LANGIT7.ID, Jakarta - Bintang sepak bola Manchester United, Cristiano Ronaldo dan Harry Maguire menempati posisi teratas sebagai pemain yang banyak mendapat intimidasi digital atau pembulian di Twitter.
Hasil riset Alan Turing Institute bekerja sama dengan Ofcom juga mendapati lima pemain lain sebagai yang terbanyak terkena serangan verbal.
Dalam sebuah laporan yang dirilis pada Selasa kemarin (2/8/2022), Ofcom mencatat terdapat 2,3 juta tweet di paruh pertama Liga Inggris musim lalu. Hampir 60.000 tweet kasar yang dikirim pada periode tersebut berdampak pada tujuh dari 10 pemain Liga Inggris
Baca juga:Erik Ten Hag Ungkap Alasan Manchester United Rekrut Benni McCarthy. Selama periode tersebut, 68% pemain (418 dari 618) menerima setidaknya satu cuitan penghinaan setiap hari. Dalam dokumen penelitian, tercatat Ronaldo mendapat 12.520 tweet kasar, sedangkan Maguire menerima 8.954, artinya Ronaldo menerima 40% lebih banyak pelecehan daripada Harry Maguire di Twitter.
Selama musim Liga Premier 2021 tercatat ada dua puncak besar pelecehan, yakni pada 27 Agustus 2021 dan 7 November 2021. Kemudian ada tiga puncak yang lebih kecil, ketika setidaknya 1.200 tweet kasar dikirim dalam satu hari (2 September 2021, 24 Oktober 2021, 21 November 2021).
“Puncak aktivitas kemungkinan besar karena transfer Cristiano Ronaldo, yang memiliki 98,4 juta pengikut di Twitter, dari klub Italia Juventus ke Manchester United pada 27 Agustus. Hashtag yang paling banyak digunakan adalah #snake, #jorgemendes dan #mufc,” dilansir laporan tersebut, Rabu (3/8/2022).
Puncak peningkatan kedua pada 7 November 2021 dipicu tweet dari Harry Maguire di mana dia meminta maaf atas permainan Manchester United. Maguire mengatakan bahwa mereka sedang melalui "masa sulit".
Baca juga: Cristiano Ronaldo Kembali Berlatih dengan Skuad Manchester United“Banyak pengguna Twitter bereaksi dengan bahasa yang menghina dan merendahkan, seperti menyuruhnya untuk “diam” atau “f*ck off”,”” kata laporan.
Temuan ini menjelaskan sisi gelap dari permainan yang indah. Pelecehan digital tidak memiliki tempat dalam olahraga, atau dalam komunitas masyarakat yang lebih luas, perlu kerja sama berbagai pihak untuk mengatasinya.
“Temuan mencolok ini mengungkap sejauh mana pesepakbola menjadi sasaran pelecehan keji di media sosial. Pemain terkemuka menerima pesan dari ribuan akun setiap hari di beberapa platform, dan tidak mungkin menemukan semua penyalahgunaan tanpa teknik AI yang inovatif,” ujar Dr Bertie Vidgen, penulis utama laporan dan Kepala Keamanan Online di The Alan Turing Institute.
(sof)