LANGIT7.ID, Papua - Mengabdi di pedalaman Papua sebagai guru bukan pilihan mudah. Butuh pengorbanan, terlebih kondisi geografis daerah itu terkenal ekstrim. Namun pilihan sulit menjadi tantangan Asyiah Dewi Khairina, guru di SMK 1 Okaba, di Kampung Es Wambi, Distrik Okaba, Kabupaten Merauke, Papua.
Lokasi SMK 1 Okaba berjarak 170 km dari Kota Merauke. Medan tempuh sangat sulit, Asyiah harus menyeberangi sungai-sungai menggunakan perahu motor dan jalan darat berlumpur. Di sisi lain, ia harus menerima nasib pahit, sejak 2 tahun terakhir ia tak lagi menerima tunjangan guru dari pemerintah.
Namun, hal itu tidak menjadi beban bagi Asyiah. Bagi dia, mendidik anak-anak terlebih di daerah 3T merupakan panggilan jiwa sekaligus lahan dakwah. Saat menerima Surat Keputusan (SK) CPNS dan ditempatkan di pedalaman, ia dikuatkan oleh sang ayah agar betah dan mau mengabdi di pedalaman Merauke, Papua.
"Sehelai daun kering tidak akan jatuh ke tanah melainkan sudah dengan izin Allah, apalagi kamu yang sudah jadi kader (Muhammadiyah) terasah,” kata Asyiah menirukan pesan sang ayah, dikutip dari laman Muhammadiyah.
Mendampingi Minoritas MuslimDi kampung Asyiah bertugas yang 99 persen Orang Asli Papua (OAP) sudah ada yang beragama Islam. Namun, keislaman mereka masih mengikuti adat istiadat. Mereka tidak shalat dan puasa, namun tetap dikhitan serta tidak makan daging anjing dan babi.
Hal itu menjadi keprihatinan tersendiri. Asyiah memberikan pendampingan terhadap minoritas muslim tersebut secara perlahan. Ia mengenalkan kepada mereka huruf hijaiyah kepada anak-anak muslim dan mengajarkan keteladanan seperti sikap Rasulullah SAW.
“Di kampung Es Wambi tempat tugas saya, kepala adat melarang pembangunan Mushola. Jangankan mushola, gereja Kristen protestan saja tidak boleh. Jadi, cuma ada gereja katolik saja. Ada mushola di kampung sebelah jaraknya 13 km. jadi, kalau guru-guru mau shalat Jumat harus ke kecamatan (distrik) jaraknya 18 KM,” kata Asyiah.
Mengabdi di MuhammadiyahDi tengah kesibukan sebagai abdi negara, Asyiah tidak melupakan Muhammadiyah yang telah dianggap sebagai tempat pulang. Ia bersyukur memiliki atasan yang perhatian dan memberikan izin untuk aktif di persyarikatan Muhammadiyah.
“Untuk tugas negara dan tugas persyarikatan saya harus pintar membagi waktu. Alhamdulillah atasan saya juga seorang aktivis Katolik dan paham tugas-tugas aktivis selama tidak merugikan dan melalaikan tugas di sekolah, saya diizinkan untuk berkegiatan,” kata Asyiah.
Wanita kelahiran Merauke 36 tahun lalu ini mengaku merangkap jabatan di persyarikatan Muhammadiyah lantaran sumber daya manusia (SDM) kurang di daerah tersebut. ia menjabat sebagai Sekretaris Umum Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah (PDA) Merauke, bendahara umum PDNA Merauke, tergabung di KOKAMWATI, TSPM Pimda 196 Merauke, dan MDMC.
Saat pandemi corona mewabah di Tanah Air, Asyiah bersama sang suami menjadi relawan pemulasaraan jenazah Covid-19 di bawah naungan Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Merauke. Ia juga aktif membantu masyarakat terdampak wabah corona.
(jqf)