangan pekerjaan yang sesuai sangat kurang. Akibatnya SDM berdesakan di sektor bawahnya. Dan terdesak ke sektor informal. PHK juga menyebabkan bertambah berdesaknya sektor ekonomi informal.
Pasar yang ada dilayani oleh terlalu banyak supplier akibatnya terjadi miss alokasi. Pesangon pesangon PHK biasanya untuk membuka warung makan yang sudah sangat over. Juga perdagangan perdagangan mikro umumnya bidang pakaian dan peralatan kelontong.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Mendinamisir UmmatMiss alokasi sumber investasi yang sejatinya sangat terbatas ini menyebabkan stagnasi ekonomi yang bisa dan selalu terulang terjadi secara siklikal.
Apa yang harus dilakukan oleh negara. Menurut teori sisi fiskal melakukan banyak belanja terutama kepada sektor sektor targeted dan sisi keuangan melakukan kemudahan misalnya menggenjot investasi tetap harus selektif sektoral karena akan menyebabkan terjadinya kejenuhan pada sektor sektor tertentu.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Oase Negara Tanpa BankTransformasi vertikal terhambat karena pada industri-industri yang menguntungkan terjadi proteksi alami karena monopoli atau oligopoli, atau proteksi karena sulitnya perijinan, pembatasan pemain. Maka solusi negara seperti Indonesia mestilah melihat sektor sektor. Menggeneralisasi atau memberi resep tunggal atau generik pasti salah arah, karena perbedaan keadaan berbagi sektor. Pasar atau membiarkan pasar mensolusi terlalu riskan karena korbannya adalah ekonomi rakyat banyak.
Agama memberi petunjuk dalam banyak hal, baik menyiapkan individu untuk menyadari bahwa tidak selamanya keadaan baik baik saja, harus siap dengan ujian kekurangan baik harta dan jiwa. Kemenangan adalah dipergilirkan.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Pemanfaatan Wakaf dan Efisiensi Anggaran NegaraMengenai siklikal apa yang diabadikan dalam kisah Nabi Yusuf 7 masa makmur dan 7 masa paceklik, dipecahkan dengan perencanaan dan membuat cadangan (Sovereign wealth fund), misalnya Danantara hendaknya dipergunakan untuk menolong gelombang pengangguran.
Masyarakat perlu didorong ke arah produksi misalnya dikaitkan dengan makan siang di sekolah untuk bermain di sektor sektor produksi makanan pokok dan penyediaan protein yang keduanya masih kita impor.
Pengangguran bisa menjadi berkah karena hal itu adalah space untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.(Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)