Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Senin, 01 Juni 2026
home global news detail berita
1 Juni: Hari Lahir Pancasila

Bung Hatta: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Implikasinya terhadap Kehidupan Bernegara

tim langit 7 Senin, 01 Juni 2026 - 10:24 WIB
Bung Hatta: Sila Ketuhanan Yang Maha Esa dan Implikasinya terhadap Kehidupan Bernegara
Oleh: Anwar Abbas

LANGIT7.ID–Sila pertama dalam Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Sila pertama ini, kata Bung Hatta, harus menjadi dasar yang memimpin cita-cita kenegaraan kita untuk menyelenggarakan segala yang baik bagi rakyat dan masyarakat Indonesia.

Oleh karena itu, menurut Bung Hatta, pengakuan kita untuk berpegang kepada dasar Ketuhanan Yang Maha Esa akan bermasalah dan tidak akan memiliki arti apabila kita tidak bersedia berbuat dalam praktik kehidupan sesuai dengan sifat-sifat yang dipujikan kepada Tuhan Yang Maha Esa, seperti kasih sayang dan keadilan.

Karena itu, implikasi logis dari pengakuan kita terhadap dasar Ketuhanan Yang Maha Esa, menurut Bung Hatta, mewajibkan kita untuk membangun persahabatan dan persaudaraan antarmanusia serta antarbangsa. Di samping itu, pengakuan terhadap sila pertama tersebut juga mewajibkan kita untuk membela kebenaran dan keadilan, berbuat baik, memiliki sifat jujur dan suci, serta mencintai keindahan.

Artinya, jika kita ingin menjadikan diri sebagai insan Pancasilais, maka kita dituntut untuk menentang segala bentuk kedustaan dan kezaliman, serta berusaha memperbaiki setiap kesalahan. Kita juga harus mau membasmi segala bentuk kecurangan dan perbuatan kotor lainnya, serta meniadakan berbagai hal yang buruk.

Untuk itu, kata Bung Hatta, kita harus mau menerima bimbingan dari Zat Yang Maha Sempurna. Jika hal tersebut dapat kita lakukan, maka nilai-nilai tersebut akan membentuk dan melahirkan manusia-manusia Indonesia yang memiliki karakter baik serta rasa tanggung jawab yang tinggi.

Namun, inilah yang tampaknya mulai menghilang, menipis, dan memudar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini. Rakyat, terutama para pemimpinnya, tidak lagi menjadikan ajaran agama atau tuntunan Tuhannya sebagai pedoman utama. Sebaliknya, hawa nafsu, kepentingan pribadi, dan kepentingan kelompok lebih mengemuka serta memimpin perilaku mereka.

Akibatnya, berbagai praktik yang tidak terpuji masih terus terjadi dan belum mampu kita hilangkan. Kita masih menyaksikan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN), politik uang, egoisme golongan, sikap tunduk kepada kepentingan pemilik modal daripada kepada kebenaran dan keadilan, kurangnya transparansi dan akuntabilitas, serta berbagai perbuatan terlarang lainnya yang tidak kita harapkan.

Untuk itu, ada peribahasa orang Minangkabau dan Melayu yang perlu kita camkan serta terapkan dengan baik. Bunyinya, “Bila sesat di ujung jalan, maka surut atau kembalilah ke pangkalnya.”

Artinya, apabila kita telah terlanjur melakukan kesalahan atau melangkah terlalu jauh ke arah yang salah, maka langkah terbaik yang harus dilakukan adalah kembali ke awal, yaitu kembali kepada sila pertama dari falsafah bangsa kita, Pancasila, yakni Ketuhanan Yang Maha Esa.

Sila tersebut harus kembali dijadikan sebagai dasar yang memimpin dan membimbing kita dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di negeri yang sama-sama kita cintai ini.

(Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan, sekaligus Ketua PP Muhammadiyah, Anwar Abbas)

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
BERITA TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Senin 01 Juni 2026
Imsak
04:26
Shubuh
04:36
Dhuhur
11:54
Ashar
15:15
Maghrib
17:47
Isya
19:01
Lihat Selengkapnya
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ
Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa.
QS. Al-Ikhlas:1 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
right-4 (Desktop - langit7.id)