LANGIT7.ID–Jakarta; Masalah pengangguran di kalangan lulusan perguruan tinggi Indonesia kian memprihatinkan. Hal ini tergambar jelas dari fenomena di perusahaan milik Jusuf Kalla, yang hanya membuka lowongan untuk 20 posisi insinyur namun diserbu oleh 23 ribu pelamar. Fakta ini mencerminkan tingginya jumlah lulusan sarjana, terutama insinyur, yang belum memperoleh pekerjaan sesuai harapan mereka.
Pengamat sosial ekonomi dan keagamaan yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum MUI, Anwar Abbas, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi ini. Ia menyebut bahwa tingginya angka pengangguran dari kalangan terdidik bisa berdampak luas terhadap masyarakat, seperti meningkatnya angka kemiskinan, kriminalitas, hingga menurunnya produktivitas nasional.
“Kalau para lulusan tersebut banyak yang menganggur dan atau bekerja di bidang yang tidak mereka sukai dan kuasai, tentu berbagai implikasi akan terjadi,” ujarnya dalam keterangan resmi, Sabtu (14/6/2025).
Menurutnya, kondisi ini tidak bisa dibiarkan dan harus segera ditangani secara kolaboratif oleh pemerintah, DPR, pelaku dunia usaha, tokoh masyarakat, dan pihak perguruan tinggi. Ia menyebut tiga langkah utama yang perlu dibahas dan dilakukan bersama:
Pertama, bagaimana mendinamisasi kehidupan ekonomi nasional agar mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Menurut Anwar Abbas, peningkatan signifikan jumlah lowongan kerja merupakan kunci untuk menyerap para penganggur ke dalam dunia kerja yang produktif.
Kedua, pentingnya perlindungan terhadap usaha dan produksi dalam negeri. Ia menyoroti bahwa saat ini banyak produk lokal kalah bersaing dengan barang impor, yang menyebabkan turunnya permintaan terhadap barang buatan dalam negeri. Akibatnya, perusahaan dalam negeri terpaksa melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga menutup operasionalnya, baik sementara maupun permanen.
Ketiga, peran strategis perguruan tinggi dalam menumbuhkan kreativitas dan inovasi mahasiswa. Ia mendorong kampus untuk lebih serius membangun keterkaitan atau link and match antara pendidikan tinggi dan dunia kerja, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan industri dan dunia usaha.
“Jika hal-hal ini bisa kita kerjakan dengan baik, maka lapangan kerja tentu akan semakin bertambah banyak sehingga fenomena seperti yang terjadi di perusahaan Pak JK tidak lagi terjadi,” pungkasnya.
(lam)