Oleh: Anwar Abbas
LANGIT7.ID-Nama Jose Alberto Mujica Cordano, atau yang lebih dikenal dengan panggilan Mujica, menjadi salah satu sosok pemimpin yang menarik perhatian dunia. Presiden Uruguay periode 2010–2015 ini dikenal bukan hanya karena kebijakan-kebijakannya, tetapi juga karena gaya hidupnya yang sangat sederhana hingga dijuluki sebagai presiden termiskin di dunia.
Mujica pernah dipercaya menjabat sebagai Menteri Peternakan, Pertanian, dan Perikanan. Jabatan tersebut tentu tidak asing baginya karena kedua orang tuanya adalah petani, dan dirinya sendiri memiliki latar belakang profesi di sektor pertanian.
Mujica terpilih menjadi Presiden Uruguay dengan raihan suara 52 persen. Setelah dinyatakan sebagai presiden, ia menyerukan persatuan dan kesatuan dengan merangkul lawan-lawan politiknya. Ia menyadari betul bahwa kekuasaan berasal dari rakyat dan harus diperuntukkan bagi rakyat.
Karena itu, Mujica bertekad untuk mengentaskan kemiskinan yang dialami rakyatnya. Dalam lima tahun masa kepemimpinannya, ia berhasil menurunkan angka kemiskinan dari sekitar 37–40 persen menjadi 10–12 persen. Selain itu, ia juga berhasil menaikkan upah minimum, menekan angka pengangguran secara signifikan, serta membangun dan menyediakan perumahan bagi keluarga miskin.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah keberhasilannya melakukan transformasi radikal dalam pelestarian lingkungan melalui transisi energi. Melalui kebijakan tersebut, Uruguay mampu memenuhi kebutuhan listrik nasionalnya dari sumber daya terbarukan seperti angin, matahari, dan biomassa.
Namun, meskipun berhasil meningkatkan perekonomian dan kesejahteraan rakyatnya, Mujica tetap tidak berubah. Ia dikenal sebagai presiden termiskin di dunia karena gaya hidupnya yang sangat sederhana.
Sebagai contoh, ia menolak tinggal di istana kepresidenan dan lebih memilih menetap di rumah pertanian sederhana miliknya yang berada di pinggiran Kota Montevideo. Ia juga tetap menggunakan mobil Volkswagen Kodok keluaran tahun 1987 yang merupakan kendaraan pribadinya.
Bahkan, tidak hanya sampai di situ. Demi membantu warganya yang miskin, Mujica menyumbangkan sekitar 90 persen dari gaji bulanannya untuk membantu masyarakat kurang mampu dan para pengusaha kecil.
Meski memiliki berbagai prestasi tersebut, Mujica juga mendapat banyak kritik. Ia melegalkan produksi, distribusi, dan penjualan ganja di Uruguay. Selain itu, ia juga menjadikan Uruguay sebagai salah satu negara pertama di Amerika Latin yang melegalkan aborsi dan pernikahan sesama jenis.
Mujica hanya memimpin negaranya selama satu periode. Konstitusi Uruguay tidak memperbolehkan seorang presiden mencalonkan diri kembali untuk periode berikutnya kecuali setelah jeda minimal satu periode. Mujica memilih untuk tidak melanggar ketentuan tersebut.
Meskipun tidak lagi menjabat sebagai presiden, Mujica tidak meninggalkan dunia politik. Setelah masa kepresidenannya berakhir, ia memilih menjadi senator. Namun, karena usia yang sudah lanjut, ia wafat pada 13 Mei 2025, seminggu sebelum ulang tahunnya yang ke-90, akibat penyakit yang dideritanya.
(Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan)(lam)