LANGIT7.ID-Jakarta; Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap paparan abu vulkanik yang telah terdeteksi mencapai wilayah Jakarta.
Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya berukuran sangat kecil dan dapat mengandung silika serta material kaca vulkanik yang bersifat abrasif. Jika terhirup atau mengenai bagian tubuh tertentu, abu vulkanik dapat menimbulkan gangguan kesehatan, terutama pada saluran pernapasan, mata, dan kulit.
Paparan abu vulkanik dapat menyebabkan keluhan seperti batuk, iritasi tenggorokan, sesak napas, serta memperburuk kondisi penyakit pernapasan seperti asma dan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK). Paparan juga dapat menimbulkan iritasi pada mata berupa perih, mata merah, dan rasa mengganjal. Pada kulit, abu dapat menyebabkan gatal dan iritasi.
Lindungi Diri dari Paparan Abu VulkanikDinkes DKI Jakarta mengimbau masyarakat untuk melakukan beberapa langkah perlindungan, terutama saat abu vulkanik berada di lingkungan sekitar:
* Batasi aktivitas di luar ruangan, terutama saat konsentrasi abu meningkat.
* Tutup rapat pintu dan jendela untuk mengurangi masuknya abu ke dalam rumah.
* Jika harus bepergian, gunakan masker KN95 atau N95 untuk membantu menyaring partikel halus.
* Gunakan kacamata pelindung untuk melindungi mata dari paparan abu.
* Setelah kembali ke rumah, mandi dan keramas serta segera mengganti pakaian.
* Cuci pakaian yang terpapar abu secara terpisah.
* Bila diperlukan, bilas mata dan hidung dengan air bersih.
Bersihkan Abu dengan Cara yang AmanMasyarakat yang melakukan pembersihan abu vulkanik di teras rumah, kendaraan, maupun lingkungan sekitar juga perlu memperhatikan perlindungan diri.
Sebelum membersihkan abu, gunakan masker, kacamata pelindung, sarung tangan, pakaian lengan panjang, dan sepatu tertutup. Perlengkapan tersebut membantu mengurangi risiko abu terhirup serta mencegah iritasi pada mata dan kulit.
Dinkes mengimbau masyarakat tidak menyapu abu dalam kondisi kering, karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel abu kembali beterbangan dan terhirup.
Sebelum menyapu, percikkan air secukupnya agar abu menjadi lebih berat dan tidak mudah beterbangan. Namun, hindari menyiram abu secara berlebihan karena abu yang menggumpal dapat menyumbat saluran air dan berpotensi menyebabkan genangan.
Setelah Membersihkan, Jangan Langsung BersantaiSetelah selesai melakukan aktivitas di lingkungan yang terpapar abu, masyarakat disarankan untuk:
* Melepaskan masker di luar ruangan sebelum masuk ke rumah.
* Mandi dan keramas.
* Mengganti seluruh pakaian.
* Mencuci pakaian yang terkena abu secara terpisah.
* Membilas mata dan hidung dengan air bersih.
* Mengonsumsi air putih yang cukup.
Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengingatkan masyarakat, khususnya anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit pernapasan seperti asma dan PPOK, untuk lebih berhati-hati terhadap paparan abu vulkanik.
Apabila mengalami keluhan seperti sesak napas, batuk yang semakin berat, nyeri dada, atau gangguan penglihatan, masyarakat diimbau segera mencari pertolongan medis di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
Lindungi diri, lindungi keluarga. Tetap waspada dan utamakan kesehatan selama kondisi abu vulkanik berlangsung.
(lam)