MUI Cetak Kader Ulama dan Ormas Islam sebagai Diplomat Non-State
Ahmad zuhdi
Kamis, 22 Oktober 2026 - 14:34 WIB
MUI Cetak Kader Ulama dan Ormas Islam sebagai Diplomat Non-State. Foto: MUI DKI Jakarta.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi DKI Jakarta bekerja sama dengan MUI Pusat menggelar Pelatihan Diplomasi Islam Wasatiyah Tingkat Dasar di Matraman, Jakarta, pada Kamis (22/10/2026). Kegiatan strategis ini dirancang untuk mencetak kader ulama dan ormas Islam sebagai diplomat non-pemerintah (non-state actors) guna memperkuat peran umat dalam kancah internasional serta mendukung transformasi Jakarta menuju kota global.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Duta Besar Safira Machrusah menyampaikan bahwa diplomasi saat ini bukan lagi monopoli korps diplomatik negara semata, melainkan seni dan ilmu yang perlu dikuasai oleh aktor non-pemerintah. “Diplomasi adalah seni dan ilmu berkomunikasi, bernegosiasi, serta membangun kesepahaman untuk mencapai kebaikan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Islam Wasatiyah merupakan manhaj pertengahan yang adil dan berkeadaban, di mana para diplomat wasatiyah berperan sebagai jembatan penyejuk di tengah polarisasi global.
Pada kesempatan sama, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH Nurhadi, menekankan pentingnya kecakapan komunikasi dan diplomasi bagi para dai maupun utusan umat dalam menyampaikan risalah kebaikan. Mengacu pada tradisi keilmuan dan sejarah Islam, Kiai Nurhadi merujuk pada keteladanan sahabat Nabi, Mus'ab bin Umair, yang diutus sebagai diplomat pertama ke Madinah satu tahun sebelum peristiwa hijrah.
“Strategi dakwah tersebut membuktikan bahwa pendekatan diplomasi yang terencana dengan baik mampu meredakan ketegangan dan menata kesiapan masyarakat,” tuturnya.
Wakil Sekretaris Jenderal MUI Pusat, Duta Besar Safira Machrusah menyampaikan bahwa diplomasi saat ini bukan lagi monopoli korps diplomatik negara semata, melainkan seni dan ilmu yang perlu dikuasai oleh aktor non-pemerintah. “Diplomasi adalah seni dan ilmu berkomunikasi, bernegosiasi, serta membangun kesepahaman untuk mencapai kebaikan bersama,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Islam Wasatiyah merupakan manhaj pertengahan yang adil dan berkeadaban, di mana para diplomat wasatiyah berperan sebagai jembatan penyejuk di tengah polarisasi global.
Pada kesempatan sama, Wakil Ketua Umum MUI DKI Jakarta, KH Nurhadi, menekankan pentingnya kecakapan komunikasi dan diplomasi bagi para dai maupun utusan umat dalam menyampaikan risalah kebaikan. Mengacu pada tradisi keilmuan dan sejarah Islam, Kiai Nurhadi merujuk pada keteladanan sahabat Nabi, Mus'ab bin Umair, yang diutus sebagai diplomat pertama ke Madinah satu tahun sebelum peristiwa hijrah.
“Strategi dakwah tersebut membuktikan bahwa pendekatan diplomasi yang terencana dengan baik mampu meredakan ketegangan dan menata kesiapan masyarakat,” tuturnya.