LANGIT7.ID-Jakarta; Gelombang elektrifikasi dan efisiensi produksi memaksa sejumlah agen pemegang merek (APM) di Indonesia melakukan pemangkasan model secara drastis. Tahun 2026 menjadi garis finis bagi beberapa kendaraan konvensional yang sebelumnya menjadi tulang punggung penjualan, seiring dengan peralihan fokus industri ke teknologi hibrida dan lokalisasi produk.
Transformasi Lini RS HondaHonda Prospect Motor (HPM) memulai langkah ini dengan memensiunkan HR-V 1.5 Turbo RS. Fokus performa kini dialihkan sepenuhnya ke teknologi hibrida melalui peluncuran HR-V RS e:HEV. Secara teknis, ini merupakan perubahan besar karena mesin turbo bertenaga 177 PS dan torsi 240 Nm digantikan oleh sistem hibrida dengan motor listrik yang menghasilkan torsi 253 Nm serta mesin bensin 106 PS.
Yusak Billy selaku Direktur Penjualan & Pemasaran HPM menyebutkan harga dan minat pasar menjadi faktor utama. "Sedikit ya HR-V kami juga kecil ya, karena mungkin harganya mahal ya, Rp 551 juta, yang turbo," jelasnya.
Eksklusivitas Hibrida pada Toyota VelozDi kubu Toyota, restrukturisasi dilakukan dengan menghapus opsi mesin bensin murni (ICE) pada model Veloz. Setelah kehadiran Veloz Hybrid di GJAW 2025, produksi versi non-hibrida resmi dihentikan. Strategi ini menciptakan pemisahan pasar yang tegas, di mana Veloz diposisikan khusus sebagai kendaraan elektrifikasi, sementara konsumen mesin bensin konvensional di segmen tersebut kini dipusatkan pada Toyota Avanza.
Lokalisasi dan Konsolidasi Suzuki serta CheryLangkah pembersihan portofolio paling agresif terlihat pada Suzuki. Pabrikan ini resmi menyuntik mati Karimun Wagon R pada November 2025 untuk pasar lokal dan ekspor. Selain itu, Baleno Hatchback juga ditarik dari pasar karena status impor CBU yang tidak lagi kompetitif. Sebagai gantinya, Suzuki mengandalkan Fronx yang diproduksi secara lokal di Cikarang untuk mengejar target efisiensi biaya.
Di sisi lain, Chery melakukan langkah serupa dengan menghentikan penjualan Tiggo 5X sejak Maret 2025. Pabrikan asal China ini memilih fokus pada Tiggo Cross yang memiliki rentang harga Rp 259,5 juta hingga Rp 289,5 juta. Model baru ini dianggap lebih relevan dengan permintaan pasar saat ini dibandingkan pendahulunya.
Seluruh perombakan ini menandai berakhirnya era mesin pembakaran murni di beberapa segmen strategis, memaksa konsumen untuk mulai beradaptasi dengan teknologi kendaraan yang lebih hijau dan pintar.
(lam)