LANGIT7.ID-Jakarta; Sebuah ironi tengah dihadapi Timnas Indonesia di ajang Piala AFF 2024. Meski berhasil memetik kemenangan, skuat Garuda tetap kesulitan untuk memperbaiki posisinya di ranking FIFA. Fenomena ini terlihat jelas menjelang pertandingan kedua melawan Laos yang akan digelar di Stadion Manahan, Solo, pada Kamis (12/12/2024) pukul 20.00 WIB.
Paradoks ini muncul karena bobot nilai yang ditetapkan FIFA untuk Piala AFF 2024 sangat rendah. Meskipun turnamen ini masuk dalam kategori FIFA A Match, kompetisi regional ini hanya mendapat bobot 5. Angka ini sangat kontras jika dibandingkan dengan Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia yang memiliki bobot 25, atau lima kali lipat lebih tinggi.
Baca juga: Desain Jersey Baru Timnas Indonesia Kini di Tangan Kamu, PSSI Buka Sayembara untuk Garuda FansDampak dari rendahnya bobot ini sangat terasa. Seandainya Timnas Indonesia berhasil mengalahkan Laos, skuat asuhan Shin Tae-yong hanya akan mendapatkan tambahan 1,39 poin. Ironisnya, jika mengalami kekalahan, timnas justru akan kehilangan 3,61 poin. Bahkan hasil imbang pun tetap merugikan dengan pengurangan 1,11 poin dari total poin yang dimiliki.
Kondisi serupa sudah dialami tim Merah Putih saat menghadapi Myanmar di laga pembuka. Meski sukses meraih kemenangan 1-0 berkat gol Asnawi Mangkualam di Thuwunna Stadium pada Senin (9/12/2024), timnas hanya mendapat tambahan 1,8 poin. Penambahan yang terbilang sangat minim untuk sebuah kemenangan.
Merujuk data terkini yang dirilis secara resmi oleh federasi sepak bola dunia, Timnas Indonesia saat ini menempati urutan 125 peringkat FIFA dengan koleksi nilai 1135,11. Posisi ini masih bisa bergerak naik atau turun, tergantung hasil pertandingan skuat Garuda di ajang Piala AFF 2024.
Situasi ini menciptakan dilema tersendiri bagi timnas Indonesia. Di tengah ambisi untuk menjuarai Piala AFF 2024, skuat Garuda juga harus memikirkan strategi untuk mempertahankan posisinya di ranking FIFA. Kenyataan bahwa kemenangan pun tidak memberi dampak signifikan terhadap peringkat menjadi ironi yang harus dihadapi tim nasional.
Perhitungan matematis FIFA ini menunjukkan betapa beratnya posisi tim-tim Asia Tenggara untuk meningkatkan peringkat mereka di ranking dunia. Meski Piala AFF merupakan turnamen prestisius di kawasan, minimnya bobot nilai yang diberikan FIFA membuat kompetisi ini kurang menguntungkan dari sisi peringkat dunia.
(lam)