LANGIT7.ID, Madiun - Pandemi Covid-19 memang melumpuhkan sektor perekonomian. Akan tetapi, hal itu tidak berlaku bagi orang yang mau berfikir kreatif dan berani menangkap peluang. Seperti yang dilakukan Nurhuda, santri dari Pondok Pesantren Salafiyah Al-Hikmah Sembungan, Kelurahan Rejomulyo, Kecamatan Kartoharjo, Kota Madiun. Ia sukses mengembangkan bisnis media tanam kokedama.
Pandemi yang mewabah pada awal Maret 2020 lalu membuat kebiasaan masyarakat berubah. Terlebih setelah ada imbauan tak keluar rumah demi mencegah penularan wabah corona. Nurhuda melihat ada peluang bisnis dari situasi tersebut.
Terlalu lama berdiam diri di rumah menciptakan rasa bosan. Sehingga, tanaman hias menjadi salah satu primadona dan menjadi salah satu alternatif penghilang rasa bosan. Pemuda asli Desa Karangbanyu, Widodaren, Ngawi itu menyulap situasi membosankan menjadi bisnis yang menguntungkan.
Mengutip laman opop.jatimprov.go.id, Huda berhasil menjual kokedama hasil produksi ke berbagai daerah seperti Jakarta, Cirebon, Depok, Semarang, Sidoarjo, Surabaya, bahkan sampai ke Medan. Ia memproduksi puluhan kokedama setiap bulan sejak Agustus 2019.
Meski kala itu, Huda hanya menjadi produsen saja, belum terpikir untuk menciptakan brand sendiri. Namun kian hari pesanan makin banyak. Hingga pada awal 2020, dia memberanikan membuat brand sendiri yakni Omah Santri.
“Saya awalnya hanya produksi saja, kemudian yang jual teman. Pesanan yang masuk ke saya sangat banyak. Kalau hanya menangani produksi saja, nanti bisnis ini tidak akan berkembang. Akhirnya saya membuat Omah Santri,” ujar Huda.
Namun brand Omah Santri ternyata membawa berkah. Pesanan kian banyak berdatangan. Bahkan ia pernah mendapat pesanan sekitar 100 kokedama dalam satu bulan.
Belajar Secara OtodidakHuda mengaku membuat kokedama secara otodidak. Saat itu, menjadi salah satu penanggung jawab kegiatan pengabdian masyarakat di salah satu panti asuhan di Kabupaten madiun. Dalam program itu, ia melatih pembuatan media tanam.
Ide awal membuat kokedama muncul setelah bonsai kelapa. Dari situ, ia terinspirasi membuat kokedama, sehingga media tanam itu bisa berisi bermacam-macam tanaman. Huda memanfaatkan sabut kelapa dibentuk bulat untuk bahan pembuatan kokedama. Lalu bagian dalam diisi tanah sebagai media tanam.
Setelah yakin dengan produk kerajinan tersebut, dia lalu menyisihkan uang beasiswa kuliahnya sebanyak Rp500 ribu untuk modal usaha. Dia menggunakan uang itu untuk membeli sabut kelapa, bahan yang dibutuhkan, tanah, dan tanamannya.
“Saya kan dapat beasiswa Bidikmisi. Setiap bulan ada jatah uang makan, kemudian saya sisihkan Rp500 ribu untuk modal usaha kokedama,” ucapnya.
Huda lalu menjual kokedama tersebut mulai dari Rp45 ribu hingga Rp185 ribu, tergantung jenis tanaman. Paling mahal ialah kokedama Bunga anggrek. Namun, kokedama yang paling banyak diburu adalah kokedama tanaman sansivera dan sirih gading.
Dua tanaman itu dipilih karena memiliki kelebihan estetika dan memiliki manfaat. “Tenaga medis itu banyak yang beli sirih gading dan sansivera. Itu ditaruh di meja kan cantik, dan juga memiliki manfaat,” ucap Huda.
Meski tinggal di pondok pesantren, kegiatan itu tidak mengganggu aktivitas usahanya. Justru sebaliknya, pihak pondok mendukung kegiatan usaha kokedama itu. Dia berharap bisa mengembangkan bisnis tersebut da memperluas jangkauan pasar. Saat ini penjualan dan promosi dilakukan dengan memanfaatkan media sosial.
(jqf)