home global news

Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association ke-23: Kontribusi Indonesia kepada Dunia dalam Memahami Evolusi Manusia

Senin, 02 November 2026 - 15:37 WIB
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menyampaikan sambutan dalam pembukaan Kongres ke-23 Indo-Pacific Prehistory Association di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

LANGIT7.ID, Yogyakarta – Kementerian Kebudayaan mendukung penyelenggaraan Kongres ke-23 Indo-Pacific Prehistory Association (IPPA) yang berlangsung pada 1–7 November 2026 di Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta.Mengusung tema “Tomorrow and Beyond”, kongres ini mempertemukan 850 praktisi arkeologi, antropologi, paleoantropologi, sejarah, dan linguistik dari 42 negara. Mereka membahas perkembangan penelitian prasejarah dan peradaban manusia di kawasan Indo-Pasifik.Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pemahaman terhadap masa lalu menjadi bagian penting dalam membaca masa depan.“Untuk memahami masa depan, kita harus terlebih dahulu memahami kedalaman dan keberagaman masa lalu. Dunia yang kita tinggali saat ini terbentuk dari perjalanan panjang banyak generasi, jauh sebelum sejarah mulai ditulis,” ujar Fadli saat memberikan sambutan dalam pembukaan kongres di Grha Sabha Pramana, UGM.Fadli mengungkapkan, Indonesia memiliki kontribusi besar dalam membantu dunia memahami sejarah manusia di kawasan Indo-Pasifik. Berbagai temuan arkeologi di Nusantara menempatkan Indonesia sebagai salah satu wilayah penting dalam penelitian evolusi dan kebudayaan manusia.Sejumlah temuan tersebut antara lain lukisan cadas di Liang Metanduno, Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan berusia setidaknya 67.800 tahun, serta lukisan gua di Leang Karampuang, Sulawesi Selatan, yang berusia setidaknya 51.200 tahun.Temuan tersebut memberikan perspektif baru mengenai perkembangan ekspresi artistik dan perjalanan manusia di kawasan kepulauan Asia Tenggara.Fadli juga mengajak komunitas akademik internasional memperluas perspektif dalam memahami sejarah manusia dengan memberikan perhatian lebih besar terhadap peran masyarakat kepulauan dan lingkungan maritim.Menurutnya, sejarah perkembangan manusia di kawasan Indo-Pasifik tidak dapat dipahami hanya melalui perspektif kontinental. Kajian juga perlu memperhatikan jaringan migrasi, interaksi, dan pertukaran budaya yang berkembang antarpulau.Perspektif tersebut membuka ruang pengkajian lebih lanjut mengenai posisi Nusantara dalam perjalanan sejarah peradaban dunia.Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta, K.G.P.A.A. Paku Alam X, mengatakan kemajuan peradaban tidak semata-mata diukur dari sejauh mana manusia melangkah, tetapi juga dari kebijaksanaannya dalam memahami perjalanan yang telah dilalui.Penyelenggaraan kongres IPPA di Indonesia juga menjadi momentum untuk memperkuat diplomasi kebudayaan.Sebelumnya, dalam audiensi bersama Presiden IPPA Anggraeni di Jakarta pada 4 Maret 2026, Menteri Kebudayaan menyampaikan bahwa peran Indonesia dalam kongres internasional tersebut tidak hanya sebagai tuan rumah. Indonesia juga memiliki peluang diplomasi untuk memperkenalkan kekayaan prasejarah dan potensi pariwisata warisan budaya kepada dunia.Presiden IPPA Anggraeni menyampaikan bahwa kongres ini tidak hanya menjadi ruang pertukaran hasil penelitian, tetapi juga membuka kesempatan bagi praktisi, profesional, dan peneliti untuk membangun interaksi, memperluas kolaborasi lintas disiplin, serta memperkuat kerja sama antarinstansi dan antarnegara.Sejumlah pejabat turut hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian, Pengembangan Usaha, dan Kerja Sama Danang Sri Hadmoko; Kepala Dinas Kebudayaan DIY Dian Lakshmi Pratiwi; Sekretaris Jenderal IPPA Philip Piper; serta Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra Herry Jogaswara.Menteri Kebudayaan turut didampingi Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi, dan Kerja Sama Kebudayaan Endah T.D. Retnoastuti; Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan Anindita Kusuma Listya; serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan DIY Nahar Cahyandaru.Melalui Kongres ke-23 IPPA, Kementerian Kebudayaan berharap kekayaan prasejarah Indonesia semakin dikenal di tingkat internasional. Forum ini juga diharapkan memperkuat kolaborasi penelitian lintas negara dan disiplin ilmu, sekaligus menegaskan kontribusi Indonesia dalam memperkaya pemahaman dunia mengenai evolusi manusia dan perkembangan kebudayaan di kawasan Indo-Pasifik.(/zd)*

(lam)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya