LANGIT7.ID-Cincinnati; Petenis cantik, Emma Raducanu dari Inggris gagal tipis mengalahkan pemain nomor satu dunia Aryna Sabalenka dalam pertarungan sengit di Cincinnati Open.
Si cantik Raducanu (22 tahun) kalah 7-6 (7-3) 4-6 7-6 (7-5) dari Sabalenka yang bertahan sebagai juara bertahan setelah pertandingan marathon lebih dari tiga jam untuk lolos ke babak keempat.
Ini menjadi bukti lagi bahwa Raducanu mampu memberikan perlawanan serius kepada pemain terbaik dunia, setelah sebelumnya juga memberikan tekanan ketat ke Sabalenka di Wimbledon.
Musim ini, masalah kebugaran si cantik Raducanu—yang kini menjadi petenis nomor satu Inggris—sudah jauh membaik, dan ketahanan mentalnya meningkat. Ia pun kembali masuk 40 besar dunia.
"Seperti yang saya katakan di Wimbledon, saya senang melihatnya sehat—baik secara mental maupun fisik," kata Sabalenka.
"Dia terus menunjukkan peningkatan, dan saya bisa lihat dia sedang kembali ke performa terbaiknya. Saya menikmati pertarungan melawannya—dia pemain yang luar biasa."
Raducanu berpeluang menjadi unggulan di 32 besar AS Open nanti, yang secara teori bisa memberinya jalur lebih mudah di Grand Slam lapangan keras ini—turnamen yang pernah ia menangi sebagai kualifier pada 2021 silam saat masih remaja.
Berdasarkan performanya melawan Sabalenka, banyak hal positif yang bisa dibawa Raducanu ke turnamen besar terakhir musim ini.
**Tanda-tanda Raducanu Bisa Bersaing dengan yang Terbaik**
Dengan servis solid sebagai fondasi, ditambah permainan baseline yang tenang dan terukur, Raducanu hampir saja memenangi pertandingan ketat di Cincinnati yang diguyur cuaca terik itu.
Sabalenka tampil di bawah performa terbaiknya. Permainan baseline-nya yang biasanya menjadi senjata andalan—dan telah membawanya meraih tiga gelar Grand Slam—terlihat rentan dan tidak konsisten.
Raducanu memanfaatkan ini dengan baik, dibimbing secara vokal oleh pelatih barunya, Francisco Roig, yang dulu adalah bagian dari tim Rafael Nadal saat meraih 22 gelar Grand Slam. Perhatian Roig terhadap detail terlihat jelas sepanjang pertandingan.
Roig terus memberikan instruksi tentang pola servis Raducanu dan bentuk pukulan forehand-nya, sambil menyelipkan motivasi positif.
"Kamu lebih baik darinya," begitu salah satu pesan pelatih asal Spanyol (57 tahun) itu kepada Raducanu.
Di masa lalu, Raducanu sering kewalahan dalam pertarungan sama intens dan kondisi fisik yang menguras. Namun kali ini, ia menunjukkan ketahanan yang jauh lebih baik—contohnya saat ia bertahan dari empat break point dalam game kedelapan yang marathon di set penentu, bertahan selama 12 deuce dan 22 menit untuk mempertahankan servisnya.
Sayangnya, Sabalenka memiliki rekor fantastis di tie-break. Pemain Belarusia (27 tahun) itu membuktikannya lagi dengan tetap tenang dan agresif di momen-momen krusial, mempertahankan rekor 16 tie-break beruntun yang mencatatkan namanya sebagai pemain tunggal WTA dengan rekor tie-break terpanjang di era Open.
Kemenangan ini diraih meski Sabalenka secara total mengumpulkan tiga poin lebih sedikit daripada Raducanu sepanjang pertandingan.
Meski ada banyak progres, kekalahan ini berarti Raducanu baru memenangi 3 dari 17 pertemuannya melawan pemain top-10, dan belum pernah mengalahkan pemain top-4 dunia.
Ia tentu berharap bisa segera memecahkan rekor itu—mungkin di New York nanti.(*/saf/bbc)
(lam)