Ketika Masjidil Haram Terdampak Pandemi Covid saat Bulan Haji
Fajar adhitya
Senin, 19 Juli 2021 - 10:41 WIB
Masjidil Haram saat terdampak pandemi Covid. (Foto: Antara).
Masjidil Haram merupakan situs paling suci dalam Islam dan terletak di jantung kota Mekah di Arab Saudi. Tempat ini menjadi pusat kunjungan umat Muslim untuk beribadah pada musim haji atau bulan Dzulhijjah.
Bangunan yang di dalamnya berdiri kiblat, Ka'bah, tak pernah sepi dari kunjungan jamaah. Bukan hanya di musim haji, tetap setiap waktu untuk ibadah umrah.
Namun situasi di sana mendadak berubah setelah Covid-19 mewabah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada 5 Maret 2020, Masjidil Haram tutup pada malam hari dan membatasi kehadiran jamaah untuk beribadah.
Kondisi ini mulai dilonggarkan pada 4 Oktober 2020. Umrah kembali dibuka secara bertahap dalam tiga fase. Pertama dibatasi untuk warga Arab Saudi dan ekspatriat. Lalu ada batasan 30 persen dari kapasitas masjid.
Adanya pembatasan ini membuat Masjidil Haram hanya bisa menampung 6.000 jamaah. Itupun mereka harus mengenakan masker dan menjaga jarak ketika beribadah.
Tahap kedua juga terbatas untuk penduduk setempat, dengan cakupan kapasitas 75 persen, memungkinkan 15.000 jemaah dan 40.000 jemaah memasuki Masjidil Haram dalam sehari.
Fase terakhir membuka pintu 100 persen dari kapasitas masjid atau kembali normal. Artinya ada sekitar 20.000 peziarah, 60.000 jamaah dan 19.500 pengunjung diizinkan masuk ke dalam masjid setiap hari.
Bangunan yang di dalamnya berdiri kiblat, Ka'bah, tak pernah sepi dari kunjungan jamaah. Bukan hanya di musim haji, tetap setiap waktu untuk ibadah umrah.
Namun situasi di sana mendadak berubah setelah Covid-19 mewabah. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, pada 5 Maret 2020, Masjidil Haram tutup pada malam hari dan membatasi kehadiran jamaah untuk beribadah.
Kondisi ini mulai dilonggarkan pada 4 Oktober 2020. Umrah kembali dibuka secara bertahap dalam tiga fase. Pertama dibatasi untuk warga Arab Saudi dan ekspatriat. Lalu ada batasan 30 persen dari kapasitas masjid.
Adanya pembatasan ini membuat Masjidil Haram hanya bisa menampung 6.000 jamaah. Itupun mereka harus mengenakan masker dan menjaga jarak ketika beribadah.
Tahap kedua juga terbatas untuk penduduk setempat, dengan cakupan kapasitas 75 persen, memungkinkan 15.000 jemaah dan 40.000 jemaah memasuki Masjidil Haram dalam sehari.
Fase terakhir membuka pintu 100 persen dari kapasitas masjid atau kembali normal. Artinya ada sekitar 20.000 peziarah, 60.000 jamaah dan 19.500 pengunjung diizinkan masuk ke dalam masjid setiap hari.