LANGIT7.ID-Jakarta; Legenda sepak bola Ajax Amsterdam, Simon Tahamata, yang kini menjabat sebagai
Head of Scouting Timnas Indonesia kembali mengingatkan pentingnya arah pembangunan sepak bola nasional. Ia menilai, langkah PSSI yang gencar melakukan naturalisasi pemain harus diimbangi dengan keseriusan dalam mengembangkan bakat lokal yang sesungguhnya melimpah.
Menurut Simon, Indonesia adalah negara besar dengan segudang talenta sepak bola. Namun, potensi itu kerap terpinggirkan karena federasi terlalu mudah mengandalkan pemain keturunan ataupun naturalisasi dari luar negeri. “Indonesia itu negara besar, punya banyak bakat. Tapi bakat itu harus dibina, bukan diabaikan,” tegasnya di Jakarta, dikutip Rabu (27/8/2025).
Simon mengaku prihatin lantaran kondisi ini membuat banyak pemain muda merasa tidak memiliki ruang bersaing di level tertinggi. “Anak-anak di sini jadi berpikir, ‘kapan saya bisa dapat kesempatan?’ karena lihat pemain dari luar terus yang dipanggil,” ucapnya.
Kritik Sistem Pelatihan di Tanah AirDalam pandangannya, salah satu akar masalah ada pada sistem pembinaan yang belum menyentuh akar rumput secara serius. Simon membandingkan dengan pengalaman masa kecilnya di Belanda, di mana proses pelatihan usia dini sudah dimulai sejak anak berusia 7–8 tahun. “Di Belanda, anak usia 7-8 tahun sudah mulai dilatih secara serius. Di sini anak-anak baru mulai usia 12 atau 14 tahun. Itu terlambat!” katanya.
Ia juga menyoroti lemahnya standar pendidikan bagi para pelatih. Bagi Simon, kualitas pembinaan akan sulit meningkat jika orang-orang yang mengajar tidak dibekali ilmu yang memadai. “Kalau pelatihnya enggak punya ilmu, bagaimana bisa lahir pemain hebat? Di Belanda, semua pelatih harus sekolah. Bukan sekadar pengalaman,” tegasnya.
Harapan untuk Strategi Seimbang PSSISimon menekankan, naturalisasi tetap bisa menjadi solusi jangka pendek. Namun, strategi ini tidak boleh mengorbankan regenerasi pemain asli Indonesia yang sesungguhnya memiliki potensi besar. “Percayalah pada anak-anak Indonesia. Mereka bisa kok jadi pemain hebat. Yang penting diberi kesempatan dan dibina dengan benar,” ujar pria berdarah Maluku itu.
Meski mungkin belum terlalu akrab di telinga publik sepak bola nasional, Simon adalah figur besar di Eropa. Lahir di Vught, ia tumbuh sebagai bagian generasi emas Ajax Amsterdam yang mengusung filosofi sepak bola total ala Johan Cruijff. Filosofi yang sama kini perlahan ia terapkan dalam proses pembinaan talenta muda di Indonesia.
Perjalanan Panjang Simon TahamataSelepas gantung sepatu, Simon tidak pernah meninggalkan dunia sepak bola. Ia pernah dipercaya sebagai pelatih teknik di akademi Ajax, serta turut membina pemain muda di klub-klub besar seperti Feyenoord dan Royal Antwerp.
Kini, pengalamannya itu ia bawa untuk memberi warna baru pada pembinaan sepak bola Indonesia. Harapannya sederhana: agar anak-anak negeri sendiri bisa berkembang dan tampil percaya diri di panggung dunia, tanpa harus selalu berada di bawah bayang-bayang pemain asing.
(lam)