Oleh: Anwar AbbasLANGIT7.ID-Krisis lingkungan, ketimpangan sosial, hingga tekanan hidup di kota besar menunjukkan satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan: sistem ekonomi global sedang mengalami masalah serius. Gagasan ekonom Jerman, E. F. Schumacher, kembali menemukan relevansinya di tengah situasi tersebut.
Melalui buku terkenalnya, Small Is Beautiful, Schumacher mengajukan kritik tajam terhadap sistem ekonomi modern yang terlalu menekankan skala besar. Ia menunjukkan bahwa struktur ekonomi yang serba besar—baik dalam birokrasi maupun dunia usaha, cenderung mengikis kepedulian terhadap manusia sebagai individu.
Dominasi sistem besar melahirkan pola pikir yang mengabaikan rasa, empati, dan dimensi kemanusiaan. Dalam situasi seperti ini, dorongan kekuasaan dan keinginan memusatkan kontrol menjadi lebih dominan dibandingkan upaya menciptakan kesejahteraan yang berkeadilan.
Sebaliknya, kehidupan dalam skala kecil justru menghadirkan ruang bagi kebebasan, kreativitas, efisiensi, serta keberlanjutan. Di situlah nilai keindahan ekonomi dapat ditemukan, ketika manusia tetap menjadi pusat, bukan sekadar alat produksi.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendekatan Mahatma Gandhi yang membangun ekonomi dari desa. Penguatan kerajinan tangan dan produksi padat karya menciptakan kemandirian sekaligus menjaga keseimbangan sosial. Model ini juga menanamkan nilai hidup sederhana, hemat, dan berorientasi pada keberlangsungan jangka panjang.
Perubahan sosial yang dilakukan secara besar-besaran justru berpotensi merusak moral masyarakat. Ketika masyarakat dipaksa masuk ke dalam sistem industri modern secara cepat, ketergantungan terhadap kelompok elite menjadi tidak terhindarkan. Pada titik ini, ekonomi kehilangan fungsi utamanya sebagai alat pembebasan.
Transformasi sektor pertanian menjadi industri besar turut mempercepat arus urbanisasi. Desa kehilangan perannya, sementara kota menghadapi kepadatan, kemacetan, dan krisis sosial. Kualitas hidup pun mengalami penurunan yang signifikan.
Lebih jauh, orientasi keuntungan yang berlebihan membuat nilai-nilai penting terabaikan. Schumacher menekankan tiga hal mendasar yang kerap dilupakan, yaitu sehat, indah, dan lestari. Ketiganya merupakan fondasi kehidupan yang tidak bisa diukur dengan angka, tetapi sangat menentukan kualitas hidup manusia.
Masalah mendasar muncul dari cara pandang ilmu ekonomi modern yang berusaha menjadi ilmu pasti seperti ilmu alam. Pendekatan ini menyamakan manusia dengan objek tanpa jiwa, sehingga mengabaikan dimensi spiritual. Ketika ruang spiritual kosong, ia akan diisi oleh sikap rendah seperti keserakahan dan kekikiran yang dibungkus dalam kalkulasi ekonomi.
Dalam konteks ini, pemikiran MT Zein menjadi sangat relevan. Dalam pengantar buku tersebut, MT Zein menegaskan bahwa dunia membutuhkan ilmu ekonomi yang tidak hanya mengukur perilaku manusia, tetapi juga mampu mendidik dan meningkatkan kualitas pribadi masyarakat. Ilmu ekonomi tidak boleh berhenti pada penghitungan nafsu rendah, tetapi harus mampu mengarahkan manusia pada nilai yang lebih tinggi.
Indonesia sendiri sebenarnya telah memiliki fondasi sistem ekonomi yang sejalan dengan gagasan tersebut melalui Ekonomi Pancasila. Sistem ini mengatur hubungan manusia secara menyeluruh, dengan Tuhan, sesama manusia, diri sendiri, dan lingkungan.
Implementasi yang kuat dari ekonomi Pancasila membuka peluang besar bagi lahirnya sistem yang lebih manusiawi dan berkelanjutan. Sebuah sistem yang tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga menjaga keseimbangan kehidupan.
Harapan untuk menciptakan negeri yang sehat, indah, dan lestari bukanlah sesuatu yang mustahil. Dengan mengembalikan ekonomi pada nilai-nilai kemanusiaan dan spiritual, cita-cita tersebut dapat diwujudkan, bahkan melampaui apa yang pernah dibayangkan.
(Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan)
(lam)