Langit7.id - Dakwah, Al-Quran, Berita Terkini dan Tafsir
Dapatkan Update berita LANGIT7.ID
melalui notifikasi browser Anda.
kalender Kamis, 29 Oktober 2026
home wirausaha syariah detail berita

Pemuda sebagai Generasi Penggerak Ekonomi Syariah: Dari Ikrar Persatuan 1928 Menuju Ikhtiar Keadilan Ekonomi

tim langit 7 Kamis, 29 Oktober 2026 - 17:30 WIB
Pemuda sebagai Generasi Penggerak Ekonomi Syariah: Dari Ikrar Persatuan 1928 Menuju Ikhtiar Keadilan Ekonomi
Prof. Euis Amalia mengajak generasi muda memaknai Sumpah Pemuda dengan memperkuat literasi, inovasi, dan peran nyata dalam pengembangan ekonomi syariah Indonesia.

Oleh: Prof. Dr. Euis Amalia M.Ag
(Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

LANGIT7.ID-Sejarah bangsa ini mencatat bahwa titik balik terpenting dalam perjalanan keindonesiaan justru diprakarsai oleh mereka yang belum lagi matang usia. Pada 28 Oktober 1928, para pemuda dari berbagai penjuru Nusantara berhimpun di Batavia dan mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa. Mereka tidak menanti kemerdekaan sebagai anugerah; mereka menjemputnya dengan kesadaran, keberanian, dan imajinasi tentang masa depan.

Hampir satu abad berselang, pertanyaan yang patut kita renungkan bukan lagi apakah pemuda sanggup mengubah keadaan, melainkan ikrar macam apa yang semestinya mereka ucapkan hari ini.

Hemat saya, salah satu jawabannya adalah ikrar untuk menghidupkan tatanan ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan bermartabat, yakni ekonomi syariah.
Paradoks di Negeri Muslim Terbesar
Indonesia sejatinya memiliki hampir seluruh prasyarat untuk tampil sebagai episentrum ekonomi syariah global: populasi muslim terbesar di dunia, pasar domestik yang luas, serta arah kebijakan yang kian berpihak.

Namun, statistik kita masih menyimpan paradoks yang tak dapat diabaikan. Aset perbankan syariah memang tumbuh dua digit, tetapi pangsa pasarnya per 2026 baru berkisar 7,26 persen, bahkan sedikit menyusut dibandingkan setahun sebelumnya. Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026 pun mencatat indeks literasi keuangan syariah sebesar 43,07 persen dan indeks inklusinya hanya 13,24 persen; keduanya justru melandai dari capaian 2025. Padahal, pada saat yang sama, literasi keuangan nasional telah menembus 69,57 persen dan inklusinya 93,61 persen.
Angka-angka itu menyampaikan pesan yang terang. Ekonomi syariah telah dikenal, tetapi belum digunakan; dikagumi sebagai gagasan, tetapi belum menjelma menjadi gaya hidup. Jarak antara mengetahui dan mempraktikkan inilah yang paling layak dijembatani oleh generasi muda.

Mengapa Pemuda?
Badan Pusat Statistik mencatat sekitar 66,83 juta pemuda berusia 16–30 tahun pada 2025, atau kurang lebih seperlima penduduk Indonesia. Mereka bukan sekadar deret angka demografis. Inilah generasi yang tumbuh bersama gawai, fasih bertransaksi tanpa uang tunai, membangun usaha dari layar ponsel, dan kian peka terhadap persoalan etika, keadilan, serta keberlanjutan.

Nilai-nilai yang mereka junjung, seperti transparansi, kepedulian sosial, dan tanggung jawab ekologis, sesungguhnya bersenyawa dengan jantung maqashid syariah: hifdz ad din, hifdz an nafs, hifdz al ‘aql, hifdzu al mal, hifdz an nasl demi kemaslahatan bersama.

