LANGIT7.ID-Bandung; Prestasi Jawa Barat sebagai juara umum ekonomi syariah rupanya tidak hanya berhenti pada piala dan peringkat. Di balik target mempertahankan gelar Anugerah Adinata Syariah 2026, Pemerintah Provinsi mulai menekankan hilirisasi ekosistem syariah hingga ke lini paling dasar: tempat pekerja muslim beribadah dan stadion kebanggaan Bobotoh.
Wakil Gubernur Erwan Setiawan, usai mengikuti Validasi Data Anugerah Adinata Syariah di Masjid Raya Al-Jabbar, Kamis (21/5/2026), justru menyoroti dua kebutuhan mendesak: kawasan industri ramah syariah dan fasilitas ibadah di stadion GBLA.
"Mayoritas pekerja industri di Jabar adalah muslim. Mereka butuh ekosistem yang mendukung, bukan sekadar sertifikat halal, tapi tempat ibadah yang layak di pabrik-pabrik," kata Erwan.
Menurutnya, pengembangan ekonomi syariah selama ini lebih banyak dinikmati di sektor keuangan dan pariwisata. Padahal, lumbung buruh pabrik di Bekasi, Karawang, hingga Bandung Raya belum sepenuhnya tersentuh lingkungan kerja yang ramah syariah.
Stadion GBLA: Taubat dari 'Sarung Tergenang'Sorotan menarik datang dari sektor olahraga. Erwan mencontohkan Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), markas Persib Bandung. Stadion yang selama ini lebih dikenal dengan euforia Bobotoh itu dinilai perlu bertransformasi menjadi destinasi sport tourism syariah.
"Bayangkan, stadion sebesar GBLA harusnya punya fasilitas ibadah yang representatif. Bukan sekadar musala darurat yang air wudunya menggenang," ujarnya menyebut keluhan lama para suporter.
Ke depan, seluruh area stadion—dari tempat jajan hingga toilet—ditargetkan bersertifikasi ramah muslim. Ini sejalan dengan capaian Jabar yang mencatatkan wisata halal terbaik nasional dalam Indonesia Muslim Travel Index 2025.
Data Membisu: Ada 12.977 Pesantren dan Rp105 Triliun Aset SyariahKetua Komite Daerah Ekonomi dan Keuangan Syariah (KDEKS) Jabar, Diana Sari, menambahkan bahwa fondasi ekonomi syariah di Jabar sebenarnya sudah sangat kokoh secara statistik:
· 12.977 pesantren (30,6% dari total nasional), menjadi basis ekonomi pesantren terbesar.
· Aset perbankan syariah tembus Rp105 triliun pada 2025.
· 21 zona KHAS (Kuliner Halal, Aman, Sehat) tersebar di berbagai kota.
· Jumlah produk bersertifikat halal tertinggi se-Indonesia.
"Tapi angka-angka ini harus berujung pada kesejahteraan riil. Ekonomi syariah bukan hanya unggul dalam nilai, tapi dampak sosialnya harus terasa," tegas Diana.
Dari Pabrik ke Stadion: Ekonomi Syariah Versi JabarJika tahun lalu Jabar menyapu 9 dari 12 kategori penghargaan, tahun ini jumlah kategori bertambah jadi 14. Namun, pesan Wagub Erwan mengubah arah: keunggulan bukan lagi tentang mempertahankan piala, melainkan tentang membuktikan bahwa pekerja pabrik di Cikarang dan Bobotoh di tribun GBLA sama-sama bisa merasakan ekosistem syariah.
"Kami tidak berdiam diri setelah juara. Kami memantaskan predikat itu," pungkas Diana.
Dengan penduduk muslim mencapai 50,4 juta jiwa, Jabar seperti sedang menguji sebuah tesis besar: bisakah ekonomi syariah menjadi gaya hidup, bukan sekadar produk perbankan?(*/saf/humasjabar)
(lam)