home masjid

Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 77: Sifat Munafik dan Sanggahan Illahi

Rabu, 28 Oktober 2026 - 05:40 WIB
Tafsir Surat Al-Baqarah Ayat 77: Sifat Munafik dan Sanggahan Illahi

Ayat ke-77 dari Surat Al-Baqarah hadir sebagai bagian dari rangkaian kecaman Allah SWT terhadap perilaku munafik golongan Bani Israil, khususnya kaum Yahudi di Madinah pada awal masa kenabian Muhammad SAW. Ayat ini terhubung erat dengan konteks sebelumnya (QS 2:76) yang menggambarkan sikap manipulatif mereka: berpura-pura beriman di hadapan kaum Muslimin, namun saling mencela dan menyembunyikan rahasia ketika berkumpul bersama kelompok mereka sendiri. Kehadiran ayat ini sekaligus menjadi teguran keras atas kebodohan mereka yang menyangka bahwa segala hal yang disembunyikan luput dari pengetahuan Allah SWT.

أَوَلَا يَعْلَمُونَ أَنَّ ٱللَّهَ يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ



Tidakkah mereka mengetahui bahwa Allah mengetahui segala yang mereka sembunyikan dan segala yang mereka nyatakan? (QS Al-Baqarah: 77).

Urgensi utama dari pembahasan ayat ini terletak pada penegasan sifat dasar keagungan Allah, yaitu al-Ilm atau ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sejumlah ulama tafsir terkemuka seperti al-Tabari menjelaskan bahwa ayat ini ditujukan kepada kaum Yahudi yang saling mencela sesama golongannya akibat ketahuan mengaku beriman di hadapan umat Islam. Di sisi lain, al-Razi memandang ayat ini sebagai bentuk tasliyah atau penghibur bagi Nabi Muhammad SAW agar semakin tegar menghadapi kedurhakaan mereka.



Secara rinci, penggalan pertama menggunakan bentuk pertanyaan inkari atau retoris yang mengandung makna teguran telak atas kebodohan mereka. Meskipun mereka adalah Ahl al-Kitab yang mengetahui kebenaran, sikap mereka seolah menunjukkan ketidaktahuan sama sekali.



Selanjutnya pada penggalan kedua, ditegaskan bahwa Allah Maha Mengetahui segala rahasia kekufuran yang mereka sembunyikan dalam pertemuan tertutup, sekaligus mengetahui pengakuan iman palsu yang mereka tampakkan secara lahiriah. Ibn Katsir dan para ulama salaf menjelaskan bahwa mereka sengaja saling melarang untuk membocorkan isi kitab suci mereka kepada umat Islam karena takut kebohongan dan hujjah mereka terbongkar.

Baca Juga:Kajian Hadis: Bahaya Lisan dan Dampak Sebuah Kalimat

Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya