LANGIT7.ID-Spanyol; Hanya ada sedikit perjalanan dalam sepak bola Spanyol yang terasa lebih "terlarang" daripada pindah dari Barcelona ke Real Madrid, atau sebaliknya.
Namun jalurnya tidak selalu lurus. Kadang melalui sengketa kontrak, penolakan perpanjangan, persinggahan di luar negeri, tim cadangan, atau tahun-tahun yang dihabiskan untuk membangun karier di tempat lain. Terlepas dari situasinya, setiap kali seorang pemain yang dibentuk oleh sekolah sepak bola Barça akhirnya mengenakan seragam putih, kisahnya menjadi lebih dari sekadar transfer.
Marc Cucurella adalah nama terbaru yang membuka percakapan itu. Real Madrid telah mendatangkannya dari Chelsea dengan kontrak enam tahun, menambah satu lagi produk akademi Barça ke dalam daftar yang "ditakuti" itu.
Tidak Semua Kasus Benar-Benar La MasiaHal pertama yang perlu diluruskan adalah fakta historis. Secara ketat, tidak semua pemain dalam daftar ini adalah lulusan La Masia dalam pengertian modern.
La Masia, sebagai akademi residen terkenal milik Barça, secara resmi didirikan pada tahun 1979, dengan sebuah rumah pertanian tua yang kemudian menjadi simbol sistem pembinaan muda klub. Hal ini penting ketika membahas figur-figur awal seperti Alfonso Albeniz, Josep Samitier, dan Justo Tejada.
Mereka adalah pemain Barça, dan dalam beberapa kasus merupakan figur muda atau bagian dari pembinaan, tetapi mereka tidak melalui La Masia seperti yang kita kenal sekarang. Semua kasus ini terjadi sebelum tahun 1962.
Meski begitu, logika emosionalnya tetap sama: pesepak bola berakar Barcelona kemudian menyeberang ke wilayah Real Madrid.
Albeniz adalah kasus pertama. Ia adalah pemain pertama yang bermain untuk Barça dan Real Madrid, dan kemudian juga menjabat sebagai direktur di Los Blancos.
Samitier lebih mengguncang. Ia bukan sekadar pemain Barça—ia adalah salah satu ikon besar pertama klub, dengan 504 pertandingan dan 364 gol. Sebagai salah satu pemain yang mendefinisikan klub di eranya, kepindahannya ke Madrid pada tahun 1933 bukan sekadar cerita akademi, tetapi pengkhianatan dalam skala besar.
Keberangkatan dari Akademi ModernPola yang lebih dikenal dari La Masia ke Madrid dimulai sejak tahun 1990.
Luis Milla pindah dari Barcelona ke Real Madrid pada tahun 1990 setelah sengketa kontrak, menjadi salah satu kasus pertama yang menonjol dari gelandang binaan Barça yang pindah ke Bernabeu.
Albert Celades menyusul satu dekade kemudian. Gelandang lain yang dididik dalam budaya posisional Barça, ia bergabung dengan Madrid pada tahun 2000 dan menjadi bagian dari ekosistem sepak bola yang berbeda.
Lalu ada Takefusa Kubo, kasus yang berbeda. Ia pernah menjadi salah satu talenta asing paling menjanjikan di La Masia sebelum sanksi FIFA memaksanya kembali ke Jepang. Ketika Real Madrid mendatangkannya pada tahun 2019, rasanya kurang seperti pengkhianatan langsung dan lebih seperti Madrid mengoleksi talenta yang pernah hilang kendali dari Barcelona.
Victor Munoz menambahkan variasi modern lainnya. Ia sempat menghabiskan waktu di akademi Barça sebelum pindah ke Madrid pada tahun 2021 dan bahkan melakukan debut di El Clasico tahun 2025, menggantikan Vinicius Jr.
Cucurella dan Makna di Balik Daftar IniKasus Cucurella mungkin adalah transfer paling "bersih" dan paling tidak langsung di antara kedua klub.
Ia berkembang di Barça, pergi mencari jalan yang lebih jelas, membangun diri melalui Eibar, Getafe, Brighton, dan Chelsea, dan kini tiba di Real Madrid sebagai bek kiri internasional yang mapan. Itulah mengapa cerita ini tidak boleh direduksi menjadi sekadar kemarahan. Cucurella tidak meninggalkan Barça untuk Real Madrid sebagai remaja yang mengejar balas dendam.
Ia pergi karena Barça memiliki rencana lain, dan karena sepak bola penuh dengan karier yang hanya bertahan ketika pemain mau menerima jalan memutar.
Daftar ini memang langka, tetapi juga mengungkapkan kebenaran yang tidak nyaman: identitas akademi tidak selalu menentukan jalan masa depan.
Barcelona bisa mencetak pemainnya. Real Madrid tetap bisa merekrut prianya. Cucurella bukan yang pertama dan bukan yang terakhir.
Yang bisa dilakukan klub Katalan itu adalah fokus pada pemain dan talenta mereka sendiri, serta tidak mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali mereka.(*/saf/barcauniversal)
(lam)