Dengan demikian, ekonomi syariah tidak perlu dipasarkan kepada kaum muda sebagai sesuatu yang asing. Ia cukup dihadirkan kembali sebagai jawaban atas kegelisahan mereka sendiri terhadap sistem ekonomi yang terlampau sering berpihak pada segelintir orang.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah telah lama mengingatkan bahwa hal paling fundamental bagi suatu peradaban amat ditentukan oleh daya juang generasinya yaitu sumber daya manusia (SDM) yang produktif. Jendela bonus demografi yang kini kita miliki tidak akan terbuka selamanya hanya sekitar 10 hingga 12 tahun saja.

Jika dalam dua dasawarsa mendatang pemuda tidak tampil sebagai pelaku utama, peluang emas itu dapat berlalu tanpa meninggalkan jejak berarti.

Empat Peran Strategis

Setidaknya terdapat empat peran yang dapat, dan sepatutnya, diemban oleh pemuda. Pertama, sebagai pencerah literasi. Kaum muda adalah komunikator paling efektif bagi sebayanya; penjelasan tentang akad-akad syariah seperti mudharabah, murabahah, ijarah muntahiyah bit tamlik, al ijrah mausufah fi dzimmah, zakat produktif, wakaf uang (cash waqf), fiskal Islam, kebijakan moneter Islam, halal value chain dan isu ekonomi Islam lainnya yang dikemas secara jujur, ringkas, dan dekat dengan keseharian kerap lebih menggugah ketimbang seminar yang serba formal.

Kedua, sebagai inovator. Teknologi finansial syariah, platform zakat dan wakaf digital, hingga sistem ketertelusuran rantai pasok halal menuntut kreativitas generasi yang akrab dengan teknologi.

Ketiga, sebagai wirausahawan. Industri halal, dari pangan, busana muslim, dan kosmetik hingga pariwisata ramah muslim, merupakan medan ekonomi riil yang amat luas. Di sanalah ekonomi syariah beranjak dari ruang kuliah dan neraca perbankan menuju pasar dan dapur rumah tangga.

Keempat, sebagai profesional sekaligus penjaga integritas. Industri ini memerlukan dewan pengawas syariah, auditor syariah, analis risiko, dan regulator muda yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga teguh memastikan bahwa label syariah tidak berhenti sebagai kosmetik.

Keempat, peran tersebut tidak harus diawali dengan langkah besar. Mahasiswa yang mengajak kawan-kawannya beralih ke layanan keuangan syariah, santri yang membantu koperasi pesantrennya menata pembukuan secara digital, atau pengusaha muda yang memilih skema bagi hasil (profit sharing) untuk membesarkan usahanya, semuanya merupakan bagian dari gerakan yang sama.

Ekonomi syariah tumbuh bukan semata karena kebijakan dari atas, melainkan juga karena jutaan keputusan kecil dari bawah yang konsisten dan saling menguatkan.

Ujian Sesungguhnya

Kualitas Insani
Dari sudut pandang pengembangan sumber daya insani, persoalan pokok kita bukanlah kelangkaan semangat, melainkan kesenjangan kompetensi. Di satu sisi, tidak sedikit lulusan program studi ekonomi syariah yang menguasai konsep ekonomi syariah dengan baik, tetapi belum siap menghadapi tuntutan industri yang kian digital dan bertumpu pada data. Di sisi lain, banyak profesional keuangan yang andal secara teknis, namun pemahamannya atas prinsip syariah masih terbatas. Walhasil, industri mengeluhkan sulitnya memperoleh talenta, sementara para lulusan kesulitan menemukan tempat berkiprah.
Yang kita perlukan adalah insan-insan "dwibahasa": fasih membaca akad sekaligus fasih membaca data; memahami dalil seraya memahami pasar.

Talenta semacam ini tidak lahir dengan sendirinya. Ia harus dirancang secara sadar melalui kurikulum berbasis kompetensi, dan saat ini lebih dikembangkan kurikulum berbasis outcome (OBE), sertifikasi profesi yang diakui industri, program magang yang terstruktur, serta riset terapan yang menjawab persoalan nyata para pelaku usaha dan dunia industri.
Dari Penonton Menjadi Penggerak
Karena itu, ikhtiar menghidupkan ekonomi syariah menuntut kerja kolektif. Perguruan tinggi perlu mendekatkan kurikulum dengan denyut kebutuhan industri.

Industri perlu membuka pintu lebih lebar bagi talenta muda, bukan sekadar sebagai peserta pelatihan, melainkan sebagai mitra inovasi. Regulator perlu menyediakan ruang uji coba yang kondusif bagi gagasan-gagasan baru.

Adapun organisasi profesi seperti Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) mengemban amanah sebagai jembatan yang menautkan akademisi, praktisi, dan regulator, sekaligus menyiapkan jalur pengembangan kompetensi dan kepemimpinan bagi para ekonom muda.

Satu hal yang tak kalah penting: pemuda harus diberi ruang kepemimpinan yang sejati. Terlalu sering kaum muda dilibatkan sebatas pelengkap seremoni, sementara keputusan strategis tetap dirumuskan tanpa suara mereka. Generasi yang dipercaya memikul tanggung jawab akan tumbuh menjadi penggerak; generasi yang hanya diberi panggung akan tetap menjadi penonton.

Kepada kaum muda sendiri diharapkan jangan berhenti pada semangat. Ekonomi syariah bukan sekadar label, tren, atau penanda identitas. Ia adalah sistem nilai yang menuntut kejujuran, keadilan, dan kesungguhan dalam praktik.

Pemuda senantiasa berpikir kritis, yang berani mempertanyakan apakah sebuah produk sungguh adil dan membawa maslahat, justru merupakan penjaga terbaik masa depan ekonomi syariah.
Ikrar Baru Generasi Penggerak
Para pemuda 1928 mempersatukan bangsa yang tercerai-berai oleh sekat kedaerahan.

Pemuda hari ini menghadapi tantangan yang berbeda, tetapi tak kalah mendesak: ketimpangan, merosotnya kepercayaan terhadap sistem ekonomi, dan kebutuhan akan pembangunan yang berkeadilan. Bila pemuda adalah nadi penggerak zaman, denyutnya harus terasa di ruang-ruang nyata: di kampus, pesantren, di pasar dan desa, di aplikasi digital hingga ruang rapat direksi.
Sumpah Pemuda mengajarkan bahwa perubahan besar senantiasa berawal dari keberanian anak muda untuk bersepakat tentang masa depan bersama.

Kini saatnya pemuda Indonesia bersepakat sekali lagi: bahwa ekonomi syariah bukan milik segelintir pakar atau lembaga, melainkan gerakan peradaban yang mesti dihidupkan bersama. Bukan esok, bukan nanti, melainkan sejak hari ini.(penulis selain Guru Besar Ekonomi Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga Ketua Bidang SDM Ekonomi Syariah, DPP Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI).

(lam)
  • Bagikan Artikel Ini :
TOPIK TERKAIT
jadwal-sholat
Jadwal Sholat
JAKARTA, Kamis 29 Oktober 2026
Imsak
04:00
Shubuh
04:10
Dhuhur
11:40
Ashar
14:53
Maghrib
17:49
Isya
19:00
Lihat Selengkapnya
right-3 (Desktop - langit7.id)
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan
قُلْ يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَالَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَاۤءٍۢ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ اَلَّا نَعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْـًٔا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَابًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَنَّا مُسْلِمُوْنَ
Katakanlah (Muhammad), “Wahai Ahli Kitab! Marilah (kita) menuju kepada satu kalimat (pegangan) yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling maka katakanlah (kepada mereka), “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang Muslim.”
QS. Ali 'Imran:64 Langit 7 Cahaya Menuju Kebaikan