LANGIT7.ID, Semarang - Rani Mardiana Rahayu, kini memantapkan diri untuk menekuni bisnis pembutan kerajinan tangan menggunakan bahan daur ulang sampah. Awalnya, muslimah ini hanya iseng-iseng memposting kerajinan hasil dari recycle tersebut dari sampah rumah tangga di akun jual beli media sosial, ternyata responnya cukup bagus.
Usaha yang digeluti oleh Rani ini sudah berlangsung sejak 20 November 2020, saat masa pandemi Covid-19. Saat itu, di Kecamatan Tembalang Kota Semarang belum ada yang menjalankan usaha tersebut. Semula, bank sampah digarap oleh pelaku-pelaku UKM. Peluang itu pun tidak dilewatkannya begitu saja.
Baca juga: Inovatif, Sukses Buka Warung Mie di Tengah PandemiIdenya datang dari diri sendiri yang ingin mengurangi sampah masuk ke Tempat Pembuangan Sampah (TPS). Barang-barang yang bisa dijadikan kerajinan, didaur ulang, agar biar sampahnya tidak masuk ke TPS dan dibuat kerajinan oleh Bank Sampah Tembalang (BST) beralamat di Perumahan Diponegoro blok B 207 Tembalang, Semarang.
Saat ini, ia telah memiliki tak kurang 150 nasabah atau mitra di Kota Semarang yang secara rutin memasok sampah rumah tangga dan warung yang telah dipilah-pilah. Di antaranya berupa kemasan minuman sachet, botol, bungkus paketan, kardus, dan barang-barang yang terbuat dari plastik.
“Untuk minuman sachet, dan tas kresek kami gunakan untuk kerajian tas dan dompet. Sementara plastik yang tidak bisa dibuat kerajinan, saya hancurkan jadi bijih plastik untuk dijua ke pabrikan besar. Saya belajar otodidak, lihat-lihat informasi,” kata Owner Bank Sampah Tembalang, Reni Mardiana Rahayu.
Untuk bisa menjadi pemasok sampah, harus menjadi nasabah dulu. Selama pengiriman barang-barang tersebut, akan dihitung dan selama satu tahun akan diganti dengan paket lebaran, juga berisi sirup dan roti kering.
Baca juga: Berkah Pandemi, Santri ini Sukses Berbisnis KokedamaKerajinan BST Tembalang ini dijual antara Rp12.000-Rp250.000,-. Mulai dari dompet, tempat tisu, tas perempuan, tas belanja, sentir jelantah, kerajinan kayu dan lain-lain. Besarnya biaya didasarkan ukuran dan tingkat kerumitan dalam pembuatan. Selain dipasarkan secara offline juga melalui online di Shoopee dan Tokopedia dengan nama toko One Recycle.
Rani menyampaikan, pihaknya juga melayani penjualan bahan-bahan prakarya bagi anak SD, SMP, SMA, bahkan mahasiswa yang sedang kuliah. Pelanggannya juga banyak dari mahasiswa. Para mahasiswa tersebut kebanyakan membeli untuk bungkus hadiah sampai ribuan.
"Semua saya kerjakan sendiri. Kecuali jika ada pesanan dalam jumlah banyak, saya melibatkan beberapa pekerja. Dalam sebulan omzet rata-rata Rp2,5 juta," ujarnya.
Pihaknya masih menerima masyarakat yang ingin menjadi nasabah baru. Selain mendatangkan nilai ekonomi, sampah yang telah dipilah dan dimanfaatkan kembali ini dapat mengurangi limbah plastik, karena butuh waktu yang sangat lama untuk bisa terurai di tanah. "Kita ajak pengusaha-pengusaha di seluruh Indonesia, untuk bersinergi kurangi sampah plastik di Indonesia," ucapnya.
Beberapa keuntungan dari penjualan via online, digunakan untuk kegiatan sosial setiap hari Jumat dengan memberikan sedekah kepada msyarakat kurang mampu berupa paket nasi bungkus. Selain itu, pihaknya juga membuka kepada siapa saja untuk berdonasi pada Jumat berkah. "Selama pandemi ini memang kita off dulu. Ini mau jalan lagi," tuturnya.
Baca juga: Berawal dari Iseng, Kini Sukses Kembangkan Pertanian di Ibu Kota(asf)