Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Selasa, 09 Juni 2026
home global news detail berita

BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat di Tengah Ancaman Inflasi dan Konflik Timur Tengah

nabil Selasa, 09 Juni 2026 - 18:13 WIB
BI Naikkan Suku Bunga, Rupiah Menguat di Tengah Ancaman Inflasi dan Konflik Timur Tengah
LANGIT7.ID-Jakarta; Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa (9/6/2026) di tengah kombinasi sentimen domestik dan global yang masih membayangi pasar keuangan. Penguatan rupiah terjadi setelah Bank Indonesia mengambil langkah agresif dengan menaikkan suku bunga acuan guna menjaga stabilitas nilai tukar dan mengendalikan inflasi.

Berdasarkan data perdagangan sore hari, rupiah ditutup menguat 129 poin ke level Rp18.058 per dolar AS. Sebelumnya, mata uang Indonesia sempat menguat hingga 150 poin sebelum akhirnya mengakhiri perdagangan di level tersebut. Posisi ini lebih baik dibandingkan penutupan sebelumnya yang berada di level Rp18.187 per dolar AS.

Penguatan rupiah terjadi di tengah upaya pemerintah dan Bank Indonesia menjaga stabilitas perekonomian nasional yang menghadapi tekanan dari gejolak global, terutama konflik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS.

Dari sisi domestik, perhatian pasar tertuju pada perkembangan cadangan devisa Indonesia. Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa pada akhir Mei 2026 sebesar US$144,9 miliar, turun US$1,3 miliar dibandingkan posisi April 2026 yang mencapai US$146,2 miliar. Penurunan tersebut dipengaruhi oleh kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah, penerbitan obligasi global, serta transaksi perpajakan. Posisi tersebut juga menjadi level cadangan devisa terendah sejak Juli 2024.

Selain itu, pemerintah tengah menyiapkan paket stimulus ekonomi baru untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah tekanan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh level Rp18.200 per dolar AS. Stimulus tersebut disiapkan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak gejolak ekonomi yang berpotensi menekan konsumsi masyarakat.

Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi kebijakan moneter dan fiskal melalui sinergi antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian pasar adalah keputusan Bank Indonesia menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen. Kebijakan tersebut ditempuh untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah sekaligus menjaga inflasi agar tetap berada dalam target pemerintah pada 2026 dan 2027.

Direktur PT Traze Andalan Futures sekaligus pengamat ekonomi dan mata uang Ibrahim Assuaibi mengatakan, “Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan, BI-Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% hari ini. Kenaikan ini sebagai langkah lanjutan untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah serta sebagai langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada tahun 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan Pemerintah,” ujar dia dalam keterangannya, Selasa (9/6/2026).

Menurut Ibrahim, langkah tersebut juga bertujuan meningkatkan daya tarik aset domestik di mata investor asing. “Sehubungan dengan itu, BI memandang perlu untuk menempuh langkah-langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar Rupiah dengan meningkatkan kembali imbal hasil dan sejumlah insentif lain untuk mendorong masuknya aliran investasi asing,” ujar dia.

Sementara itu, dari eksternal, pergerakan dolar AS mendapat dukungan dari membaiknya sentimen pasar global setelah Iran dan Israel menyatakan telah menghentikan serangan satu sama lain menyusul seruan Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar kedua pihak segera menghentikan konflik. Meski demikian, ketegangan di kawasan masih belum sepenuhnya reda karena Iran tetap membuka kemungkinan melanjutkan serangan apabila Israel kembali menyerang Hizbullah di Lebanon.

Pasar juga terus mencermati perkembangan Selat Hormuz yang menjadi jalur sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Pembukaan kembali jalur tersebut menjadi salah satu isu penting dalam upaya diplomasi yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran. Di sisi lain, langkah militer AS yang menghentikan sebuah kapal tanker di Teluk Oman turut menjadi perhatian pelaku pasar.

Penguatan dolar AS juga didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap inflasi yang dipicu harga energi. Kondisi tersebut membuat investor mulai mengurangi ekspektasi terhadap pemangkasan suku bunga Federal Reserve dalam waktu dekat. Bahkan sebagian pelaku pasar mulai memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter yang lebih ketat apabila tekanan inflasi tetap tinggi.

Fokus pasar kini tertuju pada data Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat periode Mei yang akan dirilis pada Rabu waktu setempat. Inflasi tahunan diperkirakan meningkat menjadi 4,2 persen dibandingkan 3,8 persen pada April. Jika data tersebut sesuai atau lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS berpotensi tetap bertahan kuat dan memberikan tekanan lanjutan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ke depan, arah pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi kombinasi faktor domestik dan global. Kebijakan suku bunga Bank Indonesia, kesiapan stimulus ekonomi pemerintah, perkembangan konflik Timur Tengah, serta data inflasi Amerika Serikat akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pasar.

Untuk perdagangan Rabu (10/6/2026), Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif. Namun, mata uang Indonesia diproyeksikan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.050 hingga Rp18.100 per dolar AS seiring tingginya perhatian pasar terhadap perkembangan dolar AS dan kebijakan moneter global.

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Selasa 09 Juni 2026
Imsak
04:28
Shubuh
04:38
Dhuhur
11:55
Ashar
15:16
Maghrib
17:48
Isya
19:02
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)