LANGIT7.ID-Jakarta;Isu Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) Partai Golkar kembali mencuat. Kali ini, sebuah poster digital bergambar Wakil Ketua Umum Golkar, Ahmad Doli Kurnia Tanjung, beredar di media sosial X. Poster tersebut memuat narasi "Selamatkan Partai Golkar dari Gang Solo" sekaligus mencantumkan nama Doli sebagai calon ketua umum.
Beredarnya poster tersebut langsung mendapat bantahan dari sejumlah pengurus Partai Golkar. Mereka menegaskan tidak mengetahui adanya rencana Munaslub maupun keretakan di internal partai berlambang pohon beringin tersebut.
Isu Munaslub Golkar sebenarnya bukan kali pertama muncul. Pada 5 Agustus 2025, kabar serupa juga sempat beredar. Saat itu, muncul klaim bahwa Istana telah memberikan restu untuk menggeser Bahlil Lahadalia dari posisi ketua umum.
Nama Nusron Wahid bahkan sempat disebut telah dipanggil ke Hambalang untuk membahas agenda Munaslub sebelum 2026. Namun, isu tersebut tidak berlanjut.
Doli Bantah Terlibat Ahmad Doli Kurnia Tanjung dengan tegas membantah keterlibatannya dalam penyebaran poster yang mencatut namanya. Ia mengaku tidak mengetahui adanya isu Munaslub yang tengah menjadi perbincangan publik.
"Berkenaan dengan beredarnya flyer yang berisi isu adanya Munaslub yang akan digelar 29 November 2026, saya ingin menyampaikan bahwa saya tidak ada kaitannya, bahkan tidak tahu-menahu soal penyebaran isu tersebut," kata Doli dalam keterangannya, Sabtu (7/11/2026).
Doli menegaskan bahwa dirinya selalu mengedepankan pendekatan konstitusional dan institusional dalam berorganisasi. Ia juga memahami tata cara berorganisasi sebagaimana diatur dalam AD/ART dan peraturan partai.
"Begitu juga secara institusional, saya sangat mengerti struktur dan hierarki kewenangan serta tanggung jawab dalam berorganisasi dan berpartai," tuturnya.
Ia juga menegaskan hubungannya dengan Bahlil Lahadalia selama ini berjalan baik, harmonis, dan saling menghormati.
Menurut Doli, keduanya telah berkoordinasi dan memahami bahwa dalam dinamika politik saat ini selalu ada pihak yang berupaya memperkeruh suasana demi kepentingan tertentu.
"Saya sudah dapat mendeteksi pihak-pihak 'komprador' tersebut, yang berasal dari dalam internal kami sendiri. Dan saya mau sampaikan kepada kalian, jangan ganggu Golkar dengan agenda-agenda kerdil kalian," ujarnya.
Sarmuji: Isu Apa Itu? Sekretaris Jenderal Partai Golkar, Sarmuji, juga membantah isu Munaslub tersebut.
Dengan nada santai, ia menanggapi kabar itu saat memberikan sambutan dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Bidang Media dan Penggalangan Opini serta Seminar dan Lokakarya (Semiloka) Kecerdasan Buatan (AI) Partai Golkar di Kantor DPP Partai Golkar, Slipi, Jakarta, Jumat (6/11/2026) malam.
"Alah, isu opo (isu apa itu)," kata Sarmuji singkat.
Bahlil: Saya Sudah Tahu
Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, mengaku telah mengetahui beredarnya flyer yang diduga disebarkan oleh pihak yang tidak loyal kepadanya. Ia menyebut selebaran tersebut sebagai hoaks yang sengaja dibuat untuk memancing keributan.
"Ada juga flyer hoaks-hoaks yang mau bikin macam-macam itu loh. Abuleke kelas tinggi lagi ini. Saya sudah tahu orang-orang itu," kata Bahlil saat menghadiri pelantikan DPD I Partai Golkar Maluku di Ambon. Pernyataan tersebut disiarkan melalui kanal YouTube Kabar Golkar, Sabtu (7/11/2026).
Istilah "abuleke" dalam bahasa Ambon berarti pembohong atau munafik. Bahlil pun memperingatkan pihak di balik selebaran tersebut bahwa dirinya memahami dinamika dan intrik politik semacam itu.
"Om suka itu. Kanda paham, kanda paham itu," katanya.
Setelah menyinggung selebaran yang tidak diperincinya secara spesifik, Bahlil berbicara mengenai loyalitas dan pengkhianatan. Ia menyinggung karakter masyarakat Indonesia Timur yang menurutnya identik dengan sikap loyal, setia, dan taat kepada pemimpin.
"Ini pengkhianat, politik divide et impera. Tapi saya sudah tahu," ujar Bahlil.
Bahlil mengaku telah memahami taktik yang digunakan pihak-pihak di balik selebaran tersebut.
"Adik, kau baru mau tulis, kakak sudah baca. Saya sudah tahu gaya-gayanya," tutupnya.
(/saf)*
(lam)