LANGIT7.ID, Jakarta,- - Perjalanan
KRL Jabodetabek sempat dihentikan sementara pada Sabtu (12/9/2026) pagi menyusul
gempa bumi yang mengguncang wilayah Pantai Timur Administrasi
Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Penghentian perjalanan dilakukan untuk memastikan kondisi jalur kereta api tetap aman setelah gempa bumi terjadi sekitar pukul 04.23 WIB.
"Perjalanan Commuter Line diberhentikan sementara waktu guna pengecekan jalur terlebih dahulu secara menyeluruh," tulis akun resmi KAI Commuter Line.
Baca juga: Gempa NTT: 4.597 Penyintas Dapat Bantuan Logistik, BMM Siapkan Dukungan LanjutanPemeriksaan jalur untuk lintas Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, dan Tanjung Priok rampung pada pukul 05.26 WIB. Sementara pemeriksaan lintas Tangerang selesai pada pukul 05.45 WIB.
Setelah seluruh jalur dinyatakan aman, perjalanan KRL Jabodetabek kembali beroperasi normal.
Gempa M6,5, Berpusat di Kepulauan SeribuBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (
BMKG) awalnya mencatat gempa berkekuatan magnitudo 5,9. Pusat gempa berada di koordinat 5,81 derajat Lintang Selatan (LS) dan 106,56 derajat Bujur Timur (BT), atau sekitar enam kilometer tenggara Kepulauan Seribu, DKI Jakarta.
Gempa tersebut memiliki kedalaman 376 kilometer dan tidak berpotensi tsunami.
BMKG kemudian memperbarui kekuatan gempa menjadi magnitudo 6,5 dengan kedalaman 368 kilometer.
Menurut BMKG, gempa dalam tersebut memicu guncangan yang terasa hingga wilayah yang cukup luas, mulai dari Yogyakarta, Jawa Timur, hingga Padang, Sumatera Barat.
Baca juga: Pemprov Sumatera Barat Kirim 2,2 Ton Rendang untuk Korban Gempa di NTTBerdasarkan estimasi peta tingkat guncangan (shakemap) dan laporan masyarakat, gempa dirasakan dengan intensitas IV MMI di Pandeglang, Lebak, Serang, Sukabumi, Cianjur, dan Tanggamus.
Guncangan dengan intensitas III MMI dirasakan di Tangerang, Tanjung Priok, Kecamatan Nagrak, Kecamatan Kalapanunggal, dan Cilacap.
Sementara itu, intensitas II-III MMI dilaporkan terasa di Rancaekek, Lembang, Garut, Kota Bandung, Yogyakarta, Pacitan, Ponorogo, Kabupaten Malang, Kota Bengkulu, Sumur, Padang, Mentawai, Pariaman, dan Solok Selatan.
Adapun intensitas II MMI dirasakan di Lemong, Semaka, dan Bengkunat.
BMKG menjelaskan gempa tersebut merupakan gempa akibat aktivitas penunjaman di dalam lempeng.
Berdasarkan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa diklasifikasikan sebagai gempa bumi dalam akibat aktivitas intraslab.
Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa memiliki mekanisme pergerakan geser turun atau oblique normal.
(est)