LANGIT7.ID, Jakarta -
Desa Wisata Hilisimaetano menjadi salah satu desa adat tertua di tanah Nias Selatan. Hingga kini, Desa Hilisimaetano masih teguh mejaga nilai adat istiadat serta peninggalan para leluhurnya.
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno mengatakan bahwa kekentalan adat budaya yang ada seperti lombat batu, tari perang, tari harimau menjad tradisi budaya sebagai ajang promosi pariwisata dan Ekonomi kreatif di Nias Selatan.
"Saya melihat kekentalan sejarah dan budaya. Saya melihat ini adalah atraksi utama sebagai adat istiadat dan budaya yang masih dijaga dan dilestarikan dengan baik oleh masyarakat setempat," ujar Sandiaga dikutip Kamis (23/6/2022).
Baca juga: Ekowisata Sungai Citarik Bandung Olah Sampah Jadi UangMenurutnya, hal tersebut dapat terlihat pada saat memasuki desa, terdapat Batu Megalitik yang menandakan pada zaman megalitikum masyarakat Nias menggunakan peralatan dari batu besar.
"Kemudian 50 rumah adat yang bangunannya masih terpelihara dengan baik. Namun sangat disayangkan, ada satu rumah adat tertua yang runtuh akibat dampak dari tsunami Aceh tahun 2004," ujarnya.
Tidak hanya itu, sistem pemerintahan yang dijalankan masih mengikuti sistem adat di mana sistem kepemimpinan adat desa masih dipegang oleh Si’ulu atau Raja yang merupakan kaum bangsawan Nias.
"Kemudian, para cendikiawan atau yang disebut Si’ila berperan sebagai pemberi nasihat kepada bangsawan. Dan Sato atau Fa’abanuasa (masyarakat) yang terus bergotong-royong dalam menjaga Lakhömi mbanua (marwah desa)," katanya.
Nias memang dikenal dengan tradisi lompat batu atau fahombo di mana tradisi ini menjadi suguhan atraksi wisata yang menarik bagi wisatwan. Tradisi lompat batu biasanya dilakukan oleh para pemuda dengan cara melompati tumpukan batu setinggi kurang lebih dua meter.
Hal tersebut dilakukan untuk menunjukan bahwa mereka pantas dianggap dewasa dan memberikan sebuah kebanggaan tersendiri bagi keluarga mereka. Kendati demikian, tidak semua anak laki-laki sanggup melakukan tradisi ini sebab walau dilatih sejak dini, masyarakat Nias percaya ada keterlibatan magis dari leluhur sehingga mereka berhasil melompati batu dengan sempurna.
Dalam visitasinya, Menparekraf bertemu dengan anak-anak yang sedang latihan lompat batu di sebuah replika lompat batu kecil dan para pemuda yang melakukan lompat batu sungguhan. Anak-anak kecil di desa memang rutin melakukan latihan setiap pekan, agar tradisi lompat batu di Desa Hilisimaetano tidak punah.
Selain itu, Sandiaga juga menyaksikan ritual kuno famadaya harimao yang dilaksanakan 14 tahun sekali, dengan mengarak patung menyerupai harimau untuk penyucian dan pembaharuan hukum-hukum adat yang berlaku di seluruh daerah Maniamölö, yang dilanjutkan dengan membaca doa-doa kuno.
Desa ini juga memiliki tradisi kerajinan tangan atau kriya yang masih dilakukan sampai sekarang, seperti anyaman topi caping, pahatan, ukiran, dan pedang besi yang dahulu difungsikan sebagai alat perang masyarakat Nias. Dan ketika menang melawan musuh, kepala musuh akan disematkan pada ujung sarung pedang.
Baca juga: Telaga Biru Semin Jadi Spot Wisata Tersembunyi di YogyakartaDengan begitu, Sandiaga berkeinginan untuk mengembangkan potensi tersebut sebab Hilisimaetano juga mempunyai kawasan persawahan yang terbesar di Nias Selatan sehingga berpotensi menjadi kawasan agrowisata yang begitu besar.
"Sekarang kami sangat khawatir dengan adanya ancaman krisis pangan, krisis energi, tapi Nias Selatan ini khususnya di Desa Wisata Hilisimaetano justru memiliki potensi untuk bisa memiliki ketahanan pangan dan kemandirian energi ini bisa kita kembangkan ke depan," katanya.
Pihaknya juga berencana untuk menjadikan Desa Hilisimaetanö sebagai desa wisata berkelanjutan. Namun sebelumnya, perlu ada beberapa fasilitas yang dibenahi, di antaranya toilet dan homestay.
"Kita akan memberikan pendampingan, pelatihan, kita akan ada peningkatan destinasi wisata lainnya, seperti toilet, begitupun dengan homestay karena di sini hanya ada satu, kita akan tingkatkan, juga kita ingin jadikan desa wisata ini sebagai tujuan wisata selagi ada WSL Pro, untuk membangkitkan ekonomi masyarakat," kata Sandiaga.
Tak hanya itu, pihaknya juga akan meningktkan desa wisata ini agar menjadi desa wisata berkelanjutan, dengan mengembangkan produk ekonomi kreatifnya, sehingga lapangan kerja terbuka dan penghasilan masyarakat meningkat.
(sof)