LANGIT7.ID-Yogyakarta; Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, menggarisbawahi bahwa budaya merupakan kekuatan lunak (soft power) untuk menguatkan sinergi negara Pasifik dengan Indonesia di tengah ketegangan geopolitik, krisis iklim, dan transformasi digital.
Hal tersebut disampaikan Menteri Fadli saat memberikan pidato kunci (keynote speech) pada seminar “Beyond Cultural Exchange” di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, sebagai rangkaian dari Indonesia–Pacific Cultural Connect (IPCC) 2026.
Dalam kesempatan tersebut, Menbud Fadli menegaskan bahwa seminar “Beyond Cultural Exchange” dalam IPCC 2026 merupakan komitmen Indonesia dalam memperkuat diplomasi budaya serta membangun kemitraan berkelanjutan bersama negara-negara di kawasan Pasifik.
Di tengah dinamika global yang tidak menentu, diplomasi budaya harus menempati posisi strategis sebagai infrastruktur kepercayaan dan ikatan kemanusiaan antarnegara.
“Kebudayaan harus dipandang sebagai kekuatan strategis atau soft power dalam membentuk kerja sama dan pembangunan internasional. Pengaruh internasional dapat diperkuat melalui daya tarik dan legitimasi, bukan melalui pemaksaan,” ucap Menteri Kebudayaan Fadli Zon di hadapan para delegasi, akademisi, dan praktisi budaya Indonesia dan Pasifik.
Komitmen Indonesia dalam menjalin sinergi dengan negara-negara Pasifik terwujud dalam sejumlah program kerja sama, yakni forum kebudayaan IPCC 2026 di Yogyakarta serta Indonesia-Pacific Cultural Synergy (IPACS) 2025 lalu di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Menbud Fadli menilai, program-program sinergi tersebut harus dilaksanakan secara berkelanjutan, seperti melalui residensi dan diskusi budaya.
Menteri Fadli melanjutkan, “Program residensi seniman antarnegara membawa keragaman tradisi melalui proses belajar bersama dan penciptaan karya seni kolaboratif.
Inilah transisi nyata yang menjadi tujuan bersama, di mana perjumpaan budaya menjadi jejaring budaya yang berkelanjutan. Selain itu, gelar seminar ini juga mengusung hubungan antara kebudayaan dan pembangunan berkelanjutan.”
Topik krisis iklim dan ancaman terhadap warisan budaya juga menjadi perhatian dalam diskusi “Beyond Cultural Exchange” IPCC 2026. Menbud menuturkan bahwa kenaikan permukaan air laut di Pasifik Barat Daya dan berbagai risiko iklim mengancam situs-situs warisan dunia serta ruang hidup leluhur. Pengetahuan tradisional maritim dan ekosistem pesisir dinilai sangat berharga untuk menyusun strategi adaptasi iklim.
“Bagi masyarakat Kepulauan Pasifik, warisan budaya, keberlanjutan lingkungan, dan ketahanan komunitas saling terhubung satu sama lain.
Ancaman-ancaman ini dapat menyebabkan kehilangan tradisi budaya, situs-situs sakral dan keberlangsungan komunitas. Oleh karena itu, kami turut menyerukan kerja sama dalam penelitian, dokumentasi, dan transmisi pengetahuan antargenerasi di kawasan Pasifik,” ungkap Menteri Kebudayaan.
Turut hadir dalam gelaran seminar “Beyond the Cultural Exchange”, yaitu Minister for Multi Ethnic Affairs, Heritage & Art of Republic of Fiji, Charan Jeath Singh; Charge d’Affaires of Embassy of the Independent State of Papua New Guinea, Gregory Hombuahin; Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk; Dekan Fakultas Ilmu Budaya Univeritas Gajah Mada, Nur Saktiningrum; beserta jajaran civitas akademika; delegasi negara sahabat, pelaku budaya; serta peserta delegasi IPCC 2026. Turut hadir mendampingi Menteri Kebudayaan, di antaranya Direktur Jenderal Diplomasi, Promosi dan Kerja Sama Kebudayaan, Endah T.D. Retnoastuti; Penasihat Menteri Bidang Pengembangan Strategi dan Optimalisasi Pengelolaan Museum, Putu Supadma Rudana; Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Industri Kebudayaan, Anindita Kusuma Listya; serta jajaran pejabat di lingkungan Kementerian Kebudayaan.
Kementerian Kebudayaan menetapkan lima agenda praktis kerja sama dalam rangka agenda diplomasi kebudayaan yang kontinu, yakni memperkuat jejaring budaya yang berkelanjutan; transmisi pengetahuan dan kapasitas; kolaborasi industri kreatif; memperkuat kerja sama; serta memastikan keberlanjutan dan hasil kerja yang terukur.
Sebagai anggota Komite Antar-Pemerintah UNESCO untuk Perlindungan Warisan Budaya Takbenda (2026–2030) mewakili Kelompok Asia-Pasifik, Indonesia menegaskan kesiapannya menjadi jembatan kebudayaan.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Indonesia terus berkomitmen untuk bekerja berdampingan dengan mitra negara Pasifik, memperkuat perspektif satu sama lain, dan berkontribusi bersama dalam dialog budaya internasional sebagai mitra yang setara.(*/zd)
(lam)