Prof.Dr.Bambang Setiaji
LANGIT7.ID-Efisiensi menjadi terminologi paling populer minggu minggu ini. Apa sumbangan agama dalam masalah efisiensi? Tentu saja konsep "mubazir" berkaitan efisiensi. Juga sikap korup yang masih mengakar dalam memandang uang negara, yaitu kecenderungan menghabiskan uang negara. Bahkan budaya ini ditemukan pada BUMN yang seharusnya menggunakan budaya bisnis yang akarnya adalah efisiensi. Mesin mesin dan berbagai teknologi diciptakan untuk meningkatkan efisiensi sehingga dalam waktu yang sama dapat diciptakan produk lebih banyak lebih presisi dan juga lebih cepat.
Bersyukur pemerintah sadar mengenai perlunya efisiensi. Budaya korupsi sangat dalam dan tidak semudah membalik telapak tangan.
Dalam kesempatan ini disamping budaya, yang dapat diderivasi dari ajaran agama "mubazir", kejujuran, dan anti korupsi (amanah). Wakaf juga memainkan peranan penting dalam efisiensi.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Menghormati Rakyat Sebagai Bagian Ekonomi SyariahMasyarakat kita banyak sekali berwakaf, pada usia tua banyak masyarakat yang berpunya menyisihkan salah satu asetnya untuk diwakafkan. Hal ini bertujuan untuk bekal di akherat (dorongan religiusitas). Muhammadiyah dan NU berkembang berbasis wakaf ini. Namun dalam perjalanan keduanya kewalahan membiayai pembangunan aset terutama untuk tempat ibadah, sekolah, rumah sakit dan panti.
Sekolah sekolah berbasis wakaf merupakan pintu masuk efisiensi. Yaitu pemerintah cukup membiayai guru dan lab. Masyarakat mewakafkan tanah dan masyarakat lainnya berinfaq membiayai gedung melalui pungutan sekolah. SPP untuk sekolah swasta diijinkan regulasi.
Pemerintah sangat efisien karena tidak perlu lagi mengadakan tanah dan aset. Biaya yang besar juga perawatan. Data menunjukkan bahwa sekolah sekolah swasta lebih sedikit yang rusak dibanding sekolah negeri.
Baca juga: Kolom Ekonomi Syariah: Pagar Laut, Barang Publik, dan Ekonomi Syariah
Keterbukaan dan kerjasama membangun negara antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci. Agama Jangan dilihat dari sisi negatif seperti kekuatiran ekstremitas, walaupun itu ada tetap merupakan minoritas dari 2 milyar muslim. Namun demikian semangat berkorban atau jihad harus tetap dipelihara dalam konteks pertahanan bersama rakyat yang lagi lagi berujung pada efisien karena anggaran persenjataan kita yang kurang. Kokam dan Banser sebaiknya klik dengan kemiliteran dan bela negara.
Sebagain besar pemeluk agama adalah moderat dan sangat banyak sisi untuk dikembangkan bersama dalam membangun bangsa. Antara lain potensi wakaf dalam persepektif efisiensi anggaran negara.(*Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah)
(lam)