LANGIT7.ID-, Jakarta- - Tidak ada jaminan bahwa setiap pernikahan akan berhasil atau memberikan kebahagiaan hakiki bagi kedua mempelai. Namun, dalam Islam, ada jaminan bahwa jika seseorang memenuhi syarat dan panduan untuk mematuhi Allah dan rasul-Nya terkait pernikahan, maka ia akan memiliki potensi nyata untuk mencapai kebahagiaan pernikahan yang didambakan setiap orang.
Anggota dewan ilmiah penelitian Al-Qur’an dan Sunnah di Kairo, Mustafa Zayed, menjelaskan, ahasia pertama dari pernikahan yang sukses adalah memilih pasangan yang tepat.
"Barangsiapa yang melamar putri-putri kalian yang kalian ridhoi agama dan akhlaknya, maka terimalah pinangannya, jika tidak, itu akan menjadi cobaan yang berat." (HR. Bukhari)
Artinya, salah satu syarat dalam Islam adalah adanya kesetaraan antara suami dan istri dalam lingkungan budaya, sosial, bahkan finansial. Namun, parameter utama untuk memilih pasangan adalah agama.
Demikian pula, Nabi menasehati para pria Muslim dengan nasihat untuk menjadikan perilaku Islami sebagai filter utama dalam memilih seorang istri. Dalam kutipannya yang terkenal, Nabi Muhammad bersabda:
"Seorang wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena status sosialnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya (adab Islami), maka nikahilah yang memiliki agama, jika tidak, Anda akan mendapatkan debu (tidak mendapatkan apa-apa)." (HR. Bukhari)
“Kutipan ini berbicara tentang wanita, tetapi sebenarnya maknanya juga berlaku untuk pria. Karena wanita muda dan pria muda bisa saja memilih pasangan yang tampan, kaya, lucu, gaul, dan membutakan diri terhadap agama dan akhlak Islam yang sebenarnya,” kata Mustofa melalui About Islam, Jumat (10/11).
Setelah tiga minggu sampai satu bulan setelah pernikahan, semua fasad yang mencolok, lucu, dan megah akan runtuh menjadi normal dan membosankan. Hal tersisa adalah sifat asli yang dalam banyak kasus menjadi bom waktu. Itu pada akhirnya akan menghancurkan pernikahan atau paling tidak merusak kualitasnya.
“Jadi, aturan utamanya adalah suami atau istri yang tampan, cerdas, dan kaya memang bagus, tetapi hanya sebagai tambahan dari agama mereka yang baik, dan karakter Islam yang benar, karena agama/karakter yang benar itulah yang akan bertahan lama,” tutur Mustafa.
Nasihat untuk Para Istri
Nabi Muhammad saw bersabda: "Jika seorang wanita melakukan shalat lima waktu, berpuasa tiga puluh hari, menjaga kehormatannya, dan menaati suaminya, maka akan dikatakan kepadanya, 'masuklah dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki'." (HR. Tirmidzi)
Jadi apa yang dimaksud dengan menaati suami terutama untuk harga diri pengantin wanita?
Jika melihat pernikahan melalui kacamata modern dan pragmatis, pernikahan adalah sebuah kerja sama atau semacam perusahaan manusia. Pada akhirnya, seperti halnya dengan entitas yang sukses yang terdiri dari beberapa individu, harus ada seorang pemimpin yang bertanggung jawab atas kesejahteraan seluruh entitas.
“Allah telah membebani laki-laki dengan kepemimpinan dan tanggung jawab untuk seluruh keluarga, berdasarkan tugas alamiah mereka untuk menyediakan, melindungi, dan yang paling penting, memenuhi semua kebutuhan keluarga,” ujar Mustofa.
Ketaatan seorang istri kepada suami dalam hal ini persis seperti seorang direktur atau wakil presiden sebuah perusahaan yang berhubungan dengan presiden, dengan memberikan masukan, permintaan, dan tuntutan. Namun dengan tetap menyadari keputusan akhir berada di pundak presiden, karena ia juga memikul tanggung jawab utama.
“Banyak orang yang memahami konsep bisnis ini dengan sangat mudah, namun terkadang pasangan tidak pernah mencernanya karena pengaruh kebiasaan Barat, di mana hubungan antara pria dan wanita bersifat kompetitif, bukan integratif,” ujar mustofa.
Maka itu, pedoman utama ketaatan seorang istri kepada suami berada di bawah aturan utama dalam Islam; "tidak ada ketaatan kepada makhluk yang tidak taat kepada pencipta.” Artinya, ketaatan kepada suami karena itu merupakan perintah dari Allah SWT.
“Jadi, jika suami meminta istri untuk menipu, berbohong, mencuri, atau membunuh, maka itu adalah sebuah kata tidak untuk suami, tidak peduli apa alasannya,” ujar Mustofa.
“Pasangan yang memahami konsep ketaatan adalah setengah dari jalan untuk memiliki pernikahan yang benar-benar damai dan sukses,” lanjutnya
(ori)