Kisah Pengungkapan Pembunuhan Lewat Sapi Betina: Tafsir Al-Baqarah Ayat 72
Ahmad zuhdi
Rabu, 21 Oktober 2026 - 07:10 WIB
Kisah Pengungkapan Pembunuhan Lewat Sapi Betina: Tafsir Al-Baqarah Ayat 72
Surat Al-Baqarah ayat 72 berada di tengah rangkaian kisah sapi betina Bani Israil yang merentang dari ayat 67 hingga 74. Al-Biqāʿī menjelaskan bahwa narasi ini memiliki kaitan yang sangat erat dengan ayat-ayat sebelumnya mengenai pelanggaran hari Sabtu.
وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًۭا فَٱدَّٰرَْٰٔتُمْ فِيهَا ۖ وَٱللَّهُ مُخْرِجٌۭ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS Al-Baqarah: 72).
Kisah tersebut bermula dari peristiwa pembunuhan seorang laki-laki di kalangan Bani Israil, yang kemudian mendorong Allah SWT memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina demi mengungkap identitas sang pembunuh yang sebenarnya. Ayat ini memuat dimensi teologis yang amat mendalam, di mana Allah memperlihatkan kekuasaan mutlak-Nya dalam menghidupkan kembali orang yang sudah mati sebagai bukti nyata bagi kaum yang mengingkari hari kebangkitan.
Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa peristiwa menghidupkan korban terbunuh ini menjadi dalil tak terbantahkan bahwa Dzat yang mampu menghidupkan satu jiwa pasti berkuasa membangkitkan seluruh umat manusia kelak.
Frasa awal ayat yang berbunyi "Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang jiwa" merekam kronologi sosial yang pelik. Berdasarkan riwayat dari Ibn ʿAbbās yang dicantumkan oleh al-Ṭabarī, peristiwa tersebut terjadi tatkala kaum Bani Israil saling tuduh-menuduh mengenai siapa pelaku pembunuhan di tengah mereka.
Dalam riwayat Mujāhid yang diriwayatkan oleh Ibn Abī Ḥātim, terungkap bahwa korban pembunuhan tersebut adalah pemilik sapi yang dibunuh oleh seseorang, lalu mayatnya sengaja dilemparkan di depan pintu kaum yang lain untuk mengelabui publik. Al-Baghawī menambahkan detail bahwa pelaku sebenarnya adalah keponakan korban sendiri yang berkeinginan untuk segera menguasai harta warisan.
وَإِذْ قَتَلْتُمْ نَفْسًۭا فَٱدَّٰرَْٰٔتُمْ فِيهَا ۖ وَٱللَّهُ مُخْرِجٌۭ مَّا كُنتُمْ تَكْتُمُونَ
Dan (ingatlah), ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh menuduh tentang itu. Dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan. (QS Al-Baqarah: 72).
Kisah tersebut bermula dari peristiwa pembunuhan seorang laki-laki di kalangan Bani Israil, yang kemudian mendorong Allah SWT memerintahkan mereka untuk menyembelih seekor sapi betina demi mengungkap identitas sang pembunuh yang sebenarnya. Ayat ini memuat dimensi teologis yang amat mendalam, di mana Allah memperlihatkan kekuasaan mutlak-Nya dalam menghidupkan kembali orang yang sudah mati sebagai bukti nyata bagi kaum yang mengingkari hari kebangkitan.
Al-Shanqīṭī menegaskan bahwa peristiwa menghidupkan korban terbunuh ini menjadi dalil tak terbantahkan bahwa Dzat yang mampu menghidupkan satu jiwa pasti berkuasa membangkitkan seluruh umat manusia kelak.
Frasa awal ayat yang berbunyi "Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang jiwa" merekam kronologi sosial yang pelik. Berdasarkan riwayat dari Ibn ʿAbbās yang dicantumkan oleh al-Ṭabarī, peristiwa tersebut terjadi tatkala kaum Bani Israil saling tuduh-menuduh mengenai siapa pelaku pembunuhan di tengah mereka.
Dalam riwayat Mujāhid yang diriwayatkan oleh Ibn Abī Ḥātim, terungkap bahwa korban pembunuhan tersebut adalah pemilik sapi yang dibunuh oleh seseorang, lalu mayatnya sengaja dilemparkan di depan pintu kaum yang lain untuk mengelabui publik. Al-Baghawī menambahkan detail bahwa pelaku sebenarnya adalah keponakan korban sendiri yang berkeinginan untuk segera menguasai harta warisan.