Hari Sumpah Pemuda, Momentum Mengubah Potensi Desa Menjadi Kekuatan Bangsa
Zada nur ilma
Rabu, 28 Oktober 2026 - 10:40 WIB
Ubaidillah Amin mengajak pemuda dan santri memaknai Sumpah Pemuda melalui kontribusi nyata untuk membangun desa.
LANGIT7.ID-Jakarta;
Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang ikrar persatuan yang lahir pada 1928. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia turut ditentukan oleh keberanian generasi mudanya dalam mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, pemuda dan santri muda memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi. Mereka tidak harus menunggu kesempatan datang dari kota-kota besar, sebab perubahan juga dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk desa tempat mereka tumbuh dan mengenal kehidupan masyarakat.
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU), Ubaidillah Amin, memandang pemuda perlu memiliki keberanian untuk mengambil langkah konkret dalam membangun daerahnya. Menurutnya, semangat kepemudaan semestinya tidak berhenti pada gagasan dan slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Ubaidillah, keberanian mengambil peran menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda untuk mendorong kemajuan daerah. Pemuda perlu berani melihat persoalan di sekitarnya, menggali potensi yang tersedia, serta menghadirkan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Pandangan ini relevan dengan tantangan pembangunan Indonesia yang memiliki karakteristik wilayah beragam. Setiap daerah mempunyai kebutuhan, persoalan, dan keunggulan yang berbeda. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dari pusat, tetapi juga membutuhkan inisiatif masyarakat lokal, terutama generasi muda yang memahami kondisi lingkungannya.
Desa dan Peluang yang Belum Sepenuhnya Digali
Peringatan Hari Sumpah Pemuda setiap 28 Oktober bukan sekadar momentum untuk mengenang ikrar persatuan yang lahir pada 1928. Lebih dari itu, peringatan ini menjadi pengingat bahwa masa depan Indonesia turut ditentukan oleh keberanian generasi mudanya dalam mengambil peran nyata di tengah masyarakat.
Di tengah berbagai tantangan pembangunan, pemuda dan santri muda memiliki ruang yang luas untuk berkontribusi. Mereka tidak harus menunggu kesempatan datang dari kota-kota besar, sebab perubahan juga dapat dimulai dari lingkungan terdekat, termasuk desa tempat mereka tumbuh dan mengenal kehidupan masyarakat.
Tokoh Muda Nahdlatul Ulama (NU), Ubaidillah Amin, memandang pemuda perlu memiliki keberanian untuk mengambil langkah konkret dalam membangun daerahnya. Menurutnya, semangat kepemudaan semestinya tidak berhenti pada gagasan dan slogan, tetapi diwujudkan melalui tindakan yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Bagi Ubaidillah, keberanian mengambil peran menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda untuk mendorong kemajuan daerah. Pemuda perlu berani melihat persoalan di sekitarnya, menggali potensi yang tersedia, serta menghadirkan gagasan yang dapat dikembangkan menjadi kegiatan produktif.
Pandangan ini relevan dengan tantangan pembangunan Indonesia yang memiliki karakteristik wilayah beragam. Setiap daerah mempunyai kebutuhan, persoalan, dan keunggulan yang berbeda. Karena itu, pembangunan tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dari pusat, tetapi juga membutuhkan inisiatif masyarakat lokal, terutama generasi muda yang memahami kondisi lingkungannya.
Desa dan Peluang yang Belum Sepenuhnya Digali