Patut disyukuri bahwa Musyawarah Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bekasi pada Sabtu 27 Mei kemarin berjalan lancar. Tentu ada dinamika. Namun arah kebijakan organisasi dijalankan secara disiplin. Etika Kemuhammadiyahan tetap menjadi pedoman.
Thema yang diambil juga tidak main-main: "Memajukan Kabupaten Bekasi, Mencerahkan Jawa Barat". Thema besar. Bahkan besar sekali. Thema itu mengandungkan komitmen filosofis gerakan berkemajuan: Ikut andil bekerjasama dengan Pemangku Kepentingan lainnya dalam memajukan kabupaten Bekasi sehingga mampu mencerahkan provinsi Jawa Barat.
Ada yang tersisa dan menarik untuk diperhatikan. Menimbulkan rasa optimistis. Yakni komposisi sembilan unsur pimpinan terpilih: tiga pimpinan adalah Pengusaha; Dosen ada tiga; Ulama ada tiga; Satu orang lagi kader biologis Muhammadiyah karena sejak muda telah aktif di organisasi otonom.
Komposisi seperti itu sangat menjanjikan. Sinergitas yang saling mengisi. Sangat dibutuhkan dalam sebuah gerakan. Antara Pengusaha-Pendidik-Ulama-Organisatoris. Mengingatkan pada periode awal-awal berdirinya Muhammadiyah di Kauman Yogyakarta.
Gerakan Muhammadiyah berdiri dan berkembang besar tidak lepas dari sinergitas lintas profesi seperti itu. Bahkan KH. Ahmad Dahlan sendiri mempunyai keempat profesi itu secara komplit: Pengusaha (batik); Ulama; Pendidik; dan Organisatoris.

Siapa yang menyangka jika di kemudian hari Muhammadiyah Bekasi akan cepat besar karena unsur pimpinannya mempunyai gabungan kapasitas yang mewakili kemampuan pribadi KH Ahmad Dahlan secara jama'i.
Kondisi PDM Bekasi saat ini belum maju. Amal Usahanya (AUM) belum ada yang bisa dibanggakan. Jika saya bandingkan dengan daerah-daerah Pantura yang medan perjuangannya lebih berat masih kalah. Jauh sekali.
Coba mengambil road-map dari Cirebon sampai ke Surabaya. Universitas Muhammadiyah berjejer-jejer. Rumah sakit berdiri megah. Baitul Mal dan BPR tumbuh subur.
Contoh di Kabupaten Pati yang saya lebih tahu. Dulunya warga Muhammadiyah bisa dihitung jari jumlahnya. Namun Berdiri megah Rumah Sakit Muhammadiyah, Sekolah Tinggi Keperawatan, BPR Fastabig. Kini, warga Muhammadiyah Pati hanya bisa dihitung dengan kalkulator saking pesat pertambahannya. Sekolah-sekolah Muhammadiyah tumbuh di wilayah-wilayah kecamatan. Dakwah Muhammadiyah telah menyebar.
Di Kudus, apalagi ini daerahnya Mas Abdul Mu'ti, Universitas Muhammadiyah telah mampu melewati Universitas Muria yang puluhan tahun lebih lama berdiri. Baik dari kapasitas keilmuannya maupun jumlah mahasiswanya.
Menyebarkan paham Kemuhammadiyahan dengan konsep utamanya Islam Berkemajuan tidaklah sulit jika ada AUM sebagai sarananya. Karena sangat logis, mudah dicerna oleh kalangan yang sangat awam sekalipun.
Islam berkemajuan adalah islam yang mampu beradaptasi, mengakomodasi, serta menyesuaikan secara tegas dengan dinamika zaman. Islam berkemajuan merupakan bentuk penegasan sebagai ormas Islam modernis. Salafisme yang dikembangkan berorientasi pada konsep Syeich Muhammad Abdul yang berorientasi pada pembaharuan Islam yang rasionalistik.
Tentu sangat berbeda secara diametral dengan konsep salafisme yang dikembangkan oleh Syeich Muhammad bin Abdul Wahhab yang berorientasi pada pemurnian Islam secara literal, skriptual, dan harfiah. Kaku secara keseluruhan tanpa melihat perubahan sosio-kultural yang terjadi di kalangan masyarakat Muslim.
Lebih jelas tentang Islam Berkemajuan seperti yang diamanahkan langsung oleh KH. Ahmad Dahlan: "Dadiyo kiai sing kemajuan, lan ojo kesel-kesel anggonmu nyambut gawe kanggo Muhammadiyah". (Jadilah Kiai yang berkemajuan, dan jangan lelah bekerja untuk Muhammadiyah).
Saya percaya, darah segar dari unsur Pimpinan Daerah Muhammadiyah baru yang terdiri dari berbagai profesi ini akan mampu mengejar ketertinggalannya.
Wallahu'alam.
Salam dari Warga Muhammadiyah Bekasi
(Nurkhamid Alfi)

(lam